Tampilkan postingan dengan label green lifestyle. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label green lifestyle. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Februari 2011

Kesehatan, Investasi yang Harus Diperjuangkan

If the whole world adopts vegetarianism, it can change the destiny of humankind."—Albert Einstein

Kenapa saya harus menjaga kesehatan mulai dari sekarang, kenapa saya harus menjadi seorang vegetarian mulai dini, karena alasan kesehatan jangka panjang, karena merawat kesehatan merupakan bentuk investasi yang harus dimulai sejak dini.

Saya tidak ingin sakit-sakitan pada suatu saat nanti, terutama ketika usia sudah senja. Karena kalau sakit-sakitan, saya akan menjadi beban keluarga, terutama istri, anak, cucu, dan kerabat dekat lainnya. Istri harus repot-repot meluangkan waktu lebih banyak untuk merawat saya. Dia harus mengalami tekanan psikologis, harus menanggung perasaan sedih, juga terganggu tidurnya, karena harus memikirkan saya. Dia harus menggunakan tenaganya lebih banyak lagi, karena harus merawat dan menggantikan pekerjaan yang menjadi tugas pribadi saya. Dia harus merelakan resources-nya (hartanya) untuk membiayai pengobatan saya. Dia harus tidak enak makan dan tidur, teringat adanya beban melelahkan karena kondisi saya. Semuanya serba saya.

Tidak hanya istri saya, barangkali anak dan cucu saya, akan tersita sebagian waktunya, tenaganya, juga pikirannya karena harus wira-wiri menjenguk ayahandanya atau kakeknya yang harus menginap di rumah sakit atau panti kesehatan. Mereka pasti akan mengeluh, meskipun dalam hati saja, karena ketidaknyamanan itu, karena bau badan ayah/kakeknya, yang pasti semakin mengganggu ketika sedang sakit-sakitan. Keceriaan mereka pastilah akan berkurang, bahkan bisa hilang.

Sanak saudara, tetangga, dan kenalan-kenalan lain pasti juga akan terusik, meskipun tidak sebanyak dan seberat apa yang ditanggung istri, anak, dan cucu-cucu saya.

Kenyamanan hidup sepanjang sejarah kehidupan saya nanti, juga menjadi pertimbangan utama dalam misi pengendalian diri itu. Andaikan, saya bisa menjadi orang dengan kebebasan finansial yang luar biasa nanti, tetap saja, saya tidak percaya bahwa uang akan mampu membeli kenyamanan dari "hidup sehat", dan uang juga tidak akan bisa menjauhkan kita dari penyakit, bisa jadi sebaliknya, karena godaan konsumsi. Benar, kemampuan financial itu memungkinkan kita untuk mendapatkan perawatan medis atau dukun terbaik, tetapi apakah jejak-jejak luka fisik dan psikologis yang ditinggalkan oleh derita penyakit bisa tanpa bekas? Saya kira tidak.

Dengan pertimbangan-pertimbangan itulah, saya menjadi semakin termotivasi dan kekeh untuk meningkatkan gaya hidup yang sehat. Saya akan tetap rajin berolah-raga, berusaha untuk semakin perhatian dan selektif pada apa yang saya makan dan minum. Dengan terus mengamalkan gaya hidup vegetarian, paling tidak saya yakin bahwa itu adalah cara paling rasional, mudah, dan murah, di tengah semakin dasyatnya gelombang budaya konsumerisme yang "menjelomprongkan" kita, dan saya percaya kebiasaan baik itu akan menjaga kesehatan dalam jangka panjang.

Kenapa Harus "Emoh" Daging?

Menurut beberapa cerita teman sesama vegetarian dan vegan, juga menurut pendapat para ahli gizi (nutritionists) dan pakar kesehatan, yang telah menebarkan artikel-artikel kesehatan di media massa dan buku bacaan, bahwa pola diet vegetarian dan vegan, dinilai sangat handal dalam memperbaiki, meningkatkan, dan kemudian menjaga kualitas kesehatan manusia.

Menurut teori mereka, ada banyak jenis penyakit yang bisa dihindari ketika kita menganut pola diet vegetarian, diantaranya adalah aneka jenis kanker. Banyak studi yang berujung pada kesimpulan serupa bahwa konsumsi daging, terutama daging merah, meningkatkan resiko penyakit kanker, baik kanker payudara, kaker pankreas, kanker prostat, kanker kolon, dan kanker-kanker jenis lain. Hal itu dikarenakan, selain daging merah tinggi kandungan lemaknya, beberapa jenis hormon juga kerap ditambahkan oleh peternak guna mendongkrak produktivitas peternakannya, baik melalui pakan ternak instan maupun dengan cara injeksi. Padahal hormon tersebut memicu berjangkitnya sel-sel kanker ketika masuk dalam tubuh manusia. Selain itu, daging sangat tinggi kandungan proteinnya, sedangkan protein akan memecah amonia yang bersifat karsinogen. Seperti kita tahu bahwa zat karsinogen merupakan biang penyemai kanker yang paling laten.

