<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245848731703060805</id><updated>2011-11-15T03:42:30.095-08:00</updated><category term='reportase'/><category term='green lifestyle'/><category term='pertanian'/><category term='vegetasi'/><category term='kata pembuka'/><category term='sampah'/><category term='sosok'/><category term='artikel'/><category term='vegetarianism'/><category term='global warming and climate change'/><category term='satwa'/><category term='solusi'/><category term='konservasi'/><category term='pengalaman'/><category term='health'/><category term='kebijakan'/><category term='kerusakan lingkungan'/><category term='bencana alam'/><title type='text'>ijoroyoroyo</title><subtitle type='html'>sebuah upaya untuk mencintai, memperbaiki, dan menyelamatkan lingkungan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245848731703060805/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Alam Hijau</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16017713605066180734</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TABuawTZKHI/AAAAAAAAAEg/yF3pBdp5Wgs/S220/13642_102888239738321_100000514361875_77689_8304252_n.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>14</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245848731703060805.post-7072305810351207190</id><published>2011-02-09T03:23:00.001-08:00</published><updated>2011-02-09T03:36:48.327-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='global warming and climate change'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='health'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='green lifestyle'/><title type='text'>Kesehatan, Investasi yang Harus Diperjuangkan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TVJ7-lpId5I/AAAAAAAAAKI/r6-Bhbo63GA/s1600/163294_192096570817487_100000514361875_696455_5133862_n.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 154px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TVJ7-lpId5I/AAAAAAAAAKI/r6-Bhbo63GA/s200/163294_192096570817487_100000514361875_696455_5133862_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5571652004197463954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;If the whole world adopts vegetarianism, it can change the destiny of humankind."—Albert Einstein&lt;/em&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kenapa  saya harus menjaga kesehatan mulai dari sekarang, kenapa saya harus  menjadi seorang vegetarian mulai dini, karena alasan kesehatan jangka  panjang, karena merawat kesehatan merupakan bentuk investasi yang harus  dimulai sejak dini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya tidak ingin sakit-sakitan pada  suatu saat nanti, terutama ketika usia sudah senja. Karena kalau  sakit-sakitan, saya akan menjadi beban keluarga, terutama istri, anak,  cucu, dan kerabat dekat lainnya. Istri harus repot-repot meluangkan  waktu lebih banyak untuk merawat saya. Dia harus mengalami tekanan  psikologis, harus menanggung perasaan sedih, juga terganggu tidurnya,  karena harus memikirkan saya. Dia harus menggunakan tenaganya lebih  banyak lagi, karena harus merawat dan menggantikan pekerjaan yang  menjadi tugas pribadi saya. Dia harus merelakan resources-nya (hartanya)  untuk membiayai pengobatan saya. Dia harus tidak enak makan dan tidur,  teringat adanya beban melelahkan karena kondisi saya. Semuanya serba  saya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak hanya istri saya, barangkali anak dan cucu  saya, akan tersita sebagian waktunya, tenaganya, juga pikirannya karena  harus wira-wiri menjenguk ayahandanya atau kakeknya yang harus menginap  di rumah sakit atau panti kesehatan. Mereka pasti akan mengeluh,  meskipun dalam hati saja, karena ketidaknyamanan itu, karena bau badan  ayah/kakeknya, yang pasti semakin mengganggu ketika sedang  sakit-sakitan. Keceriaan mereka pastilah akan berkurang, bahkan bisa  hilang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sanak saudara, tetangga, dan kenalan-kenalan lain  pasti juga akan terusik, meskipun tidak sebanyak dan seberat apa yang  ditanggung istri, anak, dan cucu-cucu saya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kenyamanan  hidup sepanjang sejarah kehidupan saya nanti, juga menjadi pertimbangan  utama dalam misi pengendalian diri itu. Andaikan, saya bisa menjadi  orang dengan kebebasan finansial yang luar biasa nanti, tetap saja, saya  tidak percaya bahwa uang akan mampu membeli kenyamanan dari "hidup  sehat", dan uang juga tidak akan bisa menjauhkan kita dari penyakit,  bisa jadi sebaliknya, karena godaan konsumsi. Benar, kemampuan financial  itu memungkinkan kita untuk mendapatkan perawatan medis atau dukun  terbaik, tetapi apakah jejak-jejak luka fisik dan psikologis yang  ditinggalkan oleh derita penyakit bisa tanpa bekas? Saya kira tidak.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan  pertimbangan-pertimbangan itulah, saya menjadi semakin termotivasi dan  kekeh untuk meningkatkan gaya hidup yang sehat. Saya akan tetap rajin  berolah-raga, berusaha untuk semakin perhatian dan selektif pada apa  yang saya makan dan minum. Dengan terus mengamalkan gaya hidup  vegetarian, paling tidak saya yakin bahwa itu adalah cara paling  rasional, mudah, dan murah, di tengah semakin dasyatnya gelombang budaya  konsumerisme yang "menjelomprongkan" kita, dan saya percaya kebiasaan  baik itu akan menjaga kesehatan dalam jangka panjang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kenapa Harus "Emoh" Daging?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut  beberapa cerita teman sesama vegetarian dan vegan, juga menurut  pendapat para ahli gizi (nutritionists) dan pakar kesehatan, yang telah  menebarkan artikel-artikel kesehatan di media massa dan buku bacaan,  bahwa pola diet vegetarian dan vegan, dinilai sangat handal dalam  memperbaiki, meningkatkan, dan kemudian menjaga kualitas kesehatan  manusia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut teori mereka, ada banyak jenis penyakit  yang bisa dihindari ketika kita menganut pola diet vegetarian,  diantaranya adalah aneka jenis kanker. Banyak studi yang berujung pada  kesimpulan serupa bahwa konsumsi daging, terutama daging merah,  meningkatkan resiko penyakit kanker, baik kanker payudara, kaker  pankreas, kanker prostat, kanker kolon, dan kanker-kanker jenis lain.  Hal itu dikarenakan, selain daging merah tinggi kandungan lemaknya,  beberapa jenis hormon juga kerap ditambahkan oleh peternak guna  mendongkrak produktivitas peternakannya, baik melalui pakan ternak  instan maupun dengan cara injeksi. Padahal hormon tersebut memicu  berjangkitnya sel-sel kanker ketika masuk dalam tubuh manusia. Selain  itu, daging sangat tinggi kandungan proteinnya, sedangkan protein akan  memecah amonia yang bersifat karsinogen. Seperti kita tahu bahwa zat  karsinogen merupakan biang penyemai kanker yang paling laten.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak  itu saja, hasil riset juga mengungkap bahwa konsumsi daging juga turut  mereduksi asupan serat, antioksidan, dan nutrisi penting lainnya.  Padahal serat dan antioksidan terbukti ampuh dalam menangkal munculnya  benih sel kanker. Sialnya lagi, kegemaran orang memasak daging dengan  cara dibakar atau dimasak dengan suhu yang tinggi juga menyisakan residu  berupa senyawa kimia karsinogen seperti polycyclic aromatic  hydrocarbons dan hetercycil amines yang juga memicu penyakit kanker  (KOMPAS.com, 16/01/2010). Sehingga tidak mengejutkan ketika beberapa  studi yang mengkaji populasi orang Eropa di era 1990-an, menegaskan  sebuah kesimpulan bahwa mereka yang sering mengkonsumsi daging lebih  banyak terjangkiti kanker ketimbang mereka yang vegetarian.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Fakta-fakta  yang mengkaitkan konsumsi daging dengan prevalensi berjangkitnya  kanker, juga telah dibuktikan dengan riset yang lebih meyakinkan, yakni  riset yang digelar di Inggris selama 12 tahun, yang melibatkan 6.000  pelaku vegetarian dan 5.000 penyantap daging. Studi itu mengungkap bahwa  pelaku vegetarian yang meninggal karena kanker 40% lebih sedikit  dibandingkan dengan pemakan daging, sedangkan yang meninggal karena  penyakit lain juga 20% lebih sedikit (The Guardian, 07/2009). &lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Konsumsi  daging, terutama daging merah, apalagi yang sudah diawetkan, juga  berkorelasi positif dengan meningkatnya kadar lemak dan kolesterol jahat  dalam darah kita, sedangkan tingginya kadar lemak dan kolesterol jahat  tersebut berbanding lurus dengan berjangkitnya beberapa penyakit  degeneratif, termasuk stroke, gagal jantung, kencing manis (diabetes),  dan serangan ginjal, meskipun masih banyak faktor lain yang turut  mempercepat munculnya penyakit degeneratif tersebut. Namun demikian,  menghindari daging akan mengurangi secara signifikan resiko  penyakit-penyakit fatal tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karakter daging  yang tak berserat (non fiber) sudah pasti akan menambah potensi  penumpukan kalori yang berlebihan, sehingga meningkatkan resiko  obesitas. Selain itu, rendahnya kadar fiber akan memicu terjadinya  gangguan sembelit, yang apabila berlansung secara terus-menerus (dalam  jangka panjang) akan menyebabkan penyakit wasir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Makanan  hewani juga mempertinggi prevalensi penularan penyakit-penyakit yang  dibawa atau ditularkan oleh binatang, seperti sapi gila, antrax,  salmonella, flu babi, flu burung, E-colie, cacing pita, dan parasit  lainya. Tidak itu saja, beberapa jenis limbah pencemaran seperti logam  berat dan pestisida buatan biasanya terakumulasi dalam tubuh hewan yang  tersimpan aman bersama lemak dan bagian organ tertentu, sehingga  menkonsumsinya sama artinya dengan memindahkan timbunan polutan ke dalam  tubuh kita. Kalau sudah seperti itu, gangguan kesehatan tinggal  menunggu waktu, bahkan akan mengancam jiwa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penyakit  osteoporosis juga menjadi ancaman serius bagi meat-eaters. Hal ini  dikarenakan, dalam proses pencernaannya daging akan menghasilkan zat  asam tertentu, yang pada akhirnya akan bersemayam di dalam tulang,  sehingga memicu pelepasan kalsium tulang. Nah, berkurangnya kalsium  dalam tulang akan berdampak pada turunya massa tulang, yang pada  gilirannya akan menyebabkan osteoporosis. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagi  wanita yang vegetarian, mereka akan diuntungkan dengan tingginya  konsumsi sayur dan buah-buahan, serta biji-bijian atau kacang-kacangan,  termasuk kedelai, yang sangat kaya akan fito-estrogen, yaitu senyawa  yang memiliki karakter layaknya hormon estrogen, yang bermanfaat untuk  mencegah gangguan penyakit menjelang masa menopause, seperti emosi  menjadi tidak terkendali, perasaan tidak nyaman, dan tubuh terasa  sakit-sakit. Itulah kenapa, banyak yang menyebut bahwa makanan dari  bahan kedelai merupakan sumber doping estrogen yang alamiah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Longevity&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Fakta  yang paling istemewa tentang pola konsumsi vegetarian dan vegan adalah,  bahwa mereka yang taat dengan diet “emoh” daging akan mendapatkan bonus  kehidupan yang lebih panjang (longevity), dengan kualitas kesehatan  prima atau panjang umur namun tetap sehat. Ini telah dibuktikan dengan  banyak riset, salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh tim  peneliti dari Loma Linda University USA. Berdasarkan temuan mereka,  orang vegetarian akan hidup 15 tahun lebih lama dibandingkan dengan  mereka yang meat-eaters (American Journal of Clinical Nutritio;  September 2003).&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TVJ7-swu_yI/AAAAAAAAAKA/6nKnEHreaTw/s1600/163843_192096207484190_100000514361875_696450_7529018_n.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TVJ7-swu_yI/AAAAAAAAAKA/6nKnEHreaTw/s200/163843_192096207484190_100000514361875_696450_7529018_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5571652006108397346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Adanya kantong-kantong centenarian,  komunitas orang yang berumur lebih dari seratus tahun, di beberapa  tempat di belahan bumi, seperti di daerah Okinawa (Jepang), Sardina  (Italia), dan juga Loma Linda (Califormia), yang menurut hasil  penelitian, diduga karena mereka cenderung hidup vegetarian, bijak  terhadap alam lingkungan, dan punya relasi horisontal dan vertikal  secara baik, menambah kuatnya argumentasi tentang peran vegetarianisme  dalam menjaga kesehatan di masa senja (National Geographic, November  2005).&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Eventually, fakta-fakta terangkai diatas, telah  menolong dan menguatkan saya untuk tetap setia pada keyakinan awal,  bahwa kesehatan adalah masa depan, sangat bernilai, layaknya cita-cita  atau impian yang harus terus diperjuangkan, sehingga mengupayakan  kesehatan merupakan bentuk investasi, yang layak dijaga dan  diperjuangkan. Saya memilih jalan vegetarian, demi memperjuangkan  investasi masa depan saya.***&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245848731703060805-7072305810351207190?l=yulinolpitu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/feeds/7072305810351207190/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/2011/02/kesehatan-investasi-yang-harus.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245848731703060805/posts/default/7072305810351207190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245848731703060805/posts/default/7072305810351207190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/2011/02/kesehatan-investasi-yang-harus.html' title='Kesehatan, Investasi yang Harus Diperjuangkan'/><author><name>Alam Hijau</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16017713605066180734</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TABuawTZKHI/AAAAAAAAAEg/yF3pBdp5Wgs/S220/13642_102888239738321_100000514361875_77689_8304252_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TVJ7-lpId5I/AAAAAAAAAKI/r6-Bhbo63GA/s72-c/163294_192096570817487_100000514361875_696455_5133862_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245848731703060805.post-5043994423663170546</id><published>2011-01-14T16:33:00.001-08:00</published><updated>2011-01-14T16:40:08.256-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='global warming and climate change'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='solusi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='green lifestyle'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='vegetarianism'/><title type='text'>Sejarah Singkat dan Mengapa Saya Vegetarian</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TTDsGH2ziPI/AAAAAAAAAJc/DpPSCuUnP_o/s1600/Green%2BChiempoel.png"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 178px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TTDsGH2ziPI/AAAAAAAAAJc/DpPSCuUnP_o/s200/Green%2BChiempoel.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5562205129734850802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sedari dulu, terutama ketika sudah mengenyam bangku sekolah, saya  lebih tertarik mata pelajaran olah-raga dan kesehatan. Karenanya, ketika  bertemu dengan bahan bacaan seperti koran dan majalah, artikel atau  tulisan yang bicara tentang kesehatan akan saya sambangi lebih dini.  Apalagi kalau waktunya terbatas, praktis hanya jenis informasi seperti  itu yang saya nikmati.&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Akhir tahun 1998 saya mulai bekerja  di sebuah lembaga non-profit di Yogyakarta. Di lembaga itulah saya  kemudian berinteraksi dengan seorang teman kerja yang sedari kecil sudah  tidak suka daging, tetapi masih toleran terhadap konsumsi bakso dan  makanan olahan lain yang masih menggunakan daging sebagai bahan  campuran. Sedangkan untuk menu daging murni dia sama sekali tidak bisa  memakannya. Saya dan teman-teman kerja menyebutnya sebagai seorang  vegetarian, namun dia sendiri mengaku bukan penganut vegetarian.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain  dia, masih ada seorang teman lagi yang saat itu sudah vegetarian selama  tujuh tahun. Akan tetapi dia sudah berhenti menjadi vegetarian, karena  alasan khusus yang saat itu tidak disampaikan kepada saya. Namun, dia  masih bersemangat untuk menularkan pengetahuannya tentang pilihan hidup  yang selama tujuh tahun terakhir dia lakoni dengan penuh dedikasi.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dua  teman baik tersebut rupanya, telah memberikan inspirasi pada saya untuk  mencari-cari informasi tentang vegetarianisme. Memang, sebelumnya  pengatahuan saya tentang bahasan itu sangatlah minim. Nah, kebetulan  pada saat itu lembaga kami mulai menyediakan fasilitas akses internet,  meskipun masih sangat terbatas, sehingga kami harus bergantian dalam  memanfaatkannya. Kesempatan yang sangat terbatas tersebut saya  manfaatkan untuk terus mencari artikel-artikel tentang kesehatan dan  vegetarianisme.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada perkembangan selajutnya, semakin  banyak membaca artikel tentang kesehatan, kesadaran saya terhadap  pentingnya gaya hidup sehat semakin menguat. Hingga kira-kira mulai  pertengahan 1999, saya mulai mengurangi konsumsi daging, terutama jenis  daging yang dianggap sangat berbahaya bagi kesehatan kita jangka  panjang. Nah, sejak saat itu saya mulai  emoh jenis bahan pangan hewani  tertentu, seperti daging yang berwarna merah, jerohan, kulit, sumsum,  otak, lemak-lemakan, kuning telur, daging yang dibakar, dst. dan  cenderung memilih bahan pangan nabati seperti tahu, tempe, sayur-sayuran  dan buah-buahan. Apabila terpaksa harus makan produk pangan hewani saya  selalu memilih jenis ayam kampung dan ikan-ikanan sebagai pengganti  lauk-pauk. Alasanya, waktu itu banyak ahli kesehatan yang menyebutkan  bahwa daging ikan lebih sehat dibandingkan dengan daging lainnya, karena  daging ikan dinilai lebih rendah kadar lemak dan kolesterolnya. Jadi,  saya mengkonsumsi daging jauh lebih jarang dari tahun-tahun sebelumnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TTDs1A9fJvI/AAAAAAAAAJ0/k06LTQsML3o/s1600/spring_vegetables.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TTDs1A9fJvI/AAAAAAAAAJ0/k06LTQsML3o/s200/spring_vegetables.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5562205935337678578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Waktu  terus berjalan, pengetahuan saya tentang vegetarianisme dan gaya hidup  sehat terus bertambah, sedangkan pola konsumsi harian saya juga semakin  berubah mengikuti pola baru yang menurut keyakinan saya “lebih sehat”.  Saya lebih banyak mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan segar yang  berwarna-warni (diet pelangi-red). Konsumsi daging ayam juga mulai saya  tinggalkan sama sekali. Masakan ala ikan-ikanan, sesekali saja dan  dengan porsi amat terbatas menjadi pilihan saya. Hal itu terjadi,  terutama ketika lembaga dimana saya bekerja, sedang menggelar  kegiatan-kegiatan di hotel, dimana selalu tersedia beraneka jamuan makan  mewah dan gratis. Sehingga cukup memberikan godaan hebat bagi saya yang  sedang memulai pola konsumsi baru yang cenderung semi vegetarian atau  flexitarian (karena kandang-kadang masih makan daging ikan).&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keteguhan  saya untuk terus berlatih menjadi seorang vegetarian semakin kuat.  Pilihan menu harian saya semakin mendekati menu vegetarian, meskipun  masih mengkonsumsi susu dan putih telur. Konsumsi ikan juga semakin  jarang. Ketika ada kesempatan makan bersama di kegiatan-kegiatan atau  acara-acara komunitas yang melibatkan jamuan pesta, saya mulai terbiasa  dan tidak tergoda lagi untuk mencicipi masakan berbau ikan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kira-kira  tahun 2003, ketika sedang hang-out bersama komunitas bikers, di komplek  kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), secara kebetulan saya melihat ada  warung tenda vegetarian yang dikelola oleh Keluarga Vegetarian Maitreya  Indonesia (KVMI) cabang Yogyakarta. Warung tiban itu digelar bersama  dengan puluhan warung tenda lainnya di jalan-jalan dalam kompleks kampus  UGM, tepatnya di depan lapangan Gedung Graha Saba, setiap hari Minggu  pagi. Tanpa berfikir panjang saya langsung “andok” di warung istimewa  itu. Di sana, saya berkenalan dengan beberapa crew-nya, yang menurut  saya sangat santun-santun dan  nampak halus pembawaan perilakunya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Masih  ingat betul, saat itu saya dilayani oleh Mas Dondi (dari KVMI).  Kesempatan itu kemudian saya manfaatkan untuk berkenalan dan  berbincang-bincang tentang vegetarianisme. Dengan segenap pengetahuan  dan dedikasinya, Mas Dondi menjelaskan panjang lebar tentang  vegetarianisme dan KVMI sebagi sebuah organisasi nasional. Saya juga  ditawari publikasi yang diterbitkan oleh KVMI, dan saya membelinya juga,  diantaranya “Vegetarian Ok dengan Kwartet Nabati”, “Vegetarian OK 2”  keduanya karangan L. Linan, dan “Memuliakan Semua Makhluk” karya Roshi  Philip Kapleau, “Apa yang Salah Dengan Makan Daging,” serta sebuah buku  saku dan tabloid tentang vegetarianisme.