Tidak itu saja, hasil riset juga mengungkap bahwa konsumsi daging juga turut mereduksi asupan serat, antioksidan, dan nutrisi penting lainnya. Padahal serat dan antioksidan terbukti ampuh dalam menangkal munculnya benih sel kanker. Sialnya lagi, kegemaran orang memasak daging dengan cara dibakar atau dimasak dengan suhu yang tinggi juga menyisakan residu berupa senyawa kimia karsinogen seperti polycyclic aromatic hydrocarbons dan hetercycil amines yang juga memicu penyakit kanker (KOMPAS.com, 16/01/2010). Sehingga tidak mengejutkan ketika beberapa studi yang mengkaji populasi orang Eropa di era 1990-an, menegaskan sebuah kesimpulan bahwa mereka yang sering mengkonsumsi daging lebih banyak terjangkiti kanker ketimbang mereka yang vegetarian.

Fakta-fakta yang mengkaitkan konsumsi daging dengan prevalensi berjangkitnya kanker, juga telah dibuktikan dengan riset yang lebih meyakinkan, yakni riset yang digelar di Inggris selama 12 tahun, yang melibatkan 6.000 pelaku vegetarian dan 5.000 penyantap daging. Studi itu mengungkap bahwa pelaku vegetarian yang meninggal karena kanker 40% lebih sedikit dibandingkan dengan pemakan daging, sedangkan yang meninggal karena penyakit lain juga 20% lebih sedikit (The Guardian, 07/2009).

Konsumsi daging, terutama daging merah, apalagi yang sudah diawetkan, juga berkorelasi positif dengan meningkatnya kadar lemak dan kolesterol jahat dalam darah kita, sedangkan tingginya kadar lemak dan kolesterol jahat tersebut berbanding lurus dengan berjangkitnya beberapa penyakit degeneratif, termasuk stroke, gagal jantung, kencing manis (diabetes), dan serangan ginjal, meskipun masih banyak faktor lain yang turut mempercepat munculnya penyakit degeneratif tersebut. Namun demikian, menghindari daging akan mengurangi secara signifikan resiko penyakit-penyakit fatal tersebut.

Karakter daging yang tak berserat (non fiber) sudah pasti akan menambah potensi penumpukan kalori yang berlebihan, sehingga meningkatkan resiko obesitas. Selain itu, rendahnya kadar fiber akan memicu terjadinya gangguan sembelit, yang apabila berlansung secara terus-menerus (dalam jangka panjang) akan menyebabkan penyakit wasir.

Makanan hewani juga mempertinggi prevalensi penularan penyakit-penyakit yang dibawa atau ditularkan oleh binatang, seperti sapi gila, antrax, salmonella, flu babi, flu burung, E-colie, cacing pita, dan parasit lainya. Tidak itu saja, beberapa jenis limbah pencemaran seperti logam berat dan pestisida buatan biasanya terakumulasi dalam tubuh hewan yang tersimpan aman bersama lemak dan bagian organ tertentu, sehingga menkonsumsinya sama artinya dengan memindahkan timbunan polutan ke dalam tubuh kita. Kalau sudah seperti itu, gangguan kesehatan tinggal menunggu waktu, bahkan akan mengancam jiwa.

Penyakit osteoporosis juga menjadi ancaman serius bagi meat-eaters. Hal ini dikarenakan, dalam proses pencernaannya daging akan menghasilkan zat asam tertentu, yang pada akhirnya akan bersemayam di dalam tulang, sehingga memicu pelepasan kalsium tulang. Nah, berkurangnya kalsium dalam tulang akan berdampak pada turunya massa tulang, yang pada gilirannya akan menyebabkan osteoporosis.

Bagi wanita yang vegetarian, mereka akan diuntungkan dengan tingginya konsumsi sayur dan buah-buahan, serta biji-bijian atau kacang-kacangan, termasuk kedelai, yang sangat kaya akan fito-estrogen, yaitu senyawa yang memiliki karakter layaknya hormon estrogen, yang bermanfaat untuk mencegah gangguan penyakit menjelang masa menopause, seperti emosi menjadi tidak terkendali, perasaan tidak nyaman, dan tubuh terasa sakit-sakit. Itulah kenapa, banyak yang menyebut bahwa makanan dari bahan kedelai merupakan sumber doping estrogen yang alamiah.

Longevity

Fakta yang paling istemewa tentang pola konsumsi vegetarian dan vegan adalah, bahwa mereka yang taat dengan diet “emoh” daging akan mendapatkan bonus kehidupan yang lebih panjang (longevity), dengan kualitas kesehatan prima atau panjang umur namun tetap sehat. Ini telah dibuktikan dengan banyak riset, salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Loma Linda University USA. Berdasarkan temuan mereka, orang vegetarian akan hidup 15 tahun lebih lama dibandingkan dengan mereka yang meat-eaters (American Journal of Clinical Nutritio; September 2003).

Adanya kantong-kantong centenarian, komunitas orang yang berumur lebih dari seratus tahun, di beberapa tempat di belahan bumi, seperti di daerah Okinawa (Jepang), Sardina (Italia), dan juga Loma Linda (Califormia), yang menurut hasil penelitian, diduga karena mereka cenderung hidup vegetarian, bijak terhadap alam lingkungan, dan punya relasi horisontal dan vertikal secara baik, menambah kuatnya argumentasi tentang peran vegetarianisme dalam menjaga kesehatan di masa senja (National Geographic, November 2005).

Eventually, fakta-fakta terangkai diatas, telah menolong dan menguatkan saya untuk tetap setia pada keyakinan awal, bahwa kesehatan adalah masa depan, sangat bernilai, layaknya cita-cita atau impian yang harus terus diperjuangkan, sehingga mengupayakan kesehatan merupakan bentuk investasi, yang layak dijaga dan diperjuangkan. Saya memilih jalan vegetarian, demi memperjuangkan investasi masa depan saya.***

Jumat, 14 Januari 2011

Sejarah Singkat dan Mengapa Saya Vegetarian

Sedari dulu, terutama ketika sudah mengenyam bangku sekolah, saya lebih tertarik mata pelajaran olah-raga dan kesehatan. Karenanya, ketika bertemu dengan bahan bacaan seperti koran dan majalah, artikel atau tulisan yang bicara tentang kesehatan akan saya sambangi lebih dini. Apalagi kalau waktunya terbatas, praktis hanya jenis informasi seperti itu yang saya nikmati.

Akhir tahun 1998 saya mulai bekerja di sebuah lembaga non-profit di Yogyakarta. Di lembaga itulah saya kemudian berinteraksi dengan seorang teman kerja yang sedari kecil sudah tidak suka daging, tetapi masih toleran terhadap konsumsi bakso dan makanan olahan lain yang masih menggunakan daging sebagai bahan campuran. Sedangkan untuk menu daging murni dia sama sekali tidak bisa memakannya. Saya dan teman-teman kerja menyebutnya sebagai seorang vegetarian, namun dia sendiri mengaku bukan penganut vegetarian.

Selain dia, masih ada seorang teman lagi yang saat itu sudah vegetarian selama tujuh tahun. Akan tetapi dia sudah berhenti menjadi vegetarian, karena alasan khusus yang saat itu tidak disampaikan kepada saya. Namun, dia masih bersemangat untuk menularkan pengetahuannya tentang pilihan hidup yang selama tujuh tahun terakhir dia lakoni dengan penuh dedikasi.

Dua teman baik tersebut rupanya, telah memberikan inspirasi pada saya untuk mencari-cari informasi tentang vegetarianisme. Memang, sebelumnya pengatahuan saya tentang bahasan itu sangatlah minim. Nah, kebetulan pada saat itu lembaga kami mulai menyediakan fasilitas akses internet, meskipun masih sangat terbatas, sehingga kami harus bergantian dalam memanfaatkannya. Kesempatan yang sangat terbatas tersebut saya manfaatkan untuk terus mencari artikel-artikel tentang kesehatan dan vegetarianisme.

Pada perkembangan selajutnya, semakin banyak membaca artikel tentang kesehatan, kesadaran saya terhadap pentingnya gaya hidup sehat semakin menguat. Hingga kira-kira mulai pertengahan 1999, saya mulai mengurangi konsumsi daging, terutama jenis daging yang dianggap sangat berbahaya bagi kesehatan kita jangka panjang. Nah, sejak saat itu saya mulai emoh jenis bahan pangan hewani tertentu, seperti daging yang berwarna merah, jerohan, kulit, sumsum, otak, lemak-lemakan, kuning telur, daging yang dibakar, dst. dan cenderung memilih bahan pangan nabati seperti tahu, tempe, sayur-sayuran dan buah-buahan. Apabila terpaksa harus makan produk pangan hewani saya selalu memilih jenis ayam kampung dan ikan-ikanan sebagai pengganti lauk-pauk. Alasanya, waktu itu banyak ahli kesehatan yang menyebutkan bahwa daging ikan lebih sehat dibandingkan dengan daging lainnya, karena daging ikan dinilai lebih rendah kadar lemak dan kolesterolnya. Jadi, saya mengkonsumsi daging jauh lebih jarang dari tahun-tahun sebelumnya.

Waktu terus berjalan, pengetahuan saya tentang vegetarianisme dan gaya hidup sehat terus bertambah, sedangkan pola konsumsi harian saya juga semakin berubah mengikuti pola baru yang menurut keyakinan saya “lebih sehat”. Saya lebih banyak mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan segar yang berwarna-warni (diet pelangi-red). Konsumsi daging ayam juga mulai saya tinggalkan sama sekali. Masakan ala ikan-ikanan, sesekali saja dan dengan porsi amat terbatas menjadi pilihan saya. Hal itu terjadi, terutama ketika lembaga dimana saya bekerja, sedang menggelar kegiatan-kegiatan di hotel, dimana selalu tersedia beraneka jamuan makan mewah dan gratis. Sehingga cukup memberikan godaan hebat bagi saya yang sedang memulai pola konsumsi baru yang cenderung semi vegetarian atau flexitarian (karena kandang-kadang masih makan daging ikan).