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertemuan tak  terduga itu dan buku-buku KVMI yang telah saya baca sebagian, semakin  memberikan motivasi dan meneguhkan komitmen saya untuk meneruskan jalan  hidup yang mulai fokus pada pilihan “Lacto-Ovo-Vegetarian”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Orientasi &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada  banyak tujuan atau orientasi mengapa seseorang memilih jalan hidup  vegetarian. Saya pribadi pada awalnya “emoh” daging karena ingin  meningkatkan kualitas kesehatan, sedikit demi sedikit, dilakukan saban  hari. Karena itu, gaya hidup vegetarian menjadi alternatif terobosan  paling masuk akal, dan mulai tahun 2003 saya bertekat menempuh jalan  itu, meskipun saya tidak sedang menderita sakit tertentu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TTDsGeiDluI/AAAAAAAAAJs/ihsXLqW-IH0/s1600/John%2BLennon.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 156px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TTDsGeiDluI/AAAAAAAAAJs/ihsXLqW-IH0/s200/John%2BLennon.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5562205135821838050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Jaman  terus berkembang, keyakinan saya tentang vegetarianisme semakin tak  tergoyahkan. Di luar sana, gaya hidup vegetarian juga terus berkembang  dan semakin banyak pengikutnya. Tidak hanya kaun agamawan dan kalangan  aktivis pecinta lingkungan, para celebrity dan tokoh-tokoh terkenal  dunia juga semakin banyak yang taat pada jalan hidup yang terbilang  ideologis itu. Untuk sekedar menyebutkan beberapa contoh penganut  vegetarianisme dunia: aktor terkenal Alicia Silverstone, Tobey Maguire  (Spiderman), and Barbie Hsu; bintang NBA basketball John Salley; pembawa  acara TV Ellen Degeneres; Peraih Nobel Perdamaian dan Ketua UN IPCC Dr.  Rajendra Pachauri, anggota kongres USA Dennis Kucinich; jurnalis CNN  Jane Velez-Mitchell; penyanyi popular Shania Twain, Paul McCartney, John  Lennon, Jason Mraz, dan Moby; Jaksa dan analis hukum CNN Lisa Bloom;  penulis terkenal Jonathan Safran Foer; supermodels Petra Nemcova dan  Lauren Bush, dan masih ratusan lagi.&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TTDsF7KLhsI/AAAAAAAAAJU/lqxN24A9B3E/s1600/Gandhi.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 165px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TTDsF7KLhsI/AAAAAAAAAJU/lqxN24A9B3E/s200/Gandhi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5562205126326453954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Satu dekade terakhir  ini, jalan hidup yang dipandang green itu, bahkan disebut-sebut oleh  para ahli ekologi bisa menjadi jalan keluar untuk mengurangi emisi gas  rumah kaca dan menyelamatkan bumi dari ancaman global warming, bila  dilakukan oleh lebih banyak penduduk di planet bumi ini. Nah, kenyataan  itu telah melengkapi dan memperkaya orientasi saya dalam bervegetarian.  That’s why, belakangan ini saya lebih termotivasi untuk meneguhkan  vegetarianisme dan green life style, sebagai bukti betapa cintanya saya  terhadap lingkungan dan keselamatan bumi dari ancaman global warming dan  climate change.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terakhir, saya memang seorang muslim, dan  agama saya tidak secara tegas mengajarkan tentang vegetarianisme.  Kendati demikian, ajaran agama saya tentang kasih sayang terhadap sesama  dan mahkluk lain, serta kebajikan yang harus diejawantahkan terhadap  lingkungan alam, menjadikan saya semakin nyaman dengan alasan “&lt;em&gt;ethical&lt;/em&gt;” mengenai perilaku vegarian yang saya yakini.***&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Note:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut  beberapa referensi yang pernah saya baca, gaya hidup vegetarian bisa  mencegah berbagai gangguan kesehatan seperti penyakit kanker, penyakit  akibat kolesterol, obesitas, osteoporosis, ganguan ketika masa  manupouse, serta tidak tertular penyakit dari hewan dan keracunan.  Selain itu, ber-vegetarian diyakini banyak ilmuwan bisa memperpanjang  kesempatah hidup dengan kualitas kesehatan prima, alias berumur lebih  panjang dan dengan kondisi tetap sehat. How do you think, guys?&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245848731703060805-5043994423663170546?l=yulinolpitu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/feeds/5043994423663170546/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/2011/01/sejarah-singkat-dan-mengapa-saya_14.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245848731703060805/posts/default/5043994423663170546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245848731703060805/posts/default/5043994423663170546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/2011/01/sejarah-singkat-dan-mengapa-saya_14.html' title='Sejarah Singkat dan Mengapa Saya Vegetarian'/><author><name>Alam Hijau</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16017713605066180734</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TABuawTZKHI/AAAAAAAAAEg/yF3pBdp5Wgs/S220/13642_102888239738321_100000514361875_77689_8304252_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TTDsGH2ziPI/AAAAAAAAAJc/DpPSCuUnP_o/s72-c/Green%2BChiempoel.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245848731703060805.post-5048458846109763623</id><published>2010-11-30T04:56:00.000-08:00</published><updated>2010-11-30T05:05:38.287-08:00</updated><title type='text'>Meski Buta, Dia Tidak Menyerah</title><content type='html'>Sepanjang perjalanan menuju rumah Markino (43), saya tidak pernah menyangka warga yang akan ditemui adalah warga paling miskin yang ada di Desa Watuulo. Awalnya saya ceria menikmati pemandangan dan udara sejuk dalam perjalanan menuju kediaman Markino. Akan tetapi begitu tiba di rumahnya, melihat Markino yang tertidur di lantai lembab tanpa tikar, mengenakan pakaian sangat kumal, dengan tangan dan kaki masih belepotan lumpur sawah yang mengering, saya langsung nelangsa, hilang keceriaan. &lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TPT2dNCQXbI/AAAAAAAAAJA/L3C7N9SnoDw/s1600/DSC_6638%2BNew%2B04.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 140px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TPT2dNCQXbI/AAAAAAAAAJA/L3C7N9SnoDw/s200/DSC_6638%2BNew%2B04.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5545328022775684530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;  &lt;p&gt;&lt;br /&gt;Kang Kino, begitu tetangganya biasa menyapa, adalah seorang tuna netra yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani. Markino mengaku, dia tidak 100% buta, tetapi menderita rabun yang akut, sehingga penglihatannya sangat-sangat terbatas, bisa jadi tidak lebih dari 5%. Karena itu, dia lebih sering digandeng istri atau simboknya ketimbang jalan sendiri ketika pergi mendatangi sawah atau ladang milik tetangga yang akan dia bantu mengolahnya. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keadaan Rumah Pak Kino&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saya heran dan merasa iba melihat rumah Markino begitu mungil dan terletak di seberang jalan hampir berdempetan dengan mushola Roudhotul Jannah, yang juga tidak besar. Rumah berukuran 3x5m², tanpa ventilasi dan hanya berhiaskan satu pintu depan dan belakang yang menghubungkan 1 ruangan tambahan lagi yang tidak rapat berukuran 2x2m², untuk mengamankan 5 ekor kambing piaraan yang gemuk-gemuk. Rumah mini itu juga ditambahi satu ruangan super kecil seluas  1,5x2m² di sisi kanan luar yang semakin menggantung di bibir sungai yang lumayan curam, meskipun hanya sungai kecil untuk irigasi sawah. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;br /&gt;Rumah mini tambahan itu, ternyata untuk tempat tinggal Mbok Juminem (69), ibu kandung Kang Kino. Bilik super kecil itu, isinya memang lumayan lengkap, meskipun tidak pada tempatnya. Bayangkan, di situ ada lincak kecil yang dihiasi sedikit pakaian lusuh yang acak tidak tertata, beberapa karung kecil berisi padi tapi tidak penuh, peralatan masak, tungku, ember, sisa kayu bakar, dan pernak-pernik perlengkapan dapur yang sangat sederhana dan tidak banyak jenisnya. Karung berisi padi itu hasil Mbok Minem dari “maro”&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;  sawah tetangganya tapi tidak luas. Hasil maro itu jarang dikonsumsi, karena baik Mbok Minem maupun Kang Kino selalu mendapatkan jatah raskin, meskipun harus menggantinya Rp 1.700,00 per kg. Kata Pak Yono, asisten saya selama penelitian, ruang pengap itu menjadi tempat paling privat milik Mbok Minem, yang dia gunakan ketika sedang memasak, makan, tidur, juga berteduh dari angin dan hujan. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;br /&gt;Dua rumah mini jadi satu, yang pintu depanya langsung menghantarkan penghuninya ke halaman mushola hanya dengan dua langkah kaki itu, berbagi aliran listrik dengan Mushola Roudhotul Janah. Atas inisiatifnya sendiri, Kang Kino memberikan iuran Rp 5.000,00 per bulan untuk biaya listrik, yang praktis hanya untuk menyalakan 3 bohlam penerangan ukuran watt kecil, untuk rumah utama, kandang kambing, dan bilik Simboknya. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;br /&gt;Sudah lebih dari sebulan ini Kang Kino harus rela berpisah dengan istrinya, Tuliah (50th), yang harus merawat ayahnya karena sudah tua dan sakit-sakitan, apalagi mertuanya itu tinggal sendirian di rumahnya di Karang Talun Kecamatan Ngluwar, kira-kira 2 km dari Watuulo. Praktislah rumahnya menyisakan sedikit ruang kosong 2,5m², sehingga terasa lebih longgar dari biasanya. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TPT2dRGaDRI/AAAAAAAAAJI/Ha8wMcdRGMY/s1600/DSC_6635%2BNew%2B05.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 133px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TPT2dRGaDRI/AAAAAAAAAJI/Ha8wMcdRGMY/s200/DSC_6635%2BNew%2B05.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5545328023866838290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kini Kang Kino hanya tinggal bersama Mbok Minem yang juga menjadi tanggungan hidupnya. Mbok Minem, dulunya adalah seorang pekerja yang giat, namun demikian beliau tidak bisa beranjak lepas dari kemiskinan. Tidak mempunyai keahlian dan alat produksi, seperti sawah atau ladang, mungkin itulah penyebabnya. Tanah yang sekarang ditempati rumah mini anaknya, sebenarnya juga bukan miliknya, akan tetapi sisa badan jalan yang berbentuk lereng yang berbatasan langsung dengan sungai kecil yang mengairi persawahan, sekaligus tempat MCK mereka. Karena itulah, sebelum rumahnya didirikan, mereka harus menguruk lereng tersebut menjadi lebih rata.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keseharian Markino&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sehari-hari Kang Kino menghabiskan waktu membanting tulang untuk mencari nafkah, kalau tidak bekerja di sawah atau kebun tetangganya, dia biasanya sibuk dengan ternaknya, entah mencarikan pakan atau menggembala kambingnya di tempat yang tidak jauh dari rumahnya. Namun demikian, kadang kala dia juga dimintai tolong oleh tetangganya untuk memanenkan pohon kelapa, membersihkan pekarangan, memijat, dll. Tergantung permintaan warga, selama dia bisa melakukan, pekerjaan apapapun tidak akan pernah dia tolak. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;br /&gt;Untuk memanenkan buah kelapa, setiap pohonya biasanya dia diberi imbalan 2 buah kelapa seharga Rp 1.000,00 per bijinya. Sedangkan untuk jasa buruh di sawah atau ladang, upah yang dia terima berkisar antara Rp. 10.000,00 hingga Rp 15.000,00 per hari, bekerja mulai jam 07:00 hingga 12:00 siang. Kadang-kadang malah ada yang membayarnya lebih rendah, barang kali kualitas pekerjaannya dianggap tidak sama dengan buruh lain yang normal. Khusus untuk jasa mengurut atau pijat, Bapak yang putra tunggalnya telah tiada ini, dihonori Rp 20.000,00. Padahal, menurut pengakuannya dan juga dikuatkan oleh kesaksian Kasi Kesra Dusun Watuulo dimana Kang Kino  tinggal, tidak setiap hari ada warga yang menggunakan jasanya. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Harapan Seorang Markino&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kendati demikian, Kang Kino bukan berarti orang yang tidak punya impian untuk masa depan, paling tidak dia sudah terbukti berhasil berinvestasi. Lima kambing yang ada di kandangnya, bukan bantuan dari orang lain. Awalnya dia hanya punya satu ekor cempe, hasil dari “gaduh”&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt; kambing milik tetangga. Kemudian anak kambing tersebut dibesarkan dan dikawinkan dengan pejantan milik tetangganya, sehingga bisa beranak berkali-kali. Dengan hasil peternakan kecil itu, Kang Kino bisa menyemen dinding dan lantai rumahnya. Selain itu, pada hari raya kurban tahun 2009 lalu, Kang Kino menjalankan ibadah korban atas nama simbok tercintanya Juminem, dengan menyerahkan kambing jantan besar senilai Rp 800.000,00. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, Kang Kino dan Mbok Minem juga berusaha untuk selalu mengikuti kegiatan sosial kemasyarakatan, meskipun hanya semampunya. Contohnya, Mbok Minem tidak mau ketinggalan untuk menyediakan sejumlah nasi bungkus untuk ritual pengajian di mushola. Sekali dalam setahun, dia juga memasak jamuan khusus untuk perayaan tradisi “nyadran”. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;br /&gt;Menyandang sebagai keluarga termiskin di Desa Watuulo, tidak membuat mereka menjauh dari kehidupan sosial kemasyarakatan dan tradisi warisan leluhurnya. Yang kerap diacungi jempol dan bisa diteladani orang lain adalah, Kang Kino dan Mbok Minem tidak pernah putus asa dan mengemis kepada orang lain. Mereka selalu bekerja keras.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;br /&gt;Selesai mewawancarai Mbok Minem, saya mengangsurkan sejumlah uang sekedar sebagai ucapan terimakasih. Sambil bercanda, Pak Kasi Kesra yang mendampingi saya berkata, “Niku rezeki Mbok, disimpen ingkang sae. Kangge tumbas jajan nggih pareng.” Diluar dugaan kami Kang Kino menyahut, “Ditukokne pitik malah mundak.” Pak Kasi Kesra tertawa lebar, saya ikut tertawa kecil dan tak tahan menahan haru.*** &lt;/p&gt;  &lt;p&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;sup&gt;1 &lt;/sup&gt;Menyewa sawah orang lain untuk ditanami, dan hasilnya akan dibagi fifty-fifty antara yang punya sawah dengan si penyewa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;sup&gt;2 &lt;/sup&gt;Gaduh adalah memelihara dan mengembangbiakan ternak orang lain, selama periode tertentu, dan akan mendapatkan imbalan berupa sebagian anak ternak hasil pengembangbiakan itu.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245848731703060805-5048458846109763623?l=yulinolpitu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/feeds/5048458846109763623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/2010/11/meski-buta-dia-tidak-menyerah.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245848731703060805/posts/default/5048458846109763623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245848731703060805/posts/default/5048458846109763623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/2010/11/meski-buta-dia-tidak-menyerah.html' title='Meski Buta, Dia Tidak Menyerah'/><author><name>Alam Hijau</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16017713605066180734</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TABuawTZKHI/AAAAAAAAAEg/yF3pBdp5Wgs/S220/13642_102888239738321_100000514361875_77689_8304252_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TPT2dNCQXbI/AAAAAAAAAJA/L3C7N9SnoDw/s72-c/DSC_6638%2BNew%2B04.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245848731703060805.post-9037964898115302146</id><published>2010-10-27T01:13:00.000-07:00</published><updated>2010-10-27T01:20:38.975-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pengalaman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bencana alam'/><title type='text'>Menerjang Lendut Gembel*</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Magelang, Selasa 26 Oktober 2010&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mendekati tempat tinggal Mas Kencuk, asisten lokal kami dalam melakukan riset, beberapa lelaki terlihat berkerumun di tepi jalan. Kondisinya sudah gelap, mereka seperti habis mengamati sesuatu. Kami sedikit bertanya-tanya ada apa gerangan, dan hanya bisa menduga-duga. Tak berhasil memastikan jawabannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TMfgUOvc-RI/AAAAAAAAAI4/qtHLHck98OA/s1600/IMG_4954.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TMfgUOvc-RI/AAAAAAAAAI4/qtHLHck98OA/s200/IMG_4954.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5532637305407076626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sebentar kemudian, mobil kami memutar, Mas Kecuk mengucap salam perpisahan. “Oke, sampai ketemu besuk Mas Kencuk. Untuk acara besuk kami dari Jogja agak siangan, mungkin jam delapan Mas,” Pak Titok memastikan janjinya, untuk kegiatan hari kedua riset kami.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Belum genap dua kilo meter kendaraan kami menyusuri jalan menurun itu, “Kletak-kletok, kletak-kletok”, hantaman benda kecil menghentak-hentak merata di seluruh body kendaraan kami, Avansa 2009.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Mas hujan abu! Hujan abu Merapi ini Mas...!” Pak Titok menyela dengan pandangan sedikit heran, terbuang ke depan sambil terus menginjak gas dan mencermati batu-batu seukuran kedelai yang loncat terpelanting dari kaca depan kendaraan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Iya, hujan krikil Merapi... sebaiknya kita terus saja. Kita sedang bergerak menjauh ini. Kita terus saja Pak!” sahutku dengan sedikit kawatir sambil menurunkan volume audio, yang sedari pagi tak lelah menghibur kami.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TMfgTUXhXqI/AAAAAAAAAIw/Tf9xgX03z1I/s1600/IMG_4957.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TMfgTUXhXqI/AAAAAAAAAIw/Tf9xgX03z1I/s200/IMG_4957.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5532637289737445026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Toyota kami terus meluncur menyusuri jalan yang semakin lurus polanya, meski semakin pelan, meninggalkan Kecamatan Sawangan, lereng Barat Daya Merapi, satu di antara dua kecamatan dimana kami berdua sedang melakukan riset tentang PNPM Mandiri Perdesaan, untuk hari pertama, di Kabupaten Magelang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tidak sendirian, ada beberapa mobil dan sepeda motor yang juga berebut saling mendahului di jalan yang semakin gulita itu. Hari yang semakin malam, dan kerapatan hujan kerikil vulkanik semakin memangkas jarak pandang kami.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Keheranan kami bertambah ketika tak lama kemudian, guyuran kerikil vulkanik perlahan berganti menjadi hujan abu basah atawa rintik-rintik lumpur yang jelas mengganggu wiper penyeka kaca depan mobil kami.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Laju kendaraan kami terpaksa melambat, tidak hanya karena kaca kendaraan semakin pekat berbalut lumpur vulkanik yang kian menebal, tapi juga iringan kendaraan yang ada di depan kami, bergerak semakin lengket dengan jalan beraspal karena timbunan lumpur vulkanik juga tak henti meninggi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sejujurnya, aku menjadi sedikit panik. Namun, masih berusaha untuk tetap tenang dan menghibur diri, “Alat rekamku tak hidupkan Pak, biar seperti fungsi ‘kotak hitam’ pesawat, merekam kepanikan kita,” aku kembali melontarkan candaan. Sementara Pak Titok tertawa ringan dan kembali berkonsentrasi memastikan laju kendaraan kami agar tetap aman terkendali.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Jalannya kendaraan yang lambat, memberikan kesempatan padaku untuk mengamati penduduk yang ada di sepanjang jalan, dari kaca samping yang relatif lebih tipis lumpurnya (barangkali karena posisinya yang lebih vertikal bila dibandingkan dengan kaca depan dan belakang). Sebagian dari mereka terlihat biasa, seperti tidak ada yang istimewa dan dirisaukan. Kami berfikir bahwa, “Barangkali mereka sudah sering mengalami hujan sebentuk itu.” Lagi pula, belakangan isu tentang segera ‘njebluknya’ merapi terdengar semakin santer di kalangan warga Magelang, Yogyakarta, dan sekitarnya, bahkan sudah menjadi wacana media massa nasional.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sebentar kemudian, kami berdekatan dengan sebuah mobil pick-up, yang terpaksa berhenti karena wiper kacanya macet terbenam lapisan lumpur vulkanik. Sang sopir, seorang lelaki tua, terpaksa harus turun dari mobil, bermandikan hujan lumpur, menuju selokan kiri jalan untuk mengambil air, hanya dengan kedua tangannya, mengguyur dan menyeka kaca agar tembus pandang lagi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kami tak tahan untuk tertawa melihat kejadian itu, sekaligus bertambah resah, karena gerak wiper kaca depan semakin berat dan berderit-derit. Sedangkan cadangan air yang akan menyembur ketika tombol kendalinya dipencet, sudah tidak bisa mancur lagi. Alat penjernih kaca depan itu, menjadi tidak bekerja maksimal. Jarak pandang kami terganggu, hanya bisa melihat jalan beberapa meter saja. Rasa takut mulai menjalari sekujur tubuhku, mengingat betapa berbahayanya berkendara dengan pandangan yang amat terbatas. Belum lagi jalan yang kami lewati tidak begitu lebar, dengan dua selokan lumayan lebar mengapitnya, lekap sudah kekawatiranku, “Wah ini gimana ya?” kalimatku yang tidak ceria lagi “Sepertinya kita harus berhenti dulu Mas. Kita berteduh dulu. Nanti kita cuci kaca depan dengan air minum kita, baru jalan lagi,” Pak Titok mencoba mencari jalan keluar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tepat di depan sebuah kios celuler, kami sepakat untuk menepi ke kiri jalan, keluar dari mobil dan hendak berteduh di kios itu. Ketika keluar mobil, dan setengah berlari menuju kios tersebut, kami sempat terpapar guguran lumpur vulkanik, yang sepertinya semakin mereda. Saat itu, untuk pertama kali aku tahu dan mencicipi aroma abu vulkanik. Aromanya berasa gas belerang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Rupanya sang empunya kios hendak mengungsi. Mereka sibuk membereskan dagangannya. Kios itu segera di tutup, hingga kami berteduh di luar kios. Untuk beberapa saat kami merasa aman. Kemudian datang dan berteduh juga seorang wanita muda pengendara sepeda motor Suzuki. Sepeda motornya tidak berbeda denga kondisi mobil kami yang diselimuti abu vulkanik basah alias lumpur Merapi. Jas hujan yang telah dia kenakan tak beda kondisinya, penuh dengan lumuran jenang tanah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dari pengedara Suzuki Shogun itu, kami mendengar berita bahwa Merapi telah ‘njebluk’ beberapa kali sejak sekitar jam 18:oo WIB. Waktu itu jarum jam tangan kami menunjuk angka 18:20 WIB.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Beberapa menit kemudian, hujan abu terlihat semakin mereda. Ada melintas iring-iringan kendaraan yang lebih besar. Sebuah ambulan yang merupakan bagian dari Tim Evakuasi Bencana Merapi, dan truk PLN yang mengangkut pembangkit listrik mobile, yang barang kali sedang menuju lokasi pengungsian. Kami putuskan untuk segera membersihkan kaca depan mobil dengan sisa air minum kemasan, dan perjalanan kami teruskan. Kami berusaha mengejar dan membuntuti iring-iringan kendaraan itu. Dengan harapan kami akan terbantu dalam mengendalikan laju mobil kami, mengingat guguran debu terus terjadi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Akhirnya, kami berhasil semakin menjauhi kawasan Barat Daya lereng Merapi. Setelah masuk ke jalan besar Magelang-Yogyakarta, kesibukan aktivitas pengungsi juga kerap kami temui. Sebentar kemudia, kami putuskan untuk berhenti lagi di sebuah toko klontong, guna membeli air minum kemasan lagi, kali ini untuk kembali menyeka kaca depan Avansa kami.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Alkhamdulillah, perjalanan kami semakin lancar setelah semakin jauh meninggalkan daerah Muntilan, Magelang. Celuler Pak Titok beberapa kali teriak, tanda pesan pendek terus berdatangan. Hampir seluruhnya menanyakan perihal situasi Jogja saat itu. Beberapa temannya juga menelpon.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kira-kira 15 menit kemudian kami sudah sampai di Jogja kembali. Kami sempatkan untuk berhenti sejenak, kembali membersihkan kaca depan dan lampu penerangan utama mobil kami, yang sedari tadi ternyata terlupakan. “Pantesan, jalan terasa gelap ketika mobil kita sendirian melaju di jalanan,” Pak Titok berseloroh sambil tersenyum lega. Kami telah selamat sampai Jogja. &lt;em&gt;Once more, thank you very much indeed, My God.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:11pt;"  lang="IN" &gt;*Lendut Gembel, plesetan dari Wedhus Gembel. Wedhus Gembel adalah sebutan paling populer untuk awan panas vulkanik Gunung Merapi yang sangat mematikan dan telah merenggut begitu banyak korban jiwa selama ini.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245848731703060805-9037964898115302146?l=yulinolpitu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/feeds/9037964898115302146/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/2010/10/menerjang-lendut-gembel.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245848731703060805/posts/default/9037964898115302146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245848731703060805/posts/default/9037964898115302146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/2010/10/menerjang-lendut-gembel.html' title='Menerjang Lendut Gembel*'/><author><name>Alam Hijau</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16017713605066180734</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TABuawTZKHI/AAAAAAAAAEg/yF3pBdp5Wgs/S220/13642_102888239738321_100000514361875_77689_8304252_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TMfgUOvc-RI/AAAAAAAAAI4/qtHLHck98OA/s72-c/IMG_4954.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245848731703060805.post-1615221164176081166</id><published>2010-10-07T18:59:00.000-07:00</published><updated>2010-10-07T20:01:16.820-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='global warming and climate change'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='health'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='green lifestyle'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bencana alam'/><title type='text'>Global Warming dan Ancaman Kesehatan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TK58xk0iCuI/AAAAAAAAAIY/NPNGJWs6hrs/s1600/global_warming+01.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 139px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TK58xk0iCuI/AAAAAAAAAIY/NPNGJWs6hrs/s200/global_warming+01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5525490983969622754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Sudah sejak sekitar tiga puluh tahun yang lalu, beberapa ilmuwan mulai memperingatkan ancaman “paling serius” setelah perang dingin (&lt;i style=""&gt;Cold War&lt;/i&gt;), yakni &lt;i style=""&gt;global warming&lt;/i&gt;. Kini gejalanya semakin kentara dan mudah diindra dimana-mana. Perubahan cuaca dan situasi lautan, pergeseran ekosistem, serta degradasi lingkungan berakibat buruk pada kehidupan di muka bumi—menyulitkan manusia dan banyak mahkluk lain. &lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Para ahli terus menggelar riset untuk lebih jauh mempelajari dan mencari jalan keluar persoalan super &lt;i style=""&gt;gawat&lt;/i&gt; tersebut. Kesimpulannya tunggal, &lt;i style=""&gt;global warming&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;climate change&lt;/i&gt; benar terjadi serta efek dasyatnya tinggal menunggu waktu. Bahkan sudah ada angka resmi yang membeberkan bukti otentik adanya peningkatan suhu permukaan bumi. Faktanya, paling tidak suhu bumi secara keseluruhan telah naik sebesar 0,6º Celsius (ºC) atau sepadan dengan 0,9º Fahrenheit (ºF), bila dibandingkan dengan kondisi bumi satu abad yang lalu (Suara Merdeka, 20/8/2010).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: normal;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TK6JSdwKzOI/AAAAAAAAAIo/gWJ4rdsibYI/s1600/lighting-and-tornado-storm.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 143px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TK6JSdwKzOI/AAAAAAAAAIo/gWJ4rdsibYI/s200/lighting-and-tornado-storm.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5525504743147490530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;David Brown, seorang staf penulis media Washington Post yang punya perhatian khusus pada isu-isu pemanasan global, menandaskan bahwa phenomena yang terjadi akan berbeda-beda. Perubahan yang terjadi akan bergantung “di wilayah mana kita berada”. Situasinya bisa lebih panas, lebih basah, lebih kering, lebih berangin, lebih hening, lebih kotor, lebih banyak kelaparan, lebih banyak penyakit, atau lebih suram bila dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Bahkan di daerah-daerah tertentu bisa jadi akan sangat mematikan. Dia menegaskan bahwa efek perubahan iklim sangat beragam dan acap kali bertolak belakang. Secara umum perubahannya akan mendatangkan ketidakstabilan dan kejadian-kejadian &lt;i style=""&gt;extreme&lt;/i&gt;. Garis-besarnya, &lt;i style=""&gt;climate change&lt;/i&gt; cenderung mengancam kesehatan ketimbang memberi kontribusi pada perbaikan kesehatan manusia. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: normal;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TK6JSIDzMKI/AAAAAAAAAIg/qF6U1dj9YBg/s1600/01+Boots+and+City.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 132px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TK6JSIDzMKI/AAAAAAAAAIg/qF6U1dj9YBg/s200/01+Boots+and+City.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5525504737324249250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Pendapat Brown (2007) menguatkan kata-kata Jonathan A. Patz, seorang dokter dan epidemiologis dari Universitas Wisconsin di Madison, bahwa “&lt;i style=""&gt;Cimate change affects everything&lt;/i&gt;”. Segalanya akan kena imbas perubahan iklim global. Belahan bumi tertentu akan menjadi lebih basah karena lebih sering terpapar curah hujan, sedangkan tempat lain menjadi lebih kering karena semakin jarang mendapat jatah air dari langit. Badai, banjir, tanah longsor, kekeringan, dan bencana alam lain lebih sering terjadi, dan kerap kali melanda tempat-tempat yang sebelumnya tidak pernah mengalami bencana serupa. Nah, kondisi yang demikian akan sangat rentan mendatangkan berbagai macam gangguan kesehatan, tidak hanya serangan penyakit infeksi (&lt;i style=""&gt;infectious diseases&lt;/i&gt;), tapi juga gangguan jiwa akibat depressi yang bertubi-tubi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Kenaikan suhu atmosfir bumi yang rata-rata hampir 1º F tersebut, menurut &lt;i style=""&gt;World Health Organization&lt;/i&gt; (WHO), hingga tahun 2000 telah menyebabkan sekitar 160.000 korban jiwa setiap tahunnya. Pada tahun 2020, WHO memperkirakan angka tersebut akan berlipat menjadi 300.000 per tahun.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Para ilmuwan juga meramalkan bahwa &lt;i style=""&gt;global warming&lt;/i&gt; turut meningkatkan frekwensi bencana gelombang panas (&lt;i style=""&gt;heat waves&lt;/i&gt;), yang pada tahun 2003 lalu telah mencelakai sebagian masyarakat Eropa. Tidak kurang, 30.000 orang meninggal karena penyakit yang ada kaitan langsung dengan gelombang panas. Di Perancis saja, hanya dalam tiga minggu (di bulan Agustus 2003), badai udara panas tersebut telah merenggut paling tidak 14.800 jiwa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Fakta temuan WHO yang lebih mengkawatirkan lagi adalah, bahwa sepanjang tahun 1976-2008, ada paling tidak 30 penyakit-penyakit baru yang muncul akibat &lt;i style=""&gt;global warming&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;climate change&lt;/i&gt;. Diantara penyakit tersebut, yang bisa dibilang paling menonjol dan dinilai cenderung lebih ganas adalah penyakit demam berdarah, malaria, demam kuning, kolera, diare, dan virus ebola, yang sangat mematikan dan telah menelan banyak korban jiwa (KOMPAS, 15/11/2008). Hal tersebut ada kaitannya dengan semakin bertambahnya wilayah-wiyalah yang memiliki suhu lebih hangat dan lembab (&lt;i style=""&gt;tropical&lt;/i&gt;), sehingga serangga dan binatang lain penyebar penyakit seperti nyamuk, lalat, siput, dan tikus bisa berkembang biak lebih cepat dengan sebaran yang lebih luas. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Hasil studi-studi yang lain, mengetengahkan kesimpulan yang serupa bahwa naiknya kehanggatan suhu bumi berbanding lurus dengan prevalensi kejadian gangguan kesehatan lain, diantaranya, serangan stroke, gangguan berbagai penyakit kulit, gangguan pencernaan, bermacam demam, radang otak, &lt;i style=""&gt;japanese encephalitis&lt;/i&gt;, filariasis, deman berdarah dengan gejala ginjal, flu burung, &lt;i style=""&gt;SARS&lt;/i&gt;, &lt;i style=""&gt;leptospirosis&lt;/i&gt;, dll. (Koran Tempo, 17/12/2007). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Gangguan kesehatan yang dimaksud, ternyata tidak hanya akibat dari muncul-dan-berkembangnya berbagai penyakit infeksi saja. Perubahan cuaca yang membawa pada meningkatnya kejadian bencana di wilayah tertentu, ditambah pencemaran lingkungan yang parah, terutama pencemaran logam berat, telah mendatangkan berbagai gangguan kesehatan yang sangat mematikan, seperti munculnya bermacam-macam kanker, terjadinya kerusakan organ-organ vital, &lt;i style=""&gt;alzheimer&lt;/i&gt;, deformasi sedari lahir pada bayi baik fisik maupun mental, dst. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Patterson Clark (&lt;i style=""&gt;Washington Post&lt;/i&gt;, 2004) menggambarkan bahwa degradasi lingkungan, merosotnya kualitas air, udara, dan tanah akibat dari pencemaran (polutan)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;telah melahirkan berbagai penyakit dan turut memperparah problem kesehatan masyarakat. Buruknya kualitas air akan berujung pada meningkatnya kejadian wabah kolera, hepatitis A, &lt;i style=""&gt;leptospirosis, cryptosporidosis, dinoflagellate&lt;/i&gt; “&lt;i style=""&gt;red tides&lt;/i&gt;”, juga keracunan ikan dan kerang akibat kontaminasi bakteri &lt;i style=""&gt;vibrio&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;salmonella&lt;/i&gt;. Polusi udara akan berdampak pada meningkatnya serangan asma, alergi dan &lt;i style=""&gt;coccidiodomycosis&lt;/i&gt;, serangan jantung dan paru-paru kronis. Laporan WHO menyebutkan, paling tidak terjadi tiga juta kematian di seluruh dunia setiap tahunnya akibat pencemaran udara. Angka tersebut, terbilang “tiga kali lipat” dibandingkan dengan jumlah korban tewas akibat kecelakaan pada alat transportasi&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.do#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:11pt;"  lang="IN" &gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt; Kemerosotan lingkungan juga mendatangkan penyakit lain yang ditularkan oleh serangga, seperti &lt;i style=""&gt;hantavirus pulmonary syndrom, viral encephalitis, Rift Valley fever, schistosominiasis, scabies, lyme&lt;/i&gt;, dll. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Yang lebih buruk lagi, karena keterbatasan &lt;i style=""&gt;resources&lt;/i&gt; dan buruknya kualitas pelayanan publik, masyarakat miskin di negara-negara berkembang seperti Indonesia akan menderita terpaan paling mengenaskan akibat bencana ekologis tersebut. Sedangkan kelompok yang paling tidak diuntungkan (&lt;i style=""&gt;vulnerable groups&lt;/i&gt;) adalah anak-anak dan balita. Seperti yang pernah disoroti dalam laporan WHO (1997), bahwa 80% dari sekitar 3 juta korban meninggal akibat malaria adalah balita dan anak-anak. Demikian juga para lanjut usia, orang yang sedang sakit, dan orang yang miskin, menjadi kelompok-kelompok lain yang sangat rentan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Menilik contoh situasi yang ada di Indonesia, data yang dilansir oleh Yayasan Pelangi Indonesia, di Pulau Jawa dan Bali juga mengalami peningkatan hampir tiga kali lipat kasus kejadian malaria. Dari 18 kasus per 100.000 penduduk pada tahun 1998, berlipat menjadi 48 kasus per 100.000 penduduk pada tahun 2000. Sedangkan di luar Pulau Jawa dan Bali, kasus penyakit serupa juga meningkat hingga 60% pada periode yang sama. Tercatat, kasus paling masif terjadi di NTT, yakni 16.290 kasus per 100.000 penduduk.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) yang digelar tahun 1995, menyibak fakta bahwa sekitar 15 juta penduduk Indonesia terjangkiti malaria, dan 30.000 diantaranya tidak terselamatkan (WHO, 1996). Jika upaya untuk mengatasi &lt;i style=""&gt;climate change&lt;/i&gt; tidak berhasil, prediksi para ahli mengatakan bahwa Indonesia akan terus didera peningkatan kasus penyakit malaria dan demam berdarah. Untuk demam berdarah diperkirakan akan meningkat hingga empat kali lipat pada periode yang sama, dari 6 kasus per 100.000 penduduk menjadi 26 kasus.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.do#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Kemudian penanganan yang bagaimanakah sebaiknya? Karena skalanya global, cara yang paling tepat untuk mengatasi persoalan tersebut adalah melalui kerjasama internasional. Tentu saja, dibawah bendera PBB dan organisasi kemanusiaan transnasional lainnya, gerakan dan upaya untuk mengatasi persoalan tersebut akan lebih efektif dijalankan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Mengingat sedikit banyak telah bisa dipetakan efek destruktifnya, perencanaan yang matang dan kesiap-siagaan atau tanggap darurat (&lt;i style=""&gt;preparedness&lt;/i&gt;) pada level masing-masing negara, dalam hal ini mencakup persoalan kelembagaan, logistik termasuk &lt;i style=""&gt;shelters&lt;/i&gt;, dan juga obat-obatan menjadi penting untuk dipersiapkan sejak dini. Sehingga upaya untuk mengurangi resiko dan meringankan dampaknya menjadi bisa bekerja dengan baik. Terutama, negara harus bisa memastikan penghematan &lt;i style=""&gt;resources&lt;/i&gt; yang menyangkut hajat hidup orang banyak, yang kian terbatas, seperti air bersih dan lahan pertanian produktif. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Namun demikian, mencermati apa yang pernah dikatakan oleh &lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Kristie L. Eb&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;i,&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.do#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; seorang epidemiologis dari Amerika, bahwa “&lt;i style=""&gt;The impacts of climate change really depend on your local context&lt;/i&gt;,”dengan demikian negara harus segera mempersiapkan &lt;i style=""&gt;stakeholders&lt;/i&gt; yang ada di daerah dan level komunitas, membekalinya dengan desain dan cara pengembangan metode beradaptasi terhadap perubahan yang bakal terjadi. Selain itu, pengawasan terhadap perkembangan penyakit-penyakit infeksi mutlak dilakukan, sehingga bisa dengan mudah merencanakan dan mempersiapkan langkah-langkah antisipasi. Harapanya, tingkat kerentanan (&lt;i style=""&gt;vulnerability&lt;/i&gt;) bisa dikurangi sekaligus ketahan (&lt;i style=""&gt;resilience&lt;/i&gt;) mereka bisa terdongkrak.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Selain itu, kalau dirunut lebih jauh, persoalan kesehatan merupakan problem “hilir” dari &lt;i style=""&gt;global warming&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;climate change&lt;/i&gt;, sedangkan kerumitan di “hulu” telah mendera lebih dulu pada bidang-bidang lainnya. Dengan begitu, peran kesadaran publik yang bisa membawa pada perubahan perilaku individual untuk melakukan upaya-upaya pencegahan menjadi sangat esensial. Untuk itu tips populer yang sering beredar dalam wacana para pecinta lingkungan dan penganut &lt;i style=""&gt;green-life-style&lt;/i&gt;, yakni &lt;b style=""&gt;Tiga M&lt;/b&gt;—&lt;b style=""&gt;M&lt;/b&gt;ulai dari diri sendiri, &lt;b style=""&gt;M&lt;/b&gt;ulai dari hal-hal kecil, dan &lt;b style=""&gt;M&lt;/b&gt;ulai dari sekarang—menjadi sangat relevan, visoner, dan menjanjikan perubahan nyata bila telah menjadi komitmen hidup lebih banyak orang. Semuanya selalu bergantung pada kita semua, pada akhirnya. Bukankah masing-masing dari kita punya andil pada terjadinya &lt;i style=""&gt;global warming&lt;/i&gt;? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr align="left" width="33%" size="1"&gt;    &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 6pt 7.1pt; text-align: justify; text-indent: -7.1pt; line-height: normal;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.do#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="IN" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 6pt 7.1pt; text-align: justify; text-indent: -7.1pt; line-height: normal;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.do#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="IN" &gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt; &lt;span style=""&gt;USDA, Production, Supply and Distribution, electronic database , at &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.fasusda.gov/psdonline"&gt;www.fasusda.gov/psdonline&lt;/a&gt;, updated 12 July 2007. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 6pt 7.1pt; text-align: justify; text-indent: -7.1pt; line-height: normal;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.do#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="IN" &gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt; PORTAL CBN, Cyberhealth, SENIOR, Gaya Hidup Sehat, http://cybermed.cbn.net.id.