Keteguhan saya untuk terus berlatih menjadi seorang vegetarian semakin kuat. Pilihan menu harian saya semakin mendekati menu vegetarian, meskipun masih mengkonsumsi susu dan putih telur. Konsumsi ikan juga semakin jarang. Ketika ada kesempatan makan bersama di kegiatan-kegiatan atau acara-acara komunitas yang melibatkan jamuan pesta, saya mulai terbiasa dan tidak tergoda lagi untuk mencicipi masakan berbau ikan.

Kira-kira tahun 2003, ketika sedang hang-out bersama komunitas bikers, di komplek kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), secara kebetulan saya melihat ada warung tenda vegetarian yang dikelola oleh Keluarga Vegetarian Maitreya Indonesia (KVMI) cabang Yogyakarta. Warung tiban itu digelar bersama dengan puluhan warung tenda lainnya di jalan-jalan dalam kompleks kampus UGM, tepatnya di depan lapangan Gedung Graha Saba, setiap hari Minggu pagi. Tanpa berfikir panjang saya langsung “andok” di warung istimewa itu. Di sana, saya berkenalan dengan beberapa crew-nya, yang menurut saya sangat santun-santun dan nampak halus pembawaan perilakunya.

Masih ingat betul, saat itu saya dilayani oleh Mas Dondi (dari KVMI). Kesempatan itu kemudian saya manfaatkan untuk berkenalan dan berbincang-bincang tentang vegetarianisme. Dengan segenap pengetahuan dan dedikasinya, Mas Dondi menjelaskan panjang lebar tentang vegetarianisme dan KVMI sebagi sebuah organisasi nasional. Saya juga ditawari publikasi yang diterbitkan oleh KVMI, dan saya membelinya juga, diantaranya “Vegetarian Ok dengan Kwartet Nabati”, “Vegetarian OK 2” keduanya karangan L. Linan, dan “Memuliakan Semua Makhluk” karya Roshi Philip Kapleau, “Apa yang Salah Dengan Makan Daging,” serta sebuah buku saku dan tabloid tentang vegetarianisme.

Pertemuan tak terduga itu dan buku-buku KVMI yang telah saya baca sebagian, semakin memberikan motivasi dan meneguhkan komitmen saya untuk meneruskan jalan hidup yang mulai fokus pada pilihan “Lacto-Ovo-Vegetarian”.

Orientasi

Ada banyak tujuan atau orientasi mengapa seseorang memilih jalan hidup vegetarian. Saya pribadi pada awalnya “emoh” daging karena ingin meningkatkan kualitas kesehatan, sedikit demi sedikit, dilakukan saban hari. Karena itu, gaya hidup vegetarian menjadi alternatif terobosan paling masuk akal, dan mulai tahun 2003 saya bertekat menempuh jalan itu, meskipun saya tidak sedang menderita sakit tertentu.

Jaman terus berkembang, keyakinan saya tentang vegetarianisme semakin tak tergoyahkan. Di luar sana, gaya hidup vegetarian juga terus berkembang dan semakin banyak pengikutnya. Tidak hanya kaun agamawan dan kalangan aktivis pecinta lingkungan, para celebrity dan tokoh-tokoh terkenal dunia juga semakin banyak yang taat pada jalan hidup yang terbilang ideologis itu. Untuk sekedar menyebutkan beberapa contoh penganut vegetarianisme dunia: aktor terkenal Alicia Silverstone, Tobey Maguire (Spiderman), and Barbie Hsu; bintang NBA basketball John Salley; pembawa acara TV Ellen Degeneres; Peraih Nobel Perdamaian dan Ketua UN IPCC Dr. Rajendra Pachauri, anggota kongres USA Dennis Kucinich; jurnalis CNN Jane Velez-Mitchell; penyanyi popular Shania Twain, Paul McCartney, John Lennon, Jason Mraz, dan Moby; Jaksa dan analis hukum CNN Lisa Bloom; penulis terkenal Jonathan Safran Foer; supermodels Petra Nemcova dan Lauren Bush, dan masih ratusan lagi.

Satu dekade terakhir ini, jalan hidup yang dipandang green itu, bahkan disebut-sebut oleh para ahli ekologi bisa menjadi jalan keluar untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan menyelamatkan bumi dari ancaman global warming, bila dilakukan oleh lebih banyak penduduk di planet bumi ini. Nah, kenyataan itu telah melengkapi dan memperkaya orientasi saya dalam bervegetarian. That’s why, belakangan ini saya lebih termotivasi untuk meneguhkan vegetarianisme dan green life style, sebagai bukti betapa cintanya saya terhadap lingkungan dan keselamatan bumi dari ancaman global warming dan climate change.

Terakhir, saya memang seorang muslim, dan agama saya tidak secara tegas mengajarkan tentang vegetarianisme. Kendati demikian, ajaran agama saya tentang kasih sayang terhadap sesama dan mahkluk lain, serta kebajikan yang harus diejawantahkan terhadap lingkungan alam, menjadikan saya semakin nyaman dengan alasan “ethical” mengenai perilaku vegarian yang saya yakini.***

Note:

Menurut beberapa referensi yang pernah saya baca, gaya hidup vegetarian bisa mencegah berbagai gangguan kesehatan seperti penyakit kanker, penyakit akibat kolesterol, obesitas, osteoporosis, ganguan ketika masa manupouse, serta tidak tertular penyakit dari hewan dan keracunan. Selain itu, ber-vegetarian diyakini banyak ilmuwan bisa memperpanjang kesempatah hidup dengan kualitas kesehatan prima, alias berumur lebih panjang dan dengan kondisi tetap sehat. How do you think, guys?

Kamis, 07 Oktober 2010

Global Warming dan Ancaman Kesehatan

Sudah sejak sekitar tiga puluh tahun yang lalu, beberapa ilmuwan mulai memperingatkan ancaman “paling serius” setelah perang dingin (Cold War), yakni global warming. Kini gejalanya semakin kentara dan mudah diindra dimana-mana. Perubahan cuaca dan situasi lautan, pergeseran ekosistem, serta degradasi lingkungan berakibat buruk pada kehidupan di muka bumi—menyulitkan manusia dan banyak mahkluk lain.

Para ahli terus menggelar riset untuk lebih jauh mempelajari dan mencari jalan keluar persoalan super gawat tersebut. Kesimpulannya tunggal, global warming dan climate change benar terjadi serta efek dasyatnya tinggal menunggu waktu. Bahkan sudah ada angka resmi yang membeberkan bukti otentik adanya peningkatan suhu permukaan bumi. Faktanya, paling tidak suhu bumi secara keseluruhan telah naik sebesar 0,6º Celsius (ºC) atau sepadan dengan 0,9º Fahrenheit (ºF), bila dibandingkan dengan kondisi bumi satu abad yang lalu (Suara Merdeka, 20/8/2010).

David Brown, seorang staf penulis media Washington Post yang punya perhatian khusus pada isu-isu pemanasan global, menandaskan bahwa phenomena yang terjadi akan berbeda-beda. Perubahan yang terjadi akan bergantung “di wilayah mana kita berada”. Situasinya bisa lebih panas, lebih basah, lebih kering, lebih berangin, lebih hening, lebih kotor, lebih banyak kelaparan, lebih banyak penyakit, atau lebih suram bila dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Bahkan di daerah-daerah tertentu bisa jadi akan sangat mematikan. Dia menegaskan bahwa efek perubahan iklim sangat beragam dan acap kali bertolak belakang. Secara umum perubahannya akan mendatangkan ketidakstabilan dan kejadian-kejadian extreme. Garis-besarnya, climate change cenderung mengancam kesehatan ketimbang memberi kontribusi pada perbaikan kesehatan manusia.

Pendapat Brown (2007) menguatkan kata-kata Jonathan A. Patz, seorang dokter dan epidemiologis dari Universitas Wisconsin di Madison, bahwa “Cimate change affects everything”. Segalanya akan kena imbas perubahan iklim global. Belahan bumi tertentu akan menjadi lebih basah karena lebih sering terpapar curah hujan, sedangkan tempat lain menjadi lebih kering karena semakin jarang mendapat jatah air dari langit. Badai, banjir, tanah longsor, kekeringan, dan bencana alam lain lebih sering terjadi, dan kerap kali melanda tempat-tempat yang sebelumnya tidak pernah mengalami bencana serupa. Nah, kondisi yang demikian akan sangat rentan mendatangkan berbagai macam gangguan kesehatan, tidak hanya serangan penyakit infeksi (infectious diseases), tapi juga gangguan jiwa akibat depressi yang bertubi-tubi.

Kenaikan suhu atmosfir bumi yang rata-rata hampir 1º F tersebut, menurut World Health Organization (WHO), hingga tahun 2000 telah menyebabkan sekitar 160.000 korban jiwa setiap tahunnya. Pada tahun 2020, WHO memperkirakan angka tersebut akan berlipat menjadi 300.000 per tahun.

Para ilmuwan juga meramalkan bahwa global warming turut meningkatkan frekwensi bencana gelombang panas (heat waves), yang pada tahun 2003 lalu telah mencelakai sebagian masyarakat Eropa. Tidak kurang, 30.000 orang meninggal karena penyakit yang ada kaitan langsung dengan gelombang panas. Di Perancis saja, hanya dalam tiga minggu (di bulan Agustus 2003), badai udara panas tersebut telah merenggut paling tidak 14.800 jiwa.

Fakta temuan WHO yang lebih mengkawatirkan lagi adalah, bahwa sepanjang tahun 1976-2008, ada paling tidak 30 penyakit-penyakit baru yang muncul akibat global warming dan climate change. Diantara penyakit tersebut, yang bisa dibilang paling menonjol dan dinilai cenderung lebih ganas adalah penyakit demam berdarah, malaria, demam kuning, kolera, diare, dan virus ebola, yang sangat mematikan dan telah menelan banyak korban jiwa (KOMPAS, 15/11/2008). Hal tersebut ada kaitannya dengan semakin bertambahnya wilayah-wiyalah yang memiliki suhu lebih hangat dan lembab (tropical), sehingga serangga dan binatang lain penyebar penyakit seperti nyamuk, lalat, siput, dan tikus bisa berkembang biak lebih cepat dengan sebaran yang lebih luas.

Hasil studi-studi yang lain, mengetengahkan kesimpulan yang serupa bahwa naiknya kehanggatan suhu bumi berbanding lurus dengan prevalensi kejadian gangguan kesehatan lain, diantaranya, serangan stroke, gangguan berbagai penyakit kulit, gangguan pencernaan, bermacam demam, radang otak, japanese encephalitis, filariasis, deman berdarah dengan gejala ginjal, flu burung, SARS, leptospirosis, dll. (Koran Tempo, 17/12/2007).

Gangguan kesehatan yang dimaksud, ternyata tidak hanya akibat dari muncul-dan-berkembangnya berbagai penyakit infeksi saja. Perubahan cuaca yang membawa pada meningkatnya kejadian bencana di wilayah tertentu, ditambah pencemaran lingkungan yang parah, terutama pencemaran logam berat, telah mendatangkan berbagai gangguan kesehatan yang sangat mematikan, seperti munculnya bermacam-macam kanker, terjadinya kerusakan organ-organ vital, alzheimer, deformasi sedari lahir pada bayi baik fisik maupun mental, dst.

Patterson Clark (Washington Post, 2004) menggambarkan bahwa degradasi lingkungan, merosotnya kualitas air, udara, dan tanah akibat dari pencemaran (polutan) telah melahirkan berbagai penyakit dan turut memperparah problem kesehatan masyarakat. Buruknya kualitas air akan berujung pada meningkatnya kejadian wabah kolera, hepatitis A, leptospirosis, cryptosporidosis, dinoflagellate “red tides”, juga keracunan ikan dan kerang akibat kontaminasi bakteri vibrio dan salmonella. Polusi udara akan berdampak pada meningkatnya serangan asma, alergi dan coccidiodomycosis, serangan jantung dan paru-paru kronis. Laporan WHO menyebutkan, paling tidak terjadi tiga juta kematian di seluruh dunia setiap tahunnya akibat pencemaran udara. Angka tersebut, terbilang “tiga kali lipat” dibandingkan dengan jumlah korban tewas akibat kecelakaan pada alat transportasi.[1] Kemerosotan lingkungan juga mendatangkan penyakit lain yang ditularkan oleh serangga, seperti hantavirus pulmonary syndrom, viral encephalitis, Rift Valley fever, schistosominiasis, scabies, lyme, dll.

Yang lebih buruk lagi, karena keterbatasan resources dan buruknya kualitas pelayanan publik, masyarakat miskin di negara-negara berkembang seperti Indonesia akan menderita terpaan paling mengenaskan akibat bencana ekologis tersebut. Sedangkan kelompok yang paling tidak diuntungkan (vulnerable groups) adalah anak-anak dan balita. Seperti yang pernah disoroti dalam laporan WHO (1997), bahwa 80% dari sekitar 3 juta korban meninggal akibat malaria adalah balita dan anak-anak. Demikian juga para lanjut usia, orang yang sedang sakit, dan orang yang miskin, menjadi kelompok-kelompok lain yang sangat rentan.

Menilik contoh situasi yang ada di Indonesia, data yang dilansir oleh Yayasan Pelangi Indonesia, di Pulau Jawa dan Bali juga mengalami peningkatan hampir tiga kali lipat kasus kejadian malaria. Dari 18 kasus per 100.000 penduduk pada tahun 1998, berlipat menjadi 48 kasus per 100.000 penduduk pada tahun 2000. Sedangkan di luar Pulau Jawa dan Bali, kasus penyakit serupa juga meningkat hingga 60% pada periode yang sama. Tercatat, kasus paling masif terjadi di NTT, yakni 16.290 kasus per 100.000 penduduk.

Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) yang digelar tahun 1995, menyibak fakta bahwa sekitar 15 juta penduduk Indonesia terjangkiti malaria, dan 30.000 diantaranya tidak terselamatkan (WHO, 1996). Jika upaya untuk mengatasi climate change tidak berhasil, prediksi para ahli mengatakan bahwa Indonesia akan terus didera peningkatan kasus penyakit malaria dan demam berdarah. Untuk demam berdarah diperkirakan akan meningkat hingga empat kali lipat pada periode yang sama, dari 6 kasus per 100.000 penduduk menjadi 26 kasus.[2]

Kemudian penanganan yang bagaimanakah sebaiknya? Karena skalanya global, cara yang paling tepat untuk mengatasi persoalan tersebut adalah melalui kerjasama internasional. Tentu saja, dibawah bendera PBB dan organisasi kemanusiaan transnasional lainnya, gerakan dan upaya untuk mengatasi persoalan tersebut akan lebih efektif dijalankan.

Mengingat sedikit banyak telah bisa dipetakan efek destruktifnya, perencanaan yang matang dan kesiap-siagaan atau tanggap darurat (preparedness) pada level masing-masing negara, dalam hal ini mencakup persoalan kelembagaan, logistik termasuk shelters, dan juga obat-obatan menjadi penting untuk dipersiapkan sejak dini. Sehingga upaya untuk mengurangi resiko dan meringankan dampaknya menjadi bisa bekerja dengan baik. Terutama, negara harus bisa memastikan penghematan resources yang menyangkut hajat hidup orang banyak, yang kian terbatas, seperti air bersih dan lahan pertanian produktif.

Namun demikian, mencermati apa yang pernah dikatakan oleh Kristie L. Ebi,[3] seorang epidemiologis dari Amerika, bahwa “The impacts of climate change really depend on your local context,”dengan demikian negara harus segera mempersiapkan stakeholders yang ada di daerah dan level komunitas, membekalinya dengan desain dan cara pengembangan metode beradaptasi terhadap perubahan yang bakal terjadi. Selain itu, pengawasan terhadap perkembangan penyakit-penyakit infeksi mutlak dilakukan, sehingga bisa dengan mudah merencanakan dan mempersiapkan langkah-langkah antisipasi. Harapanya, tingkat kerentanan (vulnerability) bisa dikurangi sekaligus ketahan (resilience) mereka bisa terdongkrak.

Selain itu, kalau dirunut lebih jauh, persoalan kesehatan merupakan problem “hilir” dari global warming dan climate change, sedangkan kerumitan di “hulu” telah mendera lebih dulu pada bidang-bidang lainnya. Dengan begitu, peran kesadaran publik yang bisa membawa pada perubahan perilaku individual untuk melakukan upaya-upaya pencegahan menjadi sangat esensial. Untuk itu tips populer yang sering beredar dalam wacana para pecinta lingkungan dan penganut green-life-style, yakni Tiga M—Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal-hal kecil, dan Mulai dari sekarang—menjadi sangat relevan, visoner, dan menjanjikan perubahan nyata bila telah menjadi komitmen hidup lebih banyak orang. Semuanya selalu bergantung pada kita semua, pada akhirnya. Bukankah masing-masing dari kita punya andil pada terjadinya global warming?



[1] USDA, Production, Supply and Distribution, electronic database , at www.fasusda.gov/psdonline, updated 12 July 2007.

[2] PORTAL CBN, Cyberhealth, SENIOR, Gaya Hidup Sehat, http://cybermed.cbn.net.id.

[3] Kristie L. Ebi is Executive Director of the Technical Support Unit for Working Group II (Impacts, Adaptation, and Vulnerability) of the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). Prior to this position, she was an independent consultant. She has been conducting research on the impacts of and adaptation to climate change for more than a dozen years, including on extreme events, thermal stress, foodborne safety and security, and vectorborne diseases. She has worked with the World Health Organization, the United Nations Development Programme, USAID, and others on implementing adaptation measures in low-income countries. She facilitated adaptation assessments for the health sector for the states of Maryland and Alaska. She was a lead author on the “Human Health” chapter of the IPCC Fourth Assessment Report, and the “Human Health” chapter for the U.S. Synthesis and Assessment Product “Analyses of the Effects of Global Change on Human Health and Welfare and Human Systems.” She has edited fours books on aspects of climate change and has more than 80 publications. Dr. Ebi’s scientific training includes an M.S. in toxicology and a Ph.D. and a Masters of Public Health in epidemiology, and two years of postgraduate research at the London School of Hygiene and Tropical Medicine.

Selasa, 25 Mei 2010

Pertanian Organik, Potensi dan Kendalanya

Pola pertanian organik semakin mendominasi wacana bidang pertanian dewasa ini. Praktek pertanian yang pada dasarnya tidak jauh beda dengan model pertanian tradisional warisan nenek moyang kita, namun sudah puluhan tahun banyak ditinggalkan petani karena kehadiran revolusi hijau, kini semakin populer, diakui potensinya, dan dianjurkan oleh banyak kalangan. Pengakuan dan anjuran tersebut didasari dengan beberapa pertimbangan, mulai dari aspek nilai tambah secara ekonomi, aspek kualitas bahan konsumsi untuk kesehatan jangka panjang tubuh manusia, aspek penyelamatan dan kelestarian lingkungan (environmentally friendly and farming sustainability), hingga aspek ideologis yang oleh banyak kalangan ingin diperjuangkan.