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn4"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 6pt 7.1pt; text-align: justify; text-indent: -7.1pt; line-height: normal;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.do#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="IN" &gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt; &lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Kristie L. Eb&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;i is Executive Director of the Technical Support Unit for Working Group II (Impacts, Adaptation, and Vulnerability) of the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). Prior to this position, she was an independent consultant. She has been conducting research on the impacts of and adaptation to climate change for more than a dozen years, including on extreme events, thermal stress, foodborne safety and security, and vectorborne diseases. She has worked with the World Health Organization, the United Nations Development Programme, USAID, and others on implementing adaptation measures in low-income countries. She facilitated adaptation assessments for the health sector for the states of Maryland and Alaska. She was a lead author on the “Human Health” chapter of the IPCC Fourth Assessment Report, and the “Human Health” chapter for the U.S. Synthesis and Assessment Product “Analyses of the Effects of Global Change on Human Health and Welfare and Human Systems.” She has edited fours books on aspects of climate change and has more than 80 publications. Dr. Ebi’s scientific training includes an M.S. in toxicology and a Ph.D. and a Masters of Public Health in epidemiology, and two years of postgraduate research at the London School of Hygiene and Tropical Medicine.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245848731703060805-1615221164176081166?l=yulinolpitu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/feeds/1615221164176081166/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/2010/10/global-warming-dan-ancaman-kesehatan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245848731703060805/posts/default/1615221164176081166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245848731703060805/posts/default/1615221164176081166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/2010/10/global-warming-dan-ancaman-kesehatan.html' title='Global Warming dan Ancaman Kesehatan'/><author><name>Alam Hijau</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16017713605066180734</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TABuawTZKHI/AAAAAAAAAEg/yF3pBdp5Wgs/S220/13642_102888239738321_100000514361875_77689_8304252_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TK58xk0iCuI/AAAAAAAAAIY/NPNGJWs6hrs/s72-c/global_warming+01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245848731703060805.post-5381455155333057479</id><published>2010-06-15T03:09:00.000-07:00</published><updated>2010-06-15T03:19:38.225-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='reportase'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kebijakan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pengalaman'/><title type='text'>Gendu-gendu Rasa Wong Desa ala Kebumen</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TBdTCTFPLUI/AAAAAAAAAHo/xsYUAL_uiEU/s1600/P1000014+N.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TBdTCTFPLUI/AAAAAAAAAHo/xsYUAL_uiEU/s200/P1000014+N.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5482942370293951810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Irama alat musik ‘Janeng’&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;  mengalun merdu, bertalu menggema memecah keheningan balai pertemuan Desa Kembaran, Kec.Kebumen, Kab. Kebumen. Musik tradisional yang mulai menghilang ini menjadi pertanda akan dimulainya diskusi dengan tajuk, “Gendu-gendu Rasa Wong Desa tentang ADD, Kemiskinan, dan Bedah Flamma”&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;. Peserta mulai berdatangan dan mengambil tempat duduk, demikian juga rombongan kami dari IRE Yogyakarta yang datang setengah jam lebih awal dibandingkan peserta lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gendu-gendu (membincangkan-red) Rasa, merupakan sesi diskusi komunitas yang diinisiasi oleh Karang Taruna Satma Kusuma Jaya yang didukung Pemerintah Desa (Pemdes) Kembaran. Dalam sambutannya, Dwi Agus Kurniawan, sang nahkoda Satma Kusuma Jaya, menyampaikan bahwa forum terbuka tersebut dimaksudkan untuk turut mendorong karang taruna agar lebih tahu dan peduli perihal ADD, menghimpun informasi pembangunan antar desa, serta menggali lessons-learned tetang pelaksanaan ADD sejauh ini. Sunaji Zamroni, peneliti dari IRE Yogyakarta, hadir sebagai pembicara untuk memaparkan perihal sejarah lahirnya ADD dan pengalaman IRE dalam mengawal pelaksanaanya ADD di berbagai daerah yang menjadi lokasi penelitian IRE. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan yang digelar Sabtu, 12 Juni 2010 tersebut tidak hanya dihadiri warga Desa Kembaran, tetapi juga perwakilah dari desa sekitarnya, beberapa LSM lokal, dan OMS yang ada di Kebumen, serta pihak Pemerintah Daerah yang diwakili oleh Kepala Bidang  (Kabid) dan Wakil Kepala Bidang (Wakabid) Bapermades (Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa) Kab. Kebumen.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ghofar Ismail N, Lurah Desa Kembaran, menjelaskan bahwa acara tersebut dalam rangka mencari ilmu, mengembangkan wawasan, untuk diamalkan secara bersama-sama demi kebaikan bersama. Beliau juga memuji kemajuan cara berpikir karang-tarunanya, yang punya inisiatif, berfikir terbuka, dan peduli pada pembangunan, dalam visi bersama membangun masyarakat, baik aspek moral, material, dan spiritual. Selain itu, beliau juga menegaskan bahwa pemuda memang harus bangkit, bergerak, karena kemajuan berada di tangan pemuda, dan merekalah yang kelak akan menjadi pemimpin berikutnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami senang dengan forum seperti ini, kami bisa mendapatkan apa-apa yang harus kami lakukan,” kata Ibu Herlina (Wakabid Bapermades) mengawali sambutannya. Selanjutnya, beliau menunjukkan beberapa dasar hukum dan mekanisme pelaksanaan ADD, diantaranya UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah, PP No. 72/2005 tentang Desa, Permendagri No 37/2007 tentang Pengelolaan Keuangan Desa, Perda Kebumen No. 2/2007 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah, dan Perbup No. 31/2008 tentang ADD. Kilasan sejarah, tujuan, manfaat, dan mekanisme pelaksanaan ADD di Kab. Kebumen juga tidak lepas dari paparannya.  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TBdSvk624wI/AAAAAAAAAHg/QqpOBtrl2Zo/s1600/P1000025+N.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TBdSvk624wI/AAAAAAAAAHg/QqpOBtrl2Zo/s200/P1000025+N.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5482942048664740610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sejarah pergulatan memperjuangkan lahirnya ADD di tingkat nasional, peran IRE  dalam upaya tersebut, serta sekilas tentang penelitian dan pendampingan IRE terkait isu-isu ADD merupaka topik-topik persoalan yang disampaikan oleh Sunaji Zamroni. “ADD telah membuka cara pandang baru, tentang kedudukan desa di mata Kabupaten,” tukas Sunaji memaknai munculnya kebijakan ADD. “Dan Kabupaten bukanlah Sinterklas, ADD adalah hak desa dan salah satu tindak lanjut kebijakan desentralisasi,” tambah Sunaji. Temuan-temuan unik seputar pelaksanaan ADD dari riset IRE di berbagai daerah dan masukan-masukan penting untuk perbaikan tak luput dari elaborasi yang disampaikan Sunaji Zamroni. Ia juga sesekali mengajak peserta untuk membuka-buka majalah Flamma yang telah ada di tangan mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merespon pertanyaan peserta tetang adanya perangkat desa di Kebumen yang sedang menghadapi kasus hukum karena dugaan penyimpangan ADD, baik Sunaji maupun Herlina menegaskan bahwa, asalkan mengikuti aturan hukum dan prosedur yang ada, masyarakat tidak perlu khawatir dalam mengelola ADD. “Sejauh aturannya dipenuhi, saya kira tidak ada masalah,” ujar Sunaji. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi yang dipandu oleh Borni Kurniawan diakhiri dengan harapan bersama bahwa partisipasi semua pihak, transparansi, dan akuntabilitas pelaksanaan ADD akan turut memastikan adanya pembangunan yang sesuai harapan bersama.&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Janeng dan Ebleg merupakan dua kesenian daerah yang tergolong tradisional. Dua kesenian itu sejak sekian lama telah menjadi jantung kesenian tradisional di kabupaten Kebumen. Dahulu, sekitar 1980-an, sebelum dangdut, musik pop, campursari, dan kesenian modern lain populer, musik Janeng sering dimainkan di mana-mana: di balai desa, kecamatan, pendopo kabupaten, dan di tempat orang punya hajat. (www.suaramerdeka.com).&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Majalan Flamma yang turut dibedah dalam diskusi tersebut adalah Majalah Flamma Edisi 33, Januari-Maret 2010, dengan tajuk “Menuntaskan Target lama, Sengkarut Penanggulangan  Kemiskinan”&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Note: Tulisan ini juga dipublikasikan dalam http://www.ireyogya.org/id/&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:10pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245848731703060805-5381455155333057479?l=yulinolpitu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/feeds/5381455155333057479/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/2010/06/gendu-gendu-rasa-wong-desa-ala-kebumen.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245848731703060805/posts/default/5381455155333057479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245848731703060805/posts/default/5381455155333057479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/2010/06/gendu-gendu-rasa-wong-desa-ala-kebumen.html' title='Gendu-gendu Rasa Wong Desa ala Kebumen'/><author><name>Alam Hijau</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16017713605066180734</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TABuawTZKHI/AAAAAAAAAEg/yF3pBdp5Wgs/S220/13642_102888239738321_100000514361875_77689_8304252_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TBdTCTFPLUI/AAAAAAAAAHo/xsYUAL_uiEU/s72-c/P1000014+N.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245848731703060805.post-2935996789576423147</id><published>2010-06-08T21:11:00.000-07:00</published><updated>2010-06-08T21:24:33.273-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='vegetasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='konservasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kerusakan lingkungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='satwa'/><title type='text'>Potensi Sultan’s Birds untuk Dusun Ketingan</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Keunikan atau sering dibahasakan dengan kata yang lebih indah, eksotisme, merupakan potensi alamiah Dusun Ketingan, yang telah diamini banyak pihak. Adalah sebuah dusun wisata alternatif yang menawarkan obyek konservasi fauna jenis burung kuntul atau blekok, serta paket wisata lain yang ada kaitannya denga pesona kehidupan pedesaan yang masih asri dan alami. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TA8U6D8RG0I/AAAAAAAAAF8/witWD62gbAE/s1600/DSC_2442+NN.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 133px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TA8U6D8RG0I/AAAAAAAAAF8/witWD62gbAE/s200/DSC_2442+NN.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5480622259256236866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Menjejakkan langkah ke wilayah tersebut kita akan langsung disambut dengan jalan desa beraspal, meskipun sudah mulai berlubang di sana-sini, dan gapura kembar (pertama) warna krem bertepi coklat yang menjulang kokoh. Gapura kiri, dihinggapi sebuah patung burung kuntul besar warna putih, sedangkan gapura kanan ditenggeri tiga patung burung serupa, seekor kuntul besar dan dua blekok kecil yang semuanya berwarna putih. Keempat putung tersebut seperti dirancang khusus berpose kas layaknya burung sawah liar kebanyakan, yang menggambarkan keceriaan, kedamaian, dan kebebasan kehidupan liar, yang dijamin kelestariannya oleh masyarakat setempat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Tepat di depan sebelah kanan gapura megah tersebut, terpampang dua plang kokoh. Plang yang lebih tinggi, berpenyangga pipa besar tunggal, dan berwarna dasar hitam &lt;i style=""&gt;flat&lt;/i&gt; bertuliskan huruf besar warna putih, “Selamat Datang di Desa Wisata Fauna Ketingan, Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati.” Sedangkan, yang lebih pendek, berkaki dua, bercat dasar warna putih dengan tulisan warna hitam tegas berbunyi, “Dilarang Berburu, Sesuai: UU No. 5 Tahun 1990 dan Instruksi Gubernur Nomor: 10/INSTR/1998, BKSDA Yogyakarta, DIPA Tahun 2009.” Plang-plang tersebut tentu saja sudah bisa mewakili betapa seriusnya komitmen masyarakat setempat untuk membawa desanya tumbuh menjadi desa wisata alternatif yang menjanjikan keunikan khas pedesaan yang ramah terhadap ekosistem.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TA8U6hprolI/AAAAAAAAAGE/MQs4-ZmM4mI/s1600/DSC_2463+NN.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 133px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TA8U6hprolI/AAAAAAAAAGE/MQs4-ZmM4mI/s200/DSC_2463+NN.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5480622267231347282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Gapura kedua yang jauh lebih megah adalah penanda selanjutnya yang menjadi gerbang utama masuk ke Dusun Ketingan. Gapura dengan dominasi warna krem dan list coklat tua, yang bagian atasnya saling terhubung menyatu dengan naungan atap genting yang kokoh, selain menyuguhkan tulisan “Selamat Datang” juga menampilkan slogan lain berbunyi, “Estining Gapuro Trus Manunggal, Dusun X Ketingan”, yang ditengahnya terdapat pahatan tanda tangan Sri Sultan HB X, raja ke-10 Kasultanan Yogyakarta. Sebuah papan bergambar peta daerah wisata Dusun Ketingan, yang menampilkan &lt;i style=""&gt;layout&lt;/i&gt; obyek-obyek wisata berupa rumah joglo khas arsitektur Jawa, gardu pandang, persawahan, peternakan, kolam pakan burung kuntul, dst. berdiri tegar di sisi kanan depan gapura. Di seberang kiri, berdiri juga plang peringatan larangan berburu yang serupa dengan yang ada di depan gerbang pertama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Melewati kedua gerbang penanda tersebut kita langsung disambut dengan pohon-pohon tinggi merindang, hijau menyegarkan mata. Diantaranya, rumpun-rumpun pohon bambu, kelapa hijau, johar, adem-adem ati, mlinjo, nangka, flamboyan, juga pohon mangga. Nah, menjadi daya tarik utama adalah, di pucuk-pucuk sebagian besar pohon-pohon tersebut bertengger, dan sesekali meloncat-loncat, kemudian terbang berpindah ke pohon lain, burung-burung besar warna putih bersih yang tampak sehat. Di ruas-ruas percabangan ranting pohon, banyak dihiyasi onggokan-onggokan ranting kecil dan daun kering yang menjadi sarang peraduan keluarga ribuah burung musiman kuntul. Suara teriakan &lt;i style=""&gt;piyikan&lt;/i&gt; (anak-anak burung) yang meminta suapan makanan dari induknya berpadu dengan derat-derit suara daun dan ranting pohon, yang ditiup desir angin turut melengkapi keunikan dan keindahan Dusun Ketingan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TA8U73a6l6I/AAAAAAAAAGU/q84YojOG0Rc/s1600/DSC_2486+NN.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 133px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TA8U73a6l6I/AAAAAAAAAGU/q84YojOG0Rc/s200/DSC_2486+NN.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5480622290254862242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Menurut penuturan beberapa warga setempat, koloni burung kuntul dan blekok mulai datang dan singgah di Dusun Ketingan sejak tahun 1997. Awalnya hanya beberapa ekor saja. Singgah di rumpun-rumpun bambu di pinggiran dusun. Namun, seiring berjalannya waktu koloni mereka semakin banyak, ratusan ekor, dan kemudian menjadi ribuan. Entah ada kaitannya atau kebetulan belaka, menurut Pak Haryono, yang hingga saat ini menjadi Ketua Pengelola Desa Wisata Ketingan, fauna migran tersebut mulai datang ke dusunnya setelah kunjungan Sri Sultan HB X berserta istrinya, dalam rangka meresmikan jalan dan gapura dusun, hasil swadaya masyarakat. Konon, tidak lama setelah kunjungan Raja Kasultanan Yogyakarta tersebut koloni burung kuntul dan blekok mulai rutin datang dan berkembangbiak. Awalnya hanya puluhan ekor saja, tetapi lama kelamaan semakin banyak. Itulah kenapa, muncul anggapan di benak sebagian warga bahwa kedatangan koloni unggas tersebut tak lepas dari ‘tuah’ yang dibawa serta oleh kunjungan Raja Jawa. Hingga muncul sebutan ‘burung sultan’ atau ‘Sultan’s birds’. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Pada awalnya warga Ketingan sempat kawatir bahwa kehadiran ribuan satwa dilindungi terebut akan membawa dampak buruk bagi kehidupan mereka. Mengingat, ribuan satwa tersebut berdatangan dalam jumlah yang luar biasa besar, bertengger, dan bersarang tidak hanya di rumpun-rumpun bambu di tepiah sawah, akan tetapi juga mendiami vegetasi produktif lain yang selam ini turut membantu meningkatkan pendapatan masyarakat diluar pertanian sawah. Yakni, pohon kelapa hijau dan tanaman melinjo. Belum lagi dengan kotoran dan bulu-bulu mereka, yang mengotori dan menimbulkan bercak-bercak putih di dedaunan pohon dan tanah dibawahnya. Selain berbau anyir, masyarakat sempat mengkawatirkan munculnya wabah penyakit yang bisa ditularkan oleh fauna jenis unggas tersebut. Namun, keresahan warga akhirnya mereda, setelah hasil penelitian yang diorganizir oleh Tim dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada mampu membuktikan bahwa kotoran burung kuntul di Ketingan tidak berbahaya. Kekawatiran masyarakat terhadap kemungkinan penularan virus flu burung dibantah oleh tim ahli tersebut, “Menurut beliau-beliau, burung kuntul yang singgah di sini, adalah jenis pemakan binatang kecil dan serangga. Sedangkan unggas yang potensial menularkan virus adalah mereka yang pemakan biji-bijian,” terang Haryono, Ketua Pengelola Desa Wisata Ketingan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Mengukuhkan kabar gembira yang dipaparkan tim ahli dari UGM, hasil penelitian pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) juga mengungkapkan fakta yang tidak jauh beda, bahwa koloni unggas musiman tersebut dipandang aman, sejauh ini tidak membawa wabah penyakit tertentu. “Aman kok, selama ini belum pernah ada warga yang sakit karena burung-burung kuntul itu,” ungkap Triyanto (28), seorang anggota karang taruna setempat. Fakta lainya adalah, kotorannya, yang berwana putih dan berbau agak amis, sangat baik untuk tanah, karena mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Fakta-fakta positif yang dilandasi kajian ilmiah tersebut, semakin mendorong dan menguatkan komitmen warga Dusun Ketingan untuk mengembangkan potensi alamnya. Harapanya, mereka akan mendapatkan keuntungan ekonomis dan ekologis yang pada akhirnya bisa mendongkrak kesejahteraan mereka. Selain itu, mereka tidak ragu-ragu lagi untuk semakin hidup dekat, berdampingan, dan turut menjaga keberadaannya. Mereka tidak enggan lagi untuk memberi makan kuntul, juga menyelamatkan &lt;i style=""&gt;piyikan&lt;/i&gt; yang belum bisa terbang yang kebetulan terjatuh ke tanah. Mereka berusaha mengembalikannya ke sarang asalnya. Para pemburu burung pun dijamin tidak akan bisa melampiaskan hobby buruknya di kawasan konservasi Ketingan. Warga telah memajang papan-papan peringatan larangan berburu di beberapa tempat strategis, dan tak segan-segan untuk mengusir mereka yang nekat melampiaskan syahwat destruktifnya mengusik kedamaian ekosistem di wilayahnya. Kesungguhan, interaksi yang harmonis, dan kepedulian mereka terhadap kelestarian lingkungan alam, terutama fauna kuntul dan blekok, menjadikan dusunnya menjadi salah satu daerah konservasi di Yogyakarta. Capaian itu tentunya sangat membanggakan banyak pihak. Belum lagi penghargaan yang telah diberikan kepada salah satu panutan mereka, Haryono, yang pada Agustus 2008, diundang ke Istana Negara untuk dianugerahi sebuah kehormatan, sebagai Kader Konservasi Alam, oleh Presiden Susilo Bambang Yodhoyono.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TA8W6j15SdI/AAAAAAAAAGk/Il9LAek5mKk/s1600/DSC_2478+NN.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 134px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TA8W6j15SdI/AAAAAAAAAGk/Il9LAek5mKk/s200/DSC_2478+NN.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5480624466842700242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Dusun yang berjarak sekitar tiga kilometer dari Jalan Magelang tersebut telah resmi menyandang status sebagai Desa Wisata sejak 2002. Didukung oleh Pemerintah Kabupaten Sleman,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), dan Pusat Studi Pariwisata (Puspar) UGM, Ketingan terus berupaya mengembangkan diri dan menguatkan status barunya. Tentu saja, status itu membawa konsekwensi sekaligus dampak positif terhadap kemajuan ekonomi dusun, kendati warganya dituntut untuk melakukan lebih banyak lagi upaya guna mengembangkan potensi, dan kemudian menjualnya menjadi paket eko-wisata yang dalam beberapa tahun terakhir semakin mendapatkan perhatian publik, ditengah hiruk-pikuk issue global menyangkut perbaikan dan kelestarian lingkungan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ada beberapa paket eko-wisata yang dikembangkan dan ditawarkan Dusun Ketingan. Menu utamanya adalah kesempatan bersantai menghirup udara pedesaan yang segar sambil melakukan pengamatan tingkah-laku kawanan burung kuntul yang pada kesempatan tertentu jumlahnya bisa ribuan. Terutama ketika musim hujan tiba, kawanan burung mulai berdatangan dalam jumlah besar, mulai membangun sarang, dan membesarkan anak-anaknya. Paket utama ini dikombinasikan dengan kesempatan bagi para wisatawan yang ingin merasakan sensasi terlibat langsung pada kegiatan pertanian yang biasanya juga aktif dan padat di musim penghujan. Pengunjung bisa ikutan membajak sawah bersama petani, bermain lumpur di lahan pertanian sambil mengamati burun-burung kuntul yang ikut turun ke lahan pertanian untuk berburu makanan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Daya tarik lain yang juga bisa dinikmati wisatawan adalah pertunjukan seni tradisional. Pengunjung bisa mengikuti kegiatan seni seperti jathilan, pek bung, gejog lesung, dan wayang kulit. Khusus untuk pertunjukan wayang kulit, biasanya dilakukan setahun sekali, bersamaan dengan perayaan ritual ‘merti bumi’, yang untuk Dusun Ketingan biasanya jatuh pada bulan Juni. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TA8U8QOo26I/AAAAAAAAAGc/6DR6rQiY0aY/s1600/DSC_2494+NN.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 136px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TA8U8QOo26I/AAAAAAAAAGc/6DR6rQiY0aY/s200/DSC_2494+NN.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5480622296914254754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Untuk kepentingan mengankat potensi yang bisa disuguhkan kepada masyarakat luar, terutama para wisatawan, Dusun Ketingan secara rutin menyelenggarakan ritual Merti Bumi, dengan prosessi kegiatan yang lebih spektakuler disbanding jaman sebelumnya. Masyarakat digerakkan, mereka mengenakan pakaian khusus dan melakukan kirap mengelilingi dusun. Sedikit berkiblat kepada prosesi Grebekan Maulid ala Kraton Jogja, Merti Bumi di Ketingan juga mengarak berbagai hasil bumi yang diusung dalam bentuk tumpeng besar atau disebut ‘gunungan’. Nah, di malam harinya ditutup dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Tujuannya, “Itu sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas berkah dari Alloh, Mas,” &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;kata Supar, kepala dusun Ketingan.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Paket pelengkap lain, yang juga sendang diinisiasi warga adalah, kesempatan bagi wisatawan belajar membuat, meracik, dan mencicipi makanan dan minumas khas daerah setempat. Termasuk, belajar meramu jamu tradisional dan membuat keripik atau emping mlinjo, yang kebetulan banyak dihasilkan dari lading mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Guna mendukung semua upaya diatas, Pengelola Desa Wisata Ketingan juga menyiapkan beberapa orang pemandu local yang dibekali bahasa Enggris, juga membangun menara pandang bagi mereka yang ingin melakukan pengamatan dari ketinggian. Selain itu, warga juga diajak untuk merelakan dan menyiapkan sebagian bilik rumah mereka untuk difungsikan sebagai tempat penginapan (homestays) bagi wisatawan yang ingin bermalam, yang ingin menikmati suasana malam hari ala pedesaan, yang penuh keramahan, kehangatan pergaulan ala pedusunan, sambil menikmati suara jangkrik dan nyanyian katak di kesunyian malam, serta kelap-kelip kunang-kunang yang berterbangan di kegelapan rumpun-rumpun bambu, yang tentu saja tidak akan ditemukan di perkotaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sejauh ini, tersedia sekitar 40 rumah dengan kapasitas sekitar 225 orang, dengan tarip Rp 75.000,00 per orang per hari. Makanan dan minuman yang khas Dusun Ketingan juga menjadi fasilitas yang akan diberikan kepada setiap tamu yang meginap. Menurut ketua pengelolanya, Haryono, “Kalau pengunjung memerlukan kendaraan antar jemput, kami juga bisa menyediakan.” Dengan demikian, lanjut beliau, diharapkan para pengunjung bisa mendapatkan kepuasan baik dari aspek obyek wisata yang ditawarkan maupun pelayanan akomodasi yang diberikan oleh pihak pengelola. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tercatat, tak kurang dari 1.000 wisatawan bertandang ke Dusun Ketingan setiap tahunnya. Meskipun rata-rata dari mereka adalah para pelajar, mulai dari Taman Kanak-kanak dan Play Grup, hingga mahasiswa yang ingin berwisata sambil belajar tentang fauna langka, turis dan ahli manca negara pun juga banyak yang berkunjung melihat lebih dekat tentang keistimewaan Dusun Ketingan. “Banyak kok, ada dari Jerman, Australia, Jepang, dan negera lain,” tukas Haryono lebih lanjut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Wisatawan yang berkunjung ke Dusun Ketingan biasanya memberikan berita dulu jauh sebelum hari kedatangannya. Mereka cenderung rombongan dengan dua atau tiga bus wisata. Ini menegaskan bahwa kedatangan mereka tak lepas dari peranan biro jasa perjalanan wisata, kerjasama dengan instansi terkait, dan promosi yang semakin gencar mereka lakukan. Wajar adanya bila diantara wisatawan domestic, tercatat berasal dari kota yang jauh seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Kebumen, Purbalingga, dll.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Status sebagai sebuah desa wisata yang disandang Dusun Ketingan telah membawa berkah yang turut memberikan insentif ekonomi bagi seluruh warga. Hampir semua ruas jalan dusun sudah dikeraskan baik dengan cor-blok beton maupun aspal (hot-mixed). Rumah warga juga banyak yang bagus, bersih, berlantai mengkilat, dan kelihatan mapan secara ekonomi. Warga pun juga terdorong untuk melakukan inovasi yang memungkinkan dusunya bergerak lebih cepat dibandingkan fase sebelum penetapan sebagai tujuan eko-wisata. Apalagi, arus utama tren perubahan bidang pariwisata cenderung bergeser ke sisi yang lebih ‘green’, lebih mengedepankan aspek kelestarian lingkungan. Tentu saja, ini bukan kabar ‘burung’ yang tak perlu dihiraukan, tapi kecenderungan gerak arus global yang semakin berpihak pada alam, dan memberikan peluang besar bagi kemajuan eko-wisata di Dusun Ketingan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245848731703060805-2935996789576423147?l=yulinolpitu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/feeds/2935996789576423147/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/2010/06/potensi-sultans-birds-untuk-dusun.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245848731703060805/posts/default/2935996789576423147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245848731703060805/posts/default/2935996789576423147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/2010/06/potensi-sultans-birds-untuk-dusun.html' title='Potensi Sultan’s Birds untuk Dusun Ketingan'/><author><name>Alam Hijau</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16017713605066180734</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TABuawTZKHI/AAAAAAAAAEg/yF3pBdp5Wgs/S220/13642_102888239738321_100000514361875_77689_8304252_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TA8U6D8RG0I/AAAAAAAAAF8/witWD62gbAE/s72-c/DSC_2442+NN.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245848731703060805.post-5455383273021989502</id><published>2010-05-25T03:01:00.002-07:00</published><updated>2010-05-25T03:18:08.846-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='konservasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kerusakan lingkungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='green lifestyle'/><title type='text'>Pertanian Organik, Potensi dan Kendalanya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S_ujxAIjeHI/AAAAAAAAADo/4_WAZ5QPZHY/s1600/29220_1172943702146_1784642463_327464_5955685_n.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S_ujxAIjeHI/AAAAAAAAADo/4_WAZ5QPZHY/s200/29220_1172943702146_1784642463_327464_5955685_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5475149834243766386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pola pertanian organik semakin mendominasi wacana bidang pertanian dewasa ini. Praktek pertanian yang pada dasarnya tidak jauh beda dengan model pertanian tradisional warisan nenek moyang kita, namun sudah puluhan tahun banyak ditinggalkan petani karena kehadiran revolusi hijau, kini semakin populer, diakui potensinya, dan dianjurkan oleh banyak kalangan. Pengakuan dan anjuran tersebut didasari dengan beberapa pertimbangan, mulai dari aspek nilai tambah secara ekonomi, aspek kualitas bahan konsumsi untuk kesehatan jangka panjang tubuh manusia, aspek penyelamatan dan kelestarian lingkungan (&lt;i style=""&gt;environmentally friendly&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;and&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;farming sustainability&lt;/i&gt;), hingga aspek ideologis yang oleh banyak kalangan ingin diperjuangkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Keunggulan nilai tambah ekonomi tersebut, atau harga premiun yang menjanjikan petani, tentu saja bisa dikembangkan menjadi alternatif jalan untuk mendongkrak penghidupan petani kecil. Harapanya, peluang tersebut bisa menjadi cara tambahan untuk membantu mengetaskan petani kecil dari belenggu kemiskinan. Namun demikian, untuk mengajak atau mendorong mereka beralih ke pertanian cara organik, tidaklah semudah yang kita bayangkan. Ada beberapa kendala atau tantangan serius yang bisa kita ketengahkan dalam tulisan ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;, adanya mitos bahwa pertanian organik sulit dilakukan, rumit juga syarat tehnologi baru, dan memerlukan banyak &lt;i style=""&gt;resources&lt;/i&gt; dalam pelaksanaannya. Seperti penuturan Sutarman, Kaur Perencanaan Desa Giritirto, Kec. Purwosari, Kab. Gunungkidul, yang pernah mencoba mengaplikasikan sistem pertanian organik lahan basah di persawahannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;, diperlukannya masa transisi yang relatif lama (sekitar 2-3 tahun) yang harus dilewati para petani ketika mulai beralih ke aplikasi pola pertanian organik. Pada fase transisi ini petani biasanya akan mengalami kerugian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(D. Geovannucci, 2007). Hasil pertaniannya cenderung menurun drastis dibandingkan dengan pola pertanian konvensional. Seperti juga pengakuan Pak &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Muryanto&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;, kepala Dukuh Glagah, Desa Nglegi, Kec. Patuk Kab. Gunungkidul, yang sejauh ini telah menekuni pertanian organik, bahwa pada awalnya dia menderita kerugian, karena hasil panen sawahnya langsung ‘&lt;i style=""&gt;njeglek&lt;/i&gt;’ (merosot tajam-red) bila dibandingkan panen sebelumnya ketika masih menggunakan sistem konvensional. Beliau menjelaskan bahwa pada masa transisi tersebut, kesuburan tanah masih belum pulih, sebagai dampak dari penggunaan pupuk kimiawi yang telah berlangsung puluhan tahun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;, adanya kendala pemasaran produk organik, karena produk organik masih berharga mahal (&lt;i style=""&gt;premium&lt;/i&gt;), sehingga memiliki segmen pasar khusus, dan jaringannya masih dikuasai oleh pelaku bisnis bermodal besar, sehingga para petani kecil merasa kesulitan untuk mendapatkan akses pasar yang luas. Ini tidak jauh berbeda dengan apa yang diungkapkan Pak Putut, seorang petani pemula yang sendang merintis pertanian organik untuk sayur-sayuran dan buah-buahan berusia pendek seperti lombok, tomat, timun, melon, dan semangka, yang mengelola lahan persawahan di leren Timur Gunung Lawu, Jawa Timur. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Belum lagi, produk-produk pertanian organik seringkali penampilan fisiknya juga tidak sebagus produk-produk non-organik. Tidak digunakannya pupuk dan pestisida kimiawi seringkali membuat tampilan tanaman organik terkesan kurang sehat atau tidak se-subur yang non-organik, dan juga rentan terhadap serangan hama, sehingga terkadang ‘wajahnya’ bopeng dan ada cacatnya. Nah, penampilan yang kalah ‘kinclong’ seperti itu juga sering menjadi kendala pemasaran produk pertanian organik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Keempat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;, belum adanya dukungan yang lebih nyata dan meluas dari pemerintah. Terutama dalam bentuk kampanye yang &lt;i style=""&gt;massive&lt;/i&gt; dan terus-menerus perihal pertanian organik, mulai dari pentingnya beralih ke makanan organik bagi masyarakat hingga bagaimana cara mengelola pertanian dan industri produk pertanian organik. Selain itu, pemerintah juga perlu memberikan akses informasi tentang potensi dan peta pasar, fasilitasi untuk promosi dan pameran, serta fasilitasi lahirnya kelembagaan pelaku pertanian organik, dan pelatihan-pelatian yang intensif bagi masyarakat bawah (petani kecil). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Perihal kelembagaan, petani kita sebenarnya telah paham dan memiliki cukup banyak variasi organisasi yang berbasis pertanian yang tersebar di seluruh Indonesia. Namun demikian, kapasitas mereka tetap perlu didongkrak dan dibangun kembali, dilengkapi dengan pengetahuan atau tehnologi baru, melalui bermacan training yang biayanya sepenuhnya ditanggung oleh anggaran pemerintah. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Pelatihan-pelatihan yang intensif dilengkapai dengan kegiatan-kegiatan studi-banding yang relavan akan memudahkan gerak kemajuan pertanian ekologis tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Kelima&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;belum adanya regulasi (terutama di Indonesia) dan badan sertifikasi yang terjamin kredibilitasnya, sehingga bisa melahirkan trust antara produsen dan konsumen, yang pada gilirannya akan menopang berkembangnya bisnis pertanian dan produk organik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Barangkali, regulasi yang harus dikeluarkan pemerintah juga harus mencakup adanya jaminan proses transaksi perdagangan yang ‘fair-trade’, yang saling memberikan keuntungan layak bagi petani kecil sebagai produsen, buruh, pelaku bisnis pendukung dan konsumen. Sehingga semua untung, semua mendapatkan bagiannya secara adil. Dengan demikian, produsen (terutama petani kecil/buruh) bisa mengenyam keuntungan yang sesungguhnya. Tidak hanya sekedar memberikan subsidi ‘derma’ kepada para pemodal besar yang menguasai distribusi dan pemasaran produk pertanian, seperti yang selalu terjadi hingga sekarang ini. Sehingga gagasan tinggi untuk menjadikan model pertanian organik sebagai salah satu cara tambahan untuk mengatasi kemiskinan petani kecil, bisa diwujudkan. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Sedangkan perihal sertifikasi, sudah semestinya pemerintah juga memberikan subsidi dan dukungan sepenuhnya, sehingga ada kemudahan bagi petani kecil untuk mendapatkan sertifikasi untuk produk-produknya. Harapanya, selain prosenya mudah biaya administrasinya juga relatif terjangkau bagi produsen (petani) kecil, sehingga ada kemudahan sekaligus motivasi kuat dikalangan petani kecil untuk mengembangkan usahanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S_uilI_zcnI/AAAAAAAAADY/VTtdzdyT7NA/s1600/29201_418486294714_148674989714_5441111_5709270_n.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 128px; height: 128px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S_uilI_zcnI/AAAAAAAAADY/VTtdzdyT7NA/s200/29201_418486294714_148674989714_5441111_5709270_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5475148530952925810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Mengulang kembali apa yang telah sedikit disinggung di awal tulisan ini, bahwa model pertanian organik sangatlah menarik dan bisa menjadi terobosan alternatif untuk mengurangi beberapa masalah yang dihadapi masyarakat luas dewasa ini. Keunggulan-keunggulan dan potensi besar yang dimili&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;ki&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt; pertanian organik bisa dielaborasi lebih lanjut seperti berikut ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Meningkatkan pendapatan petani kecil&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;. Pertanian organik sangat potensial untuk mengatasi rendahnya pendapatan petani kecil, mengingat produk pertanian organik lebih diminati kelas menengah, yang nota bene memiliki daya beli untuk produk-produk dengan banderol &lt;i style=""&gt;premiun&lt;/i&gt; (seperti produk organik) dan punya kesadaran yang relatif tinggi dalam hal kesehatan dan isu lingkungan. Meskipun, peran tengkulak atau distributor seringkali menggagalkan potensi pendapatan petani kecil tersebut. Di sini, peran negara seharusnya bekerja untuk menjamin tegaknya transaksi ‘fair’ yang bisa memberikan harapan petani kecil untuk mengamankan nilai lebih hasil produksinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Menyerap lebih banyak tenaga kerja.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt; Layaknya pola pertanian tradisional, perlakuan khusus terhadap komoditi tanaman organik merupakan pekerjaan yang padat karya, sehingga sistem pertanian tersebut bisa menyerap lebih banyak ternaga kerja dibandingkan dengan pola konvensional. Karakteristik tersebut, tentu saja sangat sesuai dengan situasi dan kondisi Indonesia yang memiliki angka penganggurang sangat tinggi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Disamping itu, urgen-nya peningkatan kapasitas petani dan kelembagaannya, juga akan membuka peluang kerja bagi pengangguran terdidik dibidang lingkungan dan pertanian serta bidang relevan lain untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuannya mendampingi dan mendidik petani kecil yang berkecimpung di sektor pertanian organik tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Mengurangi pencemaran lingkungan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;. Selama ini sistem pertanian yang konvensional, yang modern dan bukan yang ekologis, sejak era 60-an ketika revolusi hijau mulai diperkenalkan telah terbukti mampu mendongkrak hasil panen petani. Namun demikian, sistem yang ditopang dengan kebijakan pemerintah Orde Baru yang populer dengan istilah ‘Panca Usaha Tani’ tersebut, terbukti telah memberikan dampak buruk terhadap lingkungan dan keberlanjutan usaha pertanian itu sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Sistem Panca Usaha Tani, menekankan pada cara pengolahan tanah yang intensif, penyemaian bibit yang unggul, aplikasi pupuk sintetis (bukan organik), sistem irigasi yang maksimal, serta pengendalian hama tanaman secara serentak atau menyeluruh dengan pestisida sintetis (kimiawi), sehingga terjadi exploitasi tanah dan air yang berlebihan, juga pencemaran tanah dan air yang tidak hanya berbahaya bagi kehidupan biota sekitarnya (ekosistim setempat), tapi juga mengancam kesehatan jangka panjang manusia. Karena pestisida dan pupuk kimiawi terbukti meninggalkan residu di dalam produk pertanian yang dihasilkan. Dan, bisa tertimbun dalam tubuh siapapun yang mengkonsumsi produk tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Turut berperan dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;. Seperti kita tahu bahwa kesehatan manusia berkaitan erat dengan apa yang mereka makan dan bagaimana kualitas lingkungan mereka. Dengan adanya bahan pangan organik, asumsinya apa yang dikonsumsi masyarakat akan menjadi lebih sehat. Paling tidak, sumber pangan mereka tidak lagi mengandung residu bahan-bahan kimia, baik dari pupuk, herbisida, fungisida, dan pestisida kimiawi, yang menurut para ahli kesehatan sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Lebih jauh lagi, aplikasi pestisida pada lahan pertanian juga terbukti telah turut mencemari perairan, tanah, dan udara yang dekat dengan lahan pertanian. Tanah, air, dan udara yang tercemar tentu saja akan mengancam tidak hanya manusia tapi juga lingkungan serta biota yang melengkapinya. Sedangkan manusia juga bagian dari ujung tertinggi rantai makanan, bisa dipastikan manusia akan menjadi pengepul terakhir polutan yang ada di lingkungannya. Bisa kita bayangkan akumulasinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Turut mengurangi produksi emisi gas rumah kaca (GRK).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt; Dikaitan dengan isu dunia, global warming, sistem pertanian organik bisa menjadi salah satu upaya untuk mengurangi produksi GRK. Seperti yang terungkap dalam hasil beberapa riset bahwa aplikasi pupuk kimiawi juga punya kontribusi tidak sedikit bagi meningkatnya emisi GRK, yakni nitrogen dioksida, yang berasal dari hasil peruraian pupuk tanaman non-organik (Kompas, 1/10/2007). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S_ujBhkLbzI/AAAAAAAAADg/wNTSNOr_KxE/s1600/29751_418228379714_148674989714_5436707_2451184_n.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 128px; height: 128px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S_ujBhkLbzI/AAAAAAAAADg/wNTSNOr_KxE/s200/29751_418228379714_148674989714_5436707_2451184_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5475149018584280882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pemetaan sederhana tentang potensi dan kendala sistem pertanian organik di atas, diharapkan bisa memberikan tambahan wacana bagi kita semua utuk menimbang-nimbang, desakan seperti apa yang layak kita bidikkan kepada pemerintah dan stakeholders lain, serta peran apa yang bisa kita ambil untuk mensikapi gagasan perihal pertanian organik tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Dengan kapasitanya, pemerintah perlu bergerak dan berupaya lebih lekas untuk menjamin berjalannya model pertanian organik dengan melibatkan seluruh stakeholders, termasuk petani sendiri, LSM, koperasi, jaringan pertanian organik, konsumen, sektor swasta, lembaga pemerintah dan organisasi lintas pemerintahan. Singkatnya, model pertanian orgnik seharusnya menjadi bagian integral kebijakan pemerintah dalam mewujudkan pembangunan daerah perdesaan dan pertanian nasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Selain itu pemerintah juga harus memberikan dukungan tambahan kepada para petani berupa pelatihan-pelatihan tentang pertanian organik dan tata kelolanya, serta studi banding ke tempat lain yang sudah berhasil, mengingat model pertanian organik sudah puluhan tahun tidak dipraktekan lagi oleh petani, selain sudah semakin berkembangnya temuan baru soal tehnologi pertanian organik yang sudah banyak diterapkan di belahan dunia lain. ***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245848731703060805-5455383273021989502?l=yulinolpitu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/feeds/5455383273021989502/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/2010/05/pertanian-organik-potensi-dan.html#comment-form' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245848731703060805/posts/default/5455383273021989502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245848731703060805/posts/default/5455383273021989502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/2010/05/pertanian-organik-potensi-dan.html' title='Pertanian Organik, Potensi dan Kendalanya'/><author><name>Alam Hijau</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16017713605066180734</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TABuawTZKHI/AAAAAAAAAEg/yF3pBdp5Wgs/S220/13642_102888239738321_100000514361875_77689_8304252_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S_ujxAIjeHI/AAAAAAAAADo/4_WAZ5QPZHY/s72-c/29220_1172943702146_1784642463_327464_5955685_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245848731703060805.post-2945452455373656404</id><published>2010-03-01T20:04:00.000-08:00</published><updated>2010-03-01T23:01:17.997-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosok'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pertanian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='green lifestyle'/><title type='text'>Kerja Keras, Salah Satu Kuncinya</title><content type='html'>&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;From zero to hero&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;. Kalimat pendek tersebut barangkali bisa merangkum cerita panjang pergulatan Sudiyono &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;(54) &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;dalam mengubah nasib dirinya dan teman sesama petani lewat budidaya salak pondoh di Dusun Candi, Desa Bangunkerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Itimewa Yogyakarta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S4yc8G365mI/AAAAAAAAADA/60WFvIcbwsI/s1600-h/DSC_1399.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 182px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S4yc8G365mI/AAAAAAAAADA/60WFvIcbwsI/s200/DSC_1399.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5443898606035330658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;Bapak dua anak, sekaligus kakek seorang cucu ini adalah sosok pekerja keras, &lt;i style=""&gt;entengan&lt;/i&gt; atau cekatan dan tulus dalam membantu orang lain, serta tidak pernah bohong. Dengan karakter yang demikian, sudah barang tentu masyarakat selalu menaruh kepercayaan dan mengikuti jalan pikirannya. Terbukti mereka yang dulunya menjadi buruhnya, kini telah menjadi petani yang sama, turut menjadi makmur. Karena beliau tidak pernah pelit memberikan ilmunya, bahkan turut memodali bekas buruhnya dengan bibit-bibit yang sama unggulnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tak sedikit petani lain di daerah Turi yang menjulukinya sebagai pakar salak pondoh. Karena beliau&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;lah yang telah berhasil menjinakan sulitnya budidaya salak pondoh, yakni dengan metode &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;vegetatif (&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;cangkok&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;)&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;, dengan memanfaatkan &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;botol &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;plastik bekas kemasan infus. Ini merupakan terobosan jitu untuk memastikan sifat unggul salak pondoh varietas super tetap terwariskan pada bibit-bibit berikutnya.&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; Sebelumnya metode pembiakan dengan ‘tanam biji’ juga pernah dilakukan, akan tetapi sifat-sifat istimewa tanaman tersebut tidak selalu terbawa pada generasi berikutnya. “Nah, metode cangkok dengan plastik bekas infus inilah yang bisa diandalkan untuk mendapatkan bibit turunan yang memiliki karakter seratus persen sama dengan induknya”, terang Sudiyono dengan antusias.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Menurut &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Beliau &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;dan pengakuan petani lain, Kecamatan Turi awalnya merupakan kawasan pertanian padi, tembakau, jagung&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;, dan beberapa jenis palawija lain&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; yang kurang produktif, serta belum bisa mengubah nasib mereka yang saat itu tergolong miskin dan terbelakang. Lahan pertanian mereka yang terdiri dari tanah &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;regosal&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;dengan ketinggian &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;tanah &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;sekitar 300 meter&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; dari permukaan laut,&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; kurang &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;menghasilkan keuntungan yang memadahi &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;untuk &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;pertanian padi, belum lagi potensi pengairan yang saat itu belum bisa menjamin kebutuhan pertanian sepanjang tahun&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S4yc84hWR6I/AAAAAAAAADQ/6JppLG8raMo/s1600-h/DSC_1461.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 132px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S4yc84hWR6I/AAAAAAAAADQ/6JppLG8raMo/s200/DSC_1461.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5443898619362428834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;Pada era sekitar 1975, S&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;udiyono mencoba meraba-raba, apa gerangan yang membuat petani di sekitarnya tak kunjung mampu lepas dari kubangan kemiskinan yang telah turun-temurun. Sedangkan kalau ditinjau dari lahan yang mereka miliki, hampir semua dari mereka memiliki tanah pertanian yang cukup luas. Kemudian beliau mengkaji, dengan bekal pengetahuan soal manajemen, yang didapatkan dari bangku perguruan tinggi, dihitunglah untung-rugi pertanian yang saat itu sedang dijalankan para petani. Maka ketemulah sebuah kesimpulan bahwa apa yang telah dikerjakan petani belum bisa menghasilkan panen yang bisa memberikan ‘&lt;i style=""&gt;bathi&lt;/i&gt;’ (keungtungan) yang mencukupi kebutuhan hidup mereka.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bahkan, bisa dikatakan cenderung ‘&lt;i style=""&gt;pak-puk&lt;/i&gt;’ atau impas saja&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;. “S&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;egitu biaya yang dikeluarkan, segitu pula hasil panen yang didapatkan&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;” kesimpulan Sudiyono setelah melakukan ‘&lt;i style=""&gt;itung-itungan&lt;/i&gt;’ sederhana, mengukur tingkat ekonomis budidaya tanaman produktif saat itu. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sehingga, mereka justru merugi pada &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;aspek &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;waktu, tenaga, dan pikiran yang telah mereka curahkan untuk proses produksi tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kesimpulan dari ‘penakaran’ tersebut telah mendorong Sudiyono &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;keras &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;memutar otak guna mencari solusi yang bisa &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;mendedah &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;persoalan tersebut. Setelah berbulan-bulan berfikir, akhirnya beliau&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; bisa membaca&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; potensi yang ada. Beliau melihat tanaman salak yang tumbuh subur di tegalan warisan orangtuanya. Kebetulan banyak jenis salak yang tumbuh alamiah di &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Dusun&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Candi &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;tersebut. Akan tetapi hanya sedikit jenis yang memiliki keunggulan. Nah, seperti berkah yang sengaja disediakan oleh alam, di kebun warisan tersebut terdapat rumpun pohon salak yang sangat istimewa, yakni salak pondoh jenis super.&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Beliau mencoba mengembangkan tanaman tersebut.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Tentu saja dibutuhkan proses panjang, dan tak lepas dari bermacam kendala yang harus beliau taklukkan. Diantaranya, statusnya yang masih tergolong muda saat itu, membuatnya kesulitan dalam meyakinkan para petani di sekitarnya yang notabene para golongan tua dan sudah puluhan tahun menggeluti pertanian selain salak. Untuk alasan itu, beliau masuk dulu ke golongan pemuda. Meskipun melalui proses yang tidak gampang, akhirnya berhasil juga para pemuda diorganir untuk mengikuti langkahnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Ada kendala lain yang tak kalah pelik, yakni kemampuan ekonomi petani yang rendah untuk pengadaan bibit. Mereka masih miskin, tidak punya uang, tetapi sangat membutuhkan jalan keluar untuk mengubah model pertaniannya. Saat itu, harga bibit salak pondoh memang masih sangat mahal, mengingat sulit dan terbatasnya bibit yang bisa dihasilkan. “Jaman itu, sekitar tahun 1980, satu bibit salak pondoh harganya setara dengan harga 1 gram emas”, tutur Sudiyono. Sehingga, beliau menggunakan pendekatan yang ‘fleksibel’ untuk mendamaikan kepentingannya—mengembangkan komunitas dan kawasan perkebunan salak—dengan kondisi ekonomi masyarakat yang belum memungkinkan untuk membeli bibit dalam partai besar dan kontan. “Luwes saja, ada yang menukar dengan ayam, dengan tenaga mereka, juga ada yang kredit dulu. Kami juga membatasi dengan hanya memberikan lima batang bibit untuk masing-masing petani. Agar merata sebarannya,” Sudiyono mengisahkan dengan tertawa ringan. Baginya, yang tersulit adalah mengubah pola pikir rekan-rekan sesama petani untuk percaya diri beralih ke komuditas yang lebih sesuai dengan karakter tanah, cuaca, dan lebih menguntungkan secara ekonomi dan keberlanjutan ekosistem setempat. Mengingat pertanian salak pondoh lebih hemat dari sisi penggunaan air, obat-obatan dan pupuk kimiawi, karena lebih sedikit jenis hama yang bisa mengancam keberadaannya. Sehingga dari sisi kelestarian lingkungan, budidaya vegetasi perdu tersebut jauh lebih ‘green’ dibandingkan pertanian ‘padi sawah basah’ yang sebelumnya digeluti masyarakat di Dusun Candi dan sekitarnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S4yc8p4SiTI/AAAAAAAAADI/ZQP4jqmvl7E/s1600-h/DSC_1426.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 158px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S4yc8p4SiTI/AAAAAAAAADI/ZQP4jqmvl7E/s200/DSC_1426.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5443898615432120626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;Seiring dengan berkembangnya komunitas dan semakin luasnya sebaran rumpun-rumpun tanaman berduri tersebut, Sudiyono juga berusaha memformalkan kebersamaan komunitasnya, hingga lahirlah sebuah Kelompok Tani (KT) Manunggal, yang peresmiaannya diselaraskan dengan hadirnya Sri Paduka Paku Alam ke-8 mewakili Gubernur DIY, tahun 1984. “Waktu itu, meskipun masih muda saya dalam posisi sebagai KK (kepala keluarga) karena ayah saya telah meninggal. Sehingga setiap pertemuan RT, saya yang mewakili. Nah, forum RT itu lah yang saya manfaatkan untuk merintis terbentuknya KT Manunggal,” kisah Sudiyono menyangkut organisasi kebanggaannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Berdirinya KT Manunggal direspon secara positif oleh Pemerintah Desa dan pihak Kabupaten lewat Dinas Pertaniannya, sehingga datanglah secara berkala Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) ke Dusun Candi dan dusun lain Desa Bangunkerto, guna turut memberikan bantuan teknis dalam pengembangan budidaya tanaman perdu tersebut. Menindaklanjuti hubungan harmonis yang berhasil terbangun, pada akhirnya Dinas Pertanian juga memberikan bantuan uang untuk pengadaan bibit kepada kelompok tani tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Perhatian yang semakin baik dari pemerintah turut memacu kegigihan Sudiyono untuk menggerakkan kelompoknya, mewujudkan mimpinya lepas dari belenggu kemiskinan menahun. Masa pengembangan yang telah berlangsung sekitar sepuluh tahun (1980-1990) terlewati sudah. Kerja keras mereka semakin nyata hasilnya. Perlahan tapi pasti keuntungan perkebunan mereka mulai mendongkrak kekuatan ekonominya. Perluasan lahan pun terus diupayakan. Tenaga kerja dalam jumlah besar mulai dibutuhkan. Desa lain mulai ikut berperan dalam menyediakan kebutuhan tersebut. Tak kurang seribu buruh dari desa sekitar didatangkan, terutama dari Desa Kali Angkrik. Percepatan perluasan perkebunan terus terjadi. Hampir seluruh dusun dan kampung dikonversi menjadi perkebunan salak pondoh. Tercatat dari 703 hectar wilayah pertanian Desa Bangunkerto, hanya 20% saja yang tidak ditanami tanaman berduri tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Desa-desa dan kecamatan lain, mulai dari Turi, Tempel, Pakem, daerah Sleman Utara hingga Magelang, pada gilirannya juga turut mengekor, terjun ke pertanian agrobisnis salak pondoh. Bahkan, kini ada beberapa daerah lain di Jawa, termasuk daerah-daerah tertentu di luar Jawa mulai merintis budidaya komuditas serupa beberapa tahun terakhir ini. Seperti, Banjarnegara, Bogor, Tasikmalaya, Aceh, dst. Konon, Thailand dan Malaysia juga mulai melirik untuk mengembangkan agrobisnis dengan varietas salak yang sama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Kemajuan dan perubahan luar biasa tersebut telah membawa Sudiyono populer. Banyak kelompok tani dari tempat lain datang dan menimba pengalaman darinya. Tak ketinggalan, para tokoh penting negeri ini, dan beberapa orang asing terhormat, juga pernah bertandang ke rumahnya. Diantaranya,&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; Menteri Negera Kependudukan Haryono Suyono, &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Menteri Penerangan masa Orde Baru &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Harmoko, Menteri Sosial Belanda (1993), Menteri dalam Negeri Rudini, Irjen Pembangunan, &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;dan masih banyak lagi, termasuk para wisatawan manca negara yang ingin sekedar berlibur di Dusun Candi. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Belakangan harga salak pondoh di pasaran mulai menurun. Panen dua kali setahun dan skala produksi yang melimpah, serta kejenuhan pasar lokal dan nasional, disinyalir menjadi penyebab merosotnya nilai ekonomi buah asli Indonesia tersebut. Kecenderungan kurang menggembirakan tersebut telah mendorong Sudiyono untuk memikirkan alternatif jawaban untuk menyapa persoalan baru tersebut. Dengan moto, “Apa yang saya kerjakan saat ini, adalah untuk rezeki saya lima atau sepuluh tahun ke depan”, beliau mulai merintis upaya diversifikasi sumber penghidupannya. Menanam tanaman keras jenis &lt;i style=""&gt;sengon&lt;/i&gt; di sela-sela lahan salak yang masih kosong (atau sistem tumpangsari), seperti di tanggul-tanggul tepi kebun, &lt;i style=""&gt;perengan&lt;/i&gt; (lereng) pinggiran sungai, dan lahan lain yang belum tersita oleh rumpun-rumpun tanaman salak. “Sambil untuk konservasi lingkungan, Mas”, dalih mulia yang terucap spontan penuh keyakinan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Cara pandang Sudiyono cukup rasional sekaligus jitu. Beliau sudah mempersiapkan ‘&lt;i style=""&gt;bumper&lt;/i&gt;’ bilamana suatu saat nanti komoditi salak benar-benar sudah tidak menghasilkan ‘&lt;i style=""&gt;legit&lt;/i&gt;’ kemakmuran lagi, beliau sudah punya tumpuan penyangga ekonomi, yang bisa diandalkan dan memungkinkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;lancarnya proses transisi menuju komoditi alternatif lain. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="color:red;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Sebenarnya tidak itu saja, kelompok taninya juga mulai mengupayakan diversifikasi barang dagangan, dengan mengolah salak menjadi produk olahan baru seperti sirup, selai, &lt;i style=""&gt;jenang&lt;/i&gt; (dodol), kripik, dan manisan salak, yang ternyata juga laku keras dan bisa memberikan alternatif penghasilan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Upaya untuk menjajaki export ke luar negeri juga tak lepas dari upaya mereka, akan tetapi standar baku mutu yang ketat yang ditetapkan oleh importir dan negara tujuan telah mengendurkan upaya mereka. Belum lagi batas volume minimal yang disyaratkan, membuat mereka pesimis untuk bisa memenuhi. Akhirnya, peluang tersebut telah diambil oleh pengusaha lain yang memiliki kapasitas dan jaringan yang lebih luas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Kini Sudiyono terus bergerak maju, berkendara KT Manunggal, bekerja keras men-diversifikasi produk pertaniaanya seraya mengembangkan cara bertani yang lebih ‘green’. Tak terduga, beliau juga sudah kenal dengan isu-isu lingkuangan terkini. “Sekarang saatnya bertindak Mas, sudah cukup ngomongnya. Saya sudah menanam sengon dan tanaman cepat tumbuh lain. &lt;i style=""&gt;Melu-melu&lt;/i&gt; penghijauan untuk mengatasi pemanasan global”, pungkasnya dengan tertawa lebar.***&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Note: Tulisan ini, hasil wawancara dengan Sudiyono, tokoh petani pelopor, pemberdayaan masyarakat miskin.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245848731703060805-2945452455373656404?l=yulinolpitu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/feeds/2945452455373656404/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/2010/03/kerja-keras-salah-satu-kuncinya.html#comment-form' title='15 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245848731703060805/posts/default/2945452455373656404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245848731703060805/posts/default/2945452455373656404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/2010/03/kerja-keras-salah-satu-kuncinya.html' title='Kerja Keras, Salah Satu Kuncinya'/><author><name>Alam Hijau</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16017713605066180734</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TABuawTZKHI/AAAAAAAAAEg/yF3pBdp5Wgs/S220/13642_102888239738321_100000514361875_77689_8304252_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S4yc8G365mI/AAAAAAAAADA/60WFvIcbwsI/s72-c/DSC_1399.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245848731703060805.post-2517262159187189960</id><published>2010-01-17T02:53:00.000-08:00</published><updated>2010-01-17T03:48:59.160-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kerusakan lingkungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='solusi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sampah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='green lifestyle'/><title type='text'>Kalau Begitu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="font-family: trebuchet ms;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S1LyJmvW8wI/AAAAAAAAACo/2aTCvs8Os2Y/s1600-h/sampah1.jpg"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CYuli%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CYuli%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CYuli%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:6.0pt; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:6.0pt; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:11.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-ansi-language:IN;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/a&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CYuli%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CYuli%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CYuli%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:6.0pt; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:6.0pt; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:11.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-ansi-language:IN;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="EN-GB" &gt;Kini musim hujan telah tiba. Tentu saja, banyak pihak yang merasa lega, karena kebutuhannya akan air semakin terpenuhi. Terutama para petani dan peternak yang memanfaatkan air sebagai penopang utama usahanya. Namun demikian, ada sebagian kelompok masyarakat yang justeru semakin was-was. Terutama mereka yang ‘langganan’ disamperi banjir ketika musim basah tersebut datang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="font-family: trebuchet ms;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S1LyKfKNJiI/AAAAAAAAAC4/i-fTwfd3QlE/s1600-h/url.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 133px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S1LyKfKNJiI/AAAAAAAAAC4/i-fTwfd3QlE/s200/url.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5427666762911786530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" lang="EN-GB" &gt;Mereka yang sering didera banjir tentunya sudah belajar dari pengalaman sebelumnya dan berusaha mempersiapkan diri untuk menghadapi persoalan musiman tersebut. Terutama pemerintah setempat, melalui institusi terkait, semestinya sudah siap siaga dan melakukan langkah yang diperlukan, jauh-jauh hari sebelum musim ‘becek’ datang kembali. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="EN-GB" &gt;Kenyataanya, tidak seperti yang kita asumsikan. Perilaku masyarakat kita tidak banyak berubah. Celakanya, pemerintah juga tidak (belum) melakukan tindakan mitigasi dan pencegahan yang berarti. Tetap saja banjir datang dan datang lagi seiring semakin tingginya curah hujan. Bahkan kecenderungannya semakin besar dan buruk dampaknya. Apa yang salah dengan masyarakat kita, sehingga mereka tidak cepat belajar dan mampu mengatasi persoalan yang sudah jelas kapan datang dan apa sebabnya? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S1LyJmvW8wI/AAAAAAAAACo/2aTCvs8Os2Y/s1600-h/sampah1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S1LyJmvW8wI/AAAAAAAAACo/2aTCvs8Os2Y/s200/sampah1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5427666747766797058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="EN-GB" &gt;Seperti para pembaca juga sering lihat, diman-mana sering terlihat sampah berserakan dan menumpuh, bahkan terkadang menyumbat drainase umum. Baik sampah organik maupun unorganik. Terutama di tempat-tempat yang agak jauh dari pemukiman, seperti di tepi-tepi jalan dan selokan di persawahan. Namun demikian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;situasi yang hampir serupa juga mudah ditemukan di tempat-tempat yang notabene dekat pemukiman akan tetapi tidak atau kurang terlihat oleh pandangan mata umum, seperti halaman belakang rumah, sungai dan selokan di pemukiman. Kok begitu? Sepertinya masyarakat kita memang belum sepernuhnya civilized, dan mungkin memang belum punya kesadaran yang memadahi sehingga bisa berubah perilakunya, terutama dalam memperlakukan sampah-sampahnya dengan benar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="EN-GB" &gt;Berikut penulis akan berbagi beberapa pengalaman yang ‘janggal’ dan tak terlupakan. Kisah-kisah tersebut mungkin akan membuat pembaca geleng-geleng kepala setelah membacanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="EN-GB" &gt;Suatu kali penulis berhenti, ketika lampu merah menyala di perempatan Selokan Mataran, Yogyakarta. Di depan sebelah kanan penulis berhenti juga sebuah sedan mewan warna hitam mengkilat, seperti keluaran terbaru, yang dikendarai sekelompok remaja belasan tahun. Mendadak kaca jendela kiri depan sendan tersebut perlahan turun dan terbuka setengah bagian, seketika dentuman musik hip-hop menyeruak keluar menerpa semua telinga pengguna jalan yang sedang berhenti menunggu munculnya nyala lampu hijau di perempatan dekat kampun UGM tersebut. Kemudia sebuah adegan menjengkelkan terjadi. Dari dalam kabin depan sedan tersebut, menjulur pendek sebuah tangan yang mengepal kemudian ‘&lt;i style=""&gt;byak&lt;/i&gt;’ terbuka cepat jari-jemarinya, dan terlemparlah segengam sampah dari dalam mobil tersebut. Sungguh menjengkelkan! Saya hanya bisa menggelengkan kepala, sementara sebagian pengguna jalan yang lain terlihat hanya menampakkan expresi wajah masam, seperti sedang kecewa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="EN-GB" &gt;Pernah juga suatu sore ketika sedang jogging di sebuah jalan di tengah persawahan, secara kebetulan penulis memergoki seorang ibu-ibu mendadak menghentikan motornya, turun, dan melemparkan sesuatu yang besar ke selokan, yang kering kerotang. Begitu saja, kemudian pergi ngacir dan hilang ditelan tikungan sebuah perumahan baru dekat persawahan tersebut. Karena penasaran, penulis mencoba melongok ke selokan dangkal tampa air tersebut. Dan betapa terkejutnya ketika penulis melihat sebuah buntalan plastik besar transparan berisi bekas pembalut wanita. Banyak sekali, mungkin bisa lusinan. Betapa sangat memprihatinkan! Siapapun yang melihat adegan tersebut pasti tak kuasa menahan amarah, dan langsung mengeluarkan kata-kata hujatan. Kok bisa hal seperti itu dilakukan oleh seorang ibu, yang tinggal di perumahan, naik sepeda motor, dan kelihatan seperti orang sekolahan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S1LyKCBkePI/AAAAAAAAACw/9KHQfpQWQYg/s1600-h/tong-sampah.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 144px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S1LyKCBkePI/AAAAAAAAACw/9KHQfpQWQYg/s200/tong-sampah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5427666755090938098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="EN-GB" &gt;Bulan Agustus 2009, ketika penulis baru saja pindah kontrakan ke tempat yang baru, di sebuah pedukuhan di Kecamatan Ngaglik, Sleman. Penulis menyempatkan diri melihat-lihat lingkungan baru tersebut. Mengamati kondisi rumah-rumah penduduk yang kelihatan makmur dan terbilang lebih mapan dibanding kampung-kampung sekitarnya. Ternyata mereka tergolong bagus dalam menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumahnya. Jalan-jalan dan pekarangan rumah terlihat bersih dari sampah. Mereka terlihat begitu kompak ketika melakukan kerjabakti secara berkala. Sehingga lingkungan mereka kelihatan lebih menarik dan asri. Akan tetapi, masih ada hal-hal yang kurang tepat mereka lakukan. Mereka masih melakukan pembakaran sampah, yakni sampah kering seperti plastik, kertas, ranting dan dedaunan yang ada di sekitar rumah mereka. Mereka masih membiarkan warga lainya yang sudah terbiasa membuang sampah di sungai, shingga sunggai yang kebetulan ada di bagian belakang kampung mereka terlihat kotor penuh dengan sampah, baik sampah organik maupun unorganik. Ada pakaian bekas, pecahan kaca, potongan kayu, kaleng-kaleng bekas kemasan makanan maupun plastik-palstik beraneka macam. &lt;/span&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CYuli%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CYuli%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CYuli%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:6.0pt; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:6.0pt; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:11.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-ansi-language:IN;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="EN-GB" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="EN-GB" &gt;Kemudian, mengapa phenomena tersebut bisa terjadi? Apa yang bisa kita lakukan untuk menjawab persoalan tersebut? Mari kita pikirkan bersama solusinya para pembaca budiman...!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245848731703060805-2517262159187189960?l=yulinolpitu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/feeds/2517262159187189960/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/2010/01/kalau-begitu-apa-yang-bisa-kita-lakukan.html#comment-form' title='26 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245848731703060805/posts/default/2517262159187189960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245848731703060805/posts/default/2517262159187189960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/2010/01/kalau-begitu-apa-yang-bisa-kita-lakukan.html' title='Kalau Begitu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?'/><author><name>Alam Hijau</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16017713605066180734</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TABuawTZKHI/AAAAAAAAAEg/yF3pBdp5Wgs/S220/13642_102888239738321_100000514361875_77689_8304252_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S1LyKfKNJiI/AAAAAAAAAC4/i-fTwfd3QlE/s72-c/url.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>26</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245848731703060805.post-3591129266499405923</id><published>2010-01-11T17:45:00.000-08:00</published><updated>2010-01-17T03:49:51.088-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosok'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pertanian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kerusakan lingkungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='green lifestyle'/><title type='text'>Pak Paiman, Petani Utun yang ‘Green’</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="font-family: trebuchet ms;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S1Fjz25ZoPI/AAAAAAAAACg/XG_dbJY2Xes/s1600-h/DSC_0254.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 133px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S1Fjz25ZoPI/AAAAAAAAACg/XG_dbJY2Xes/s200/DSC_0254.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5427228768518906098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;“Apa yang ada di depan saya, itu guru besar saya”, demikian Pak &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;Paiman (70) mengawali kisah pergulatannya sebagai petani ‘utun’ (tulen) yang berpandangan maju. Dia telah merintis berdiri dan bekerjanya Perkumpulan Petani Pemakai Air &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" lang="IN" &gt;(P3A)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt; di lereng Barat Gunung Lawu. Tepatnya di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" lang="IN" &gt;D&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;esa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" lang="IN" &gt; Pereng, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;Kecamatan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" lang="IN" &gt;Mojo&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;g&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" lang="IN" &gt;edang, Karang Anyar, Jateng&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;, Pak Paiman mengoragisir kelompoknya, Rukun Makaryo, memimpin &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" lang="IN" &gt;P3A&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt; sebagai lembaga yang turut menopang keberlangsungan usaha tani mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Jebolan Sekolah Rakyat (&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;SR&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;)&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;kelas-6 &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;ini telah menggeluti dunia pertanian sejak 1950. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;B&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;elajar &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;secara otodidak &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;soal tanah&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt; pertanian&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; dan&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;tanaman&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;, dengan cara ‘niteni’ apa yang &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;di&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;lihat dan &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;di&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;kerjakan&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; sehari-hari, Pak Paiman telah menjadi teladan dan mampu meggerakkan komunitasnya untuk mandiri, mengatasi berbagai persoalan yang diahapi, meskipun pada awalnya sempat dicemooh banyak orang karena terobosannya dianggap &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngoyo woro&lt;/span&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Tahun &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;1997&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt; P3A&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; Dharma Tirta “Sumber Mulyo” dibentuk&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;, guna &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;mengatur &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;distribusi air sungai yang mengalir &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;melintasi sebagian kawasan Karang Anyar &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;untuk menjamin lancarnya pe&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;gairan &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;lahan pertanian&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt; beberapa desa di &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Mojogedang&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Organisinya terbilang sukses, dan pernah meraih juara I lomba P3A tingkat propinsi Jateng tahun 2008.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Inisiatif utuk memajukan komunitasnya terus dilakukan. Pada tahun 2005, sebuah koperasi kelompok tani “KKT-Tani Makaryo” mereka dirikan. Harapanya, organisasi ekonomi sosial tersebut bisa mengatasi keterbatasan petani akan permodalan dan menjamin pemasaran produk pertaniannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Pak Paiman juga terbukti cerdik dalam memanfaatkan potensi komunitasnya, beliau &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;berhasil memanfaatkan modal social ‘gotong-royong’ untuk menggerakkan para petani guna mengatasi persoalan yang sedang &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;di&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;hadapi.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;uwe mijet wohing mranti&lt;/span&gt;. Itu mudah sekali, asalkan mau bergotong-royong, semua bisa diselesaikan bersama,” pukasnya ketika ditanya bagaimana cara mengatasi persoalan yang dihadapi. Misalnya, membangun saluran irigasi yang seharusnya menjadi kewajiban pemerintah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Ketika ditanya perihal sumber keuangan organisasi, &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;“&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Uang &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;Kas&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;nya ya tenaga kerja sekitar 500 orang itu,” tegas&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; Pak Paiman. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;Sedangkan untuk mencukupi kebutuhan opersional &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;kantor KT&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;, yang &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;telah menyita setengah dari luas &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;rumah&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;-nya &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;sendiri, beliau cukupi sendiri. Termasuk biaya penerbitan dua judul buku karya&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; monumentalnya,&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;dan brosur-brosur tentang aktivitas organisasinya, &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;juga &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;dari merogoh koceknya sendiri&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Produk ilmiah tersebut, &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;akhirnya juga habis dibagikan gratis kepada &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;berbagai pihak &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;yang kebetulan telah bertemu dengan &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;beliau&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Menurutnya&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt; secara total &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;bukunya &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;sudah &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;terdistribusi paling tidak &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;5.500 eksemplar.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S0vVlDJn_EI/AAAAAAAAACY/uhd-QYbL_Wc/s1600-h/DSC_0242.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 154px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S0vVlDJn_EI/AAAAAAAAACY/uhd-QYbL_Wc/s200/DSC_0242.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5425665008575446082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Kerusakan lingkungan akibat aplikasi pupuk kimia dan obat pertanian juga tak luput dari perhatiannya. Mulai tahun 2006 beliau mengajak teman-temannya beralih ke sistem pertanian organik. M&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;enolak penggunaan pestisida &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;dan herbisida &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;kimia&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;. Menciptakan pestisida dan fungisida nabati (organik), juga &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;menggunakan &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;pupuk kandang dan kompos untuk menggantikan pupuk kimia. Beras organik pun berhasil mereka produksi, dikemas dengan label khusus, dan dipasarkan dengan harga yang terjangkau.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Pak Paiman juga telah menularkan inovasinya kepada kelompok tani lain. Pelatihan-pelatihan bidang pertanian telah ditawarkan dan digelar. Sertifikat tanda lulus juga diberikan kepada setiap peserta. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;Itulah kenapa&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;beliau semakin populer, &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;semakin sering diundang banyak &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;kalangan &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;untuk menjadi pembicara&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt; di universitas dan pergutuan tinggi, serta pertemuan-pertemuan&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;yang mengulas masalah pertanian&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt; di berbagai wilayah Indonesia. “Hanya ke Papua, saya belum pernah diundang,” kisahnya dengan senyum penuh kerendahan hati.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Semangat kemandirian yang dikibarkan Pak Paiman dan kelompoknya telah berhasil menjawab kegagalan pemerintah dalam meningkatkan kehidupan petani kecil. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245848731703060805-3591129266499405923?l=yulinolpitu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/feeds/3591129266499405923/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/2010/01/pak-paiman-petani-utun-yang-green_11.html#comment-form' title='24 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245848731703060805/posts/default/3591129266499405923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245848731703060805/posts/default/3591129266499405923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/2010/01/pak-paiman-petani-utun-yang-green_11.html' title='Pak Paiman, Petani Utun yang ‘Green’'/><author><name>Alam Hijau</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16017713605066180734</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TABuawTZKHI/AAAAAAAAAEg/yF3pBdp5Wgs/S220/13642_102888239738321_100000514361875_77689_8304252_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S1Fjz25ZoPI/AAAAAAAAACg/XG_dbJY2Xes/s72-c/DSC_0254.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>24</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245848731703060805.post-5589849257397367772</id><published>2010-01-07T04:07:00.000-08:00</published><updated>2010-01-07T04:11:28.910-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='vegetasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='konservasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bencana alam'/><title type='text'>Mitigasi Sekaligus Konservasi Vegetasi</title><content type='html'>Kini musim angin ribut datang kembali. Angin kencang yang dalam istilah lokal disebut lessus atau putting beliung, mulai sering melanda beberapa wilayah di Indonesia. Beberapa contoh terkini adalah yang terjadi pada hari Selasa 5 Januari 2010, di Ds. Jomblang, Kec. Takeran, Madiun; Ds. Kerang, Magetan; Ds. Manisrejo, Taman, Kota Madiun, Jawa Timur; dan beberpa desa di Kecamatan Sambong, Blora, Jawa Tengah. Angin musiman tersebut telah menyebabkan puluhan rumah rusak dan banyak pohon besar yang tumbang. Beberap orang juga telah mengalami luka ringan akibat terjangan angin yang membabi buta tersebut (Kompas, 6/1/2010).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S0XO4HcTVtI/AAAAAAAAABg/M6zSDrtucdI/s1600-h/putingbeliung-Dlm.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 148px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S0XO4HcTVtI/AAAAAAAAABg/M6zSDrtucdI/s200/putingbeliung-Dlm.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423968789703382738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Beberapa surat kabar harian nasional terbitan Kamis 7/1/2010 juga menampilkan headlines perihal amukan puting beliung yang menyapu sebagian pulau Jawa dan Bali. Ini semakin menegaskan pentingnya tindakan antisipasi untuk kepentingan mitigasi guna meringankan dampak kerusakan, mengurangi kerugian material, dan mencegah jatuhnya korban jiwa. Salah satunya dengan mengadakan pemangkasan beberapa pohon besar yang ada di dekat pemukiman penduduk. Terutama yang ada di pinggir jalan-jalan besar daerah pemukiman yang padat penduduk seperti di pusat busines perkotaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemangkasan, bukan penebangan total. Sehingga tidak menghilangkan atau merusak vegetasi yang telah berumur puluhan tahun dan memang sangat diperlukan keberadaannya untuk menopang produksi oksigen dan menyerap polutan udara yang semakin mengusik kenyamanan kehidupan perkotaan dan menggigit kondisi kesehatan masyarakat kebanyakan. Dengan hanya dipangkas, harapannya, vegetasi utamanya tetap hidup sehingga dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama pohon-pohon tersebut akan bersemi dan berkembang kembali memberikan penlindungan kepada masyarakat secara ekologi dan kenyamanan dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan utama pemangkasan adalah untuk mengurangi resiko tumbang dan menimpa bangunan serta menimbulkan kerugian materi dan jiwa penduduk di sekitarnya. Untuk itu perlu pula menghimbau masyarakat untuk selalu waspada, dan memangkas sendiri cabang-cabang pohon besar yang ada di lahannya. Harapannya mereka tetap merawatnya agar populasi vegetasi di lingkungannya tidak berkurang secara signifikan, tatapi justeru ditambah dan dikembangkan demi meningkatkan kwalitas udara dan konservasi lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S0XO4widMrI/AAAAAAAAABw/HNJ-IIWqQPc/s1600-h/puting_beliung_ugm1_2008.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S0XO4widMrI/AAAAAAAAABw/HNJ-IIWqQPc/s200/puting_beliung_ugm1_2008.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423968800735048370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Badan Lingkungan Hidup (BLH) masing-masing daerah harus melakukan pemantauan dan bila perlu pamangkasan terhadap pohon-pohon besar yang ada di ruang publik, di tepi jalan, dekat pasar, pertokoan, pusat-pusat konsentrasi masyarakat, dsb. sehingga bisa mengurangi resiko-resiko yang tidak kita harapkan. Pengetahuan mereka akan konservasi lingkungan dan vegatasi menjadi prasarat untuk menjamin terpeliharanya pohon-pohon tersebut sebagai bagian dari paru-paru kota yang akan menjamin tersediannya supply oksigen untuk daerah masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu juga ditumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya penanaman pohon baru di pekarangan masing-masing guna meningkatkan populasi vegetasi yang ada di masing-masing wilayah. Sehingga terjadi konservasi mandiri secara masal yang dilakukan dan dikelola oleh masyarakat sendiri. Masyarakat perlu ditingkatkan pengetahuan dan kesadarannya tentang bagaimana mengurangi resiko bila lessus tersebut terjadi, sekaligus didorong dan difasilitasi (dengan menyediakan bibit gratis misalnya) untuk ambil bagian dalam gerakan masal meningkatkan kwalitas udara dan lingkungan hidup dengan penghijauan yang dimulai sejak dini dan dari masing-masing keluarga. Karena keberadaan vegetasi di permukiman pada ketinggian dan jarak tertentu justeru bisa melindungi mereka dari terpaan angin ribut. Sehingga program bersama untuk melakukan konservasi lingkungan hidup bisa dilakukan secara masal, serentak, dan efektif. Perlu diyakinkan pada mereka bahwa gerakan tersebut untuk dirinya sendiri dan lingkungan, yang pada akhirnya untuk seluruh masyarakat dan kelestarian planet bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PLH juga harus siap sedia dan memberikan bantuannya bila masyarakat ingin dibantu dalam memangkas vegetasi yang ada di lahan pekarangannya, sehingga terjadi kerjasama yang sinergis. Mengingat tidak semua masyarakat bisa menangani persoalan seperti itu, selain tidak memiliki alat berat yang bisa memudahkan proses pemangkasan, mereka juga sering kesulitan dalam mengatur pemankasan, karena keterbatasan pegetahuan mereka. Terutama untuk bagian yang kebetulan dekat dengan jaringan listrik dan instalasi kable telepon. Juga untuk keluarga-keluarga yang sudah manula dan janda yang secara fisik mengalami keterbatasan untuk melakukan sendiri pemangkasan. Mengingat urgensi tindakan yang diperlukan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245848731703060805-5589849257397367772?l=yulinolpitu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/feeds/5589849257397367772/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/2010/01/mitigasi-sekaligus-konservasi-vegetasi.html#comment-form' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245848731703060805/posts/default/5589849257397367772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245848731703060805/posts/default/5589849257397367772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/2010/01/mitigasi-sekaligus-konservasi-vegetasi.html' title='Mitigasi Sekaligus Konservasi Vegetasi'/><author><name>Alam Hijau</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16017713605066180734</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TABuawTZKHI/AAAAAAAAAEg/yF3pBdp5Wgs/S220/13642_102888239738321_100000514361875_77689_8304252_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S0XO4HcTVtI/AAAAAAAAABg/M6zSDrtucdI/s72-c/putingbeliung-Dlm.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245848731703060805.post-3844657317332393259</id><published>2010-01-04T21:35:00.000-08:00</published><updated>2010-05-25T02:48:21.864-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kerusakan lingkungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pengalaman'/><title type='text'>Kisah Lokal Degradasi Lingkungan</title><content type='html'>&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S0LV-E7zdyI/AAAAAAAAABA/uVUIpepXpc0/s1600-h/DSC_0346+N.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 108px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S0LV-E7zdyI/AAAAAAAAABA/uVUIpepXpc0/s200/DSC_0346+N.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423132163760682786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Terekam dengan baik di benak pemulis, masa kecil tinggal di desa. Adalah Desa Gunungsari, Kecamanatan Nglames, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Sekitar tahun 1977 hingga 1985, dimana-mana mudah ditemukan pohon-pohon besar menjulang tinggi nan rimbun mengayomi. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; pohon trembesi, dadap, jati, juwar, asem, randu, tekik, kelapa, rumpun bambu, dan masih banyak lagi jenis vegetasi lokal yang cenderung meninggi membelah angkasa. Juga kubangan air jernih yang hanpir ada sepanjang tahun, tanda keseimbangan alam yang masih terjaga. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Di mana ada air disitu selalu ditemukan ikan dan binatang air lain. Begitu banyak ikan, sehingga sangat mudah ditangkap, dibawa pulang untuk lauk-pauk.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Setiap musim panen padi tiba, anak-anak selalu menyambutnya dengan gembira, karena setelah padi selesai dipanen, dibabat batangnya, anak-anak bisa bermain sambil mencari ikan dan burung di persawahan. Di setiap kubangan yang terpencar di persawahan tersebut ikan mudah ditemukan, dan menjadi bahan rebutan bagi anak-anak. Selain ikan, terutama ketika panen menjelang berakhir, anak-anak bisa berburu burung sawah yang terkonsentrasi pada sisa terakhir tanaman padi yang belum dipanen. Biasanya ada burung itik-itikan, tikusan, suri bombok, gemak, bubud, dan cenggeran. Ada beberapa jenis dari mereka yang tidak bisa terbang jauh. Mereka hanya bisa lari dan terbang ‘&lt;i style=""&gt;empreh&lt;/i&gt;’ atau rendah dengan jarak tempuh beberapa puluh meter saja, selebihnya lari cepat ke sela-sela rumput dan sisa bekas padi yang telah dipanen. Sehingga mudah dikejar dan ditangkap anak-anak. Nah, karena padi sudah tinggal sedikit burung-burung tersebut menjadi sasaran perburuan anak-anak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S0LWc3ndXlI/AAAAAAAAABY/hWDNsBolIcE/s1600-h/A+A+A+Kacer+Jantan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 176px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S0LWc3ndXlI/AAAAAAAAABY/hWDNsBolIcE/s200/A+A+A+Kacer+Jantan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423132692761632338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Situasi tak kalah eksotis juga terekam ketika penulis berkunjung di rumah nenek. Beliau masih memelihara kerbau beberapa pasang, yang dibuatkan kandang terbuka dari bambu di bagian belakang rumah. Burung pemburu serangga seperti burung sikatan, jalak udet dan uren masih sering terlihat berkeliaran, sesekali menyambar sambil berkicau, dan bertengger di punggung kerbau untuk berburu kutu, lalat dan &lt;i style=""&gt;pethak&lt;/i&gt; (sejenis lalat besar penghisab darah ternak) yang menjadi parasit pada tubuh ternak. Bahkan ketika hari sehabis hujan, di tanah kosong sekitar kandang ternak, banyak sekali cacing keluar dari tanah, dan burung-burung jalak, dengkek urang dan jenis lain pada turun ke tanah untuk berburu cacing yang keluar dari tanah, karena tergenangi air hujan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Saat ini situasi alamiah yang eksotis itu sangat mustahil ditemukan kembali. Jangankan aktivitas burung yang tergambar di atas, yang kelihatan begitu akrab dengan kehidupan orang desa, kelebatan bayangan dan kicauannya sepertinya sudah sangat langka terdengar. Semua seperti sudah pergi entah kemana, barang kali telah punah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dulu ketika penulis mengikuti orang-tua mengantarkan makan siang untuk orang yang dipekerjakan membajak sawah, penulis gembira sekali melihat burung-burung sawah yang tergolong besar-besar, seperti bangau thong-thong, blekok hitam dan putih, cangak ulo, kuntul pendek, juga jalak-jalakan, yang ramai-ramai mengerubuti penggalan tanah yang telah menyibak terbajak di belakang tukang bajak. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Burung-burung tersebut saling berebut cacing dan belut atau ikan kecil yang turut tersibak bersama tanah yang telah &lt;i style=""&gt;diluku—&lt;/i&gt;diolah dengan bajak. Sungguh sebuah pemandangan yang elok, tapi lumrah terlihat pada setiap musim pengolahan lahan persawahan basah saat itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar dan lanjutan, setelah belajar malam, sekitar jam 20:30, penulis sering mengikuti ayah atau kakaknya pergi ke sawah untuk &lt;i style=""&gt;menyuluh&lt;/i&gt;, mencari binatang sawah dengan penerangan lampu petromak. Manakala tanaman padi mulai selesai dipanen, air yang ada di persawahan mulai surut, tinggal beberapa senti saja dari dasar sawah, sehingga kegitan menyenangkan tersebut jadi mudah dilakukan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Biasanya kami memburu belut, ikan, burung sawah, dan katak hijau di lahan persawahan dan selokan-selokan kecil yang ada di persawahan. Hasilnya juga selalu banyak, tidak pernah pulang dengan tangan hampa, kecuali di hari setelah hujan. Karena air sawah jadi keruh sehingga belut dan ikan tidak mudah terlihat seperti biasanya. Akan tetapi, kalau kami nekat pergi, biasaya bisa menemukan katak dan kadang-kadang beberapa jenis burung sawah. Untuk ikan, biasanya kami menyusuri jalan-jalan besar di dekat persawahan, karena sering ditemukan ikan terdampar di jalan-jalan dekat persawahan. Ikan-ikan tertentu, kalau malam hari sering melompat ke daratan utuk pindah ke bagian sawah atau empang lain. Nah pada situasi yang demikian, ikan yang sering ditemukan adalah jenis lele lokal dan ikan gabus. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Mereka biasa melompat ke daratan untuk mencari lokasi perairan lain di seberang jalan. Sungguh pengalaman yang unik tak terlupakan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="trebuchet ms" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" face="trebuchet ms" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S0LV-tpZQZI/AAAAAAAAABQ/RN7g3en4ADQ/s1600-h/Alam+N.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 142px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S0LV-tpZQZI/AAAAAAAAABQ/RN7g3en4ADQ/s200/Alam+N.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423132174689321362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kini realitasnya telah berubah total. Sulit sekali ditemukan pepohonan rimbun menjulang tinggi mengayomi lahan subur dan genangan air di bawahnya. Vegetasi pelindung alami itu juga telah habis tergerus perkembangan perumahan. Listrik masuk desa, pohon-pohon besar di sepanjang jalan harus ditebang guna mudahnya instalasi jaringan listrik masuk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Desa tersebut kini telah padat perumahan. Rumpun-rumpun bambu yang dulu mengelilingi desa untuk melindungi pemukiman dari terpaan angin &lt;i style=""&gt;lesus&lt;/i&gt; (angin ribut) kini juga telah habis tinggal beberpa rumpun saja, sangat sedikit. Kesegaran udara berubah menjadi angin kering yang panas dampak minimnya vegetasi. Kebun-kebun yang dulu selalu dikelilingi dan dipagari dengan tanaman lebat kini telah beralih menjadi sawah yang diluaskan sehingga bertanggul kecil yang tidak lagi bisa ditanami tanaman besar yang rimbun. &lt;i style=""&gt;Blumbang-blumbang&lt;/i&gt; (kolam air) juga tidak banyak lagi, ada yang tersisa tapi kering tanpa air. Kalau musim hujan tiba, ada airnya tapi tidak lagi ‘hidup’, terlihat hambar tanpa riak khas yang menandakan adanya ekosistem air yang sehat di dalamnya. Tidak ada lagi ikan atau belut yang bisa ditangkap. Katak hijau yang gemuk, burung cengeran, tikusan, suri bombok, gemak, dst. juga sudah tak terlihat lagi. Perubahan siknifikan telah terjadi dan menurunkan kwalitas lingkungan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; font-family: trebuchet ms;"&gt;Kenyataan buruk tersebut mulai kentara ketika para petani mulai menggunakan pestisida, obat-obatan dan pupuk kimia untuk pertanian. Orang mencari ikan tidak lagi menggunakan jala dan pancing. Mereka mulai menggunakan apotas, teodan (sejenis pestisida) dan strum listrik, berburu ikan dan belut di sungai-sungai dan &lt;i style=""&gt;blumbang&lt;/i&gt;. Kekurangtahuan dan ketakpedulian mereka membuatnya tergoda untuk mengejar kemudahan dan cara instan. Sehingga ekosistem air menjadi teracuni dan rusak. Keberlanjuntan sumber penghidupan mereka-pun turut terkikis oleh aplikasi bahan kimia yang menghancurkan tersebut. Kini semua telah terlanjur, degradasi lingkungan telah demikian nyata, siapa yang harus bertanggunjawab dan apa yang harus dilakukan?&lt;/p&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:12px;"  lang="FI" &gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245848731703060805-3844657317332393259?l=yulinolpitu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/feeds/3844657317332393259/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/2010/01/kisah-lokal-degradasi-lingkugan.html#comment-form' title='15 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245848731703060805/posts/default/3844657317332393259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245848731703060805/posts/default/3844657317332393259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/2010/01/kisah-lokal-degradasi-lingkugan.html' title='Kisah Lokal Degradasi Lingkungan'/><author><name>Alam Hijau</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16017713605066180734</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TABuawTZKHI/AAAAAAAAAEg/yF3pBdp5Wgs/S220/13642_102888239738321_100000514361875_77689_8304252_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/S0LV-E7zdyI/AAAAAAAAABA/uVUIpepXpc0/s72-c/DSC_0346+N.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245848731703060805.post-7791741035614988306</id><published>2010-01-02T21:05:00.000-08:00</published><updated>2010-01-11T17:53:31.873-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kata pembuka'/><title type='text'>Halo Semua, Salam Kenal</title><content type='html'>Hallo Semua. Salam kenal dan selamat tahun baru. Ini sebuah resolusi baru saya yang saya canangkan untuk menyongsong tahun baru 2010. Semoga resolusi ini akan terjaga, sehingga cita-cita besar saya untuk bisa menulis dengan baik tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu siang ini, tepatnya jam 12:07, saya mulai merintis situs baru di dunia maya yang tanpa batas ini. Ada beberapa tujuan yang ingin saya raih lewat arena baru ini, diantaranya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pertama&lt;/span&gt;, saya ingin belajar menulis. Seperti yang telah banyak disampaikan orang lewat tips-tips cara menulis. Salah satunya, kita harus punya wahana untuk menulis. Nah, saya memilih blog sebagai media yang semoga bisa mendorong saya untuk lebih giat belajar menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, saya ingin berinteraksi dengan sesama pemberlajar lain lewat jejaring blogger ini. Dengan demikian, harapanya, saya akan mendapatkan apresiasi dari kawan-kawan lain sesama blogger. Sehingga, saya akan mendapatkan masukan atau kritik yang akan bisa mendorong dan memotivasi saya untuk terus belajar dan belajar. Karena, hanya dengan interaksi yang demikian semangat untuk terus belajar dan meningkatkan kwalitas tulisan bisa terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, lebih spesifik lagi, saya ingin mendapatkan teman sesama blogger yang memiliki perhatian yang kurang lebih sama, sehingga saya bisa mendapatkan input-input yang konstruktif sebagai tambahan ilmu pengetahuan yang akan bisa menaikkan derajat dan kwalitas tulisan saya. Paling tidak saya bisa lebih maju dari fase sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To say the truth, masih banyak lagi tujuan yang ingin saya raih dari aktivitas menantang ini, tapi untuk saat yang sangat awal ini, sepertinya tak perlu saya sampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat datang, ijoroyoroyo ... selamat datang di dunia baru, dunia tanpa syarat, dunia tanpa batas, dunia luar biasa, dunia blogger ...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245848731703060805-7791741035614988306?l=yulinolpitu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/feeds/7791741035614988306/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/2010/01/awal-sebuah-pergulatan.html#comment-form' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245848731703060805/posts/default/7791741035614988306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245848731703060805/posts/default/7791741035614988306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yulinolpitu.blogspot.com/2010/01/awal-sebuah-pergulatan.html' title='Halo Semua, Salam Kenal'/><author><name>Alam Hijau</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16017713605066180734</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_nZV7UIG63-8/TABuawTZKHI/AAAAAAAAAEg/yF3pBdp5Wgs/S220/13642_102888239738321_100000514361875_77689_8304252_n.jpg'/></author><thr:total>10</thr:total></entry></feed>