Keunggulan nilai tambah ekonomi tersebut, atau harga premiun yang menjanjikan petani, tentu saja bisa dikembangkan menjadi alternatif jalan untuk mendongkrak penghidupan petani kecil. Harapanya, peluang tersebut bisa menjadi cara tambahan untuk membantu mengetaskan petani kecil dari belenggu kemiskinan. Namun demikian, untuk mengajak atau mendorong mereka beralih ke pertanian cara organik, tidaklah semudah yang kita bayangkan. Ada beberapa kendala atau tantangan serius yang bisa kita ketengahkan dalam tulisan ini.

Pertama, adanya mitos bahwa pertanian organik sulit dilakukan, rumit juga syarat tehnologi baru, dan memerlukan banyak resources dalam pelaksanaannya. Seperti penuturan Sutarman, Kaur Perencanaan Desa Giritirto, Kec. Purwosari, Kab. Gunungkidul, yang pernah mencoba mengaplikasikan sistem pertanian organik lahan basah di persawahannya.

Kedua, diperlukannya masa transisi yang relatif lama (sekitar 2-3 tahun) yang harus dilewati para petani ketika mulai beralih ke aplikasi pola pertanian organik. Pada fase transisi ini petani biasanya akan mengalami kerugian (D. Geovannucci, 2007). Hasil pertaniannya cenderung menurun drastis dibandingkan dengan pola pertanian konvensional. Seperti juga pengakuan Pak Muryanto, kepala Dukuh Glagah, Desa Nglegi, Kec. Patuk Kab. Gunungkidul, yang sejauh ini telah menekuni pertanian organik, bahwa pada awalnya dia menderita kerugian, karena hasil panen sawahnya langsung ‘njeglek’ (merosot tajam-red) bila dibandingkan panen sebelumnya ketika masih menggunakan sistem konvensional. Beliau menjelaskan bahwa pada masa transisi tersebut, kesuburan tanah masih belum pulih, sebagai dampak dari penggunaan pupuk kimiawi yang telah berlangsung puluhan tahun.

Ketiga, adanya kendala pemasaran produk organik, karena produk organik masih berharga mahal (premium), sehingga memiliki segmen pasar khusus, dan jaringannya masih dikuasai oleh pelaku bisnis bermodal besar, sehingga para petani kecil merasa kesulitan untuk mendapatkan akses pasar yang luas. Ini tidak jauh berbeda dengan apa yang diungkapkan Pak Putut, seorang petani pemula yang sendang merintis pertanian organik untuk sayur-sayuran dan buah-buahan berusia pendek seperti lombok, tomat, timun, melon, dan semangka, yang mengelola lahan persawahan di leren Timur Gunung Lawu, Jawa Timur.

Belum lagi, produk-produk pertanian organik seringkali penampilan fisiknya juga tidak sebagus produk-produk non-organik. Tidak digunakannya pupuk dan pestisida kimiawi seringkali membuat tampilan tanaman organik terkesan kurang sehat atau tidak se-subur yang non-organik, dan juga rentan terhadap serangan hama, sehingga terkadang ‘wajahnya’ bopeng dan ada cacatnya. Nah, penampilan yang kalah ‘kinclong’ seperti itu juga sering menjadi kendala pemasaran produk pertanian organik.

Keempat, belum adanya dukungan yang lebih nyata dan meluas dari pemerintah. Terutama dalam bentuk kampanye yang massive dan terus-menerus perihal pertanian organik, mulai dari pentingnya beralih ke makanan organik bagi masyarakat hingga bagaimana cara mengelola pertanian dan industri produk pertanian organik. Selain itu, pemerintah juga perlu memberikan akses informasi tentang potensi dan peta pasar, fasilitasi untuk promosi dan pameran, serta fasilitasi lahirnya kelembagaan pelaku pertanian organik, dan pelatihan-pelatian yang intensif bagi masyarakat bawah (petani kecil).

Perihal kelembagaan, petani kita sebenarnya telah paham dan memiliki cukup banyak variasi organisasi yang berbasis pertanian yang tersebar di seluruh Indonesia. Namun demikian, kapasitas mereka tetap perlu didongkrak dan dibangun kembali, dilengkapi dengan pengetahuan atau tehnologi baru, melalui bermacan training yang biayanya sepenuhnya ditanggung oleh anggaran pemerintah. Pelatihan-pelatihan yang intensif dilengkapai dengan kegiatan-kegiatan studi-banding yang relavan akan memudahkan gerak kemajuan pertanian ekologis tersebut.

Kelima, belum adanya regulasi (terutama di Indonesia) dan badan sertifikasi yang terjamin kredibilitasnya, sehingga bisa melahirkan trust antara produsen dan konsumen, yang pada gilirannya akan menopang berkembangnya bisnis pertanian dan produk organik.

Barangkali, regulasi yang harus dikeluarkan pemerintah juga harus mencakup adanya jaminan proses transaksi perdagangan yang ‘fair-trade’, yang saling memberikan keuntungan layak bagi petani kecil sebagai produsen, buruh, pelaku bisnis pendukung dan konsumen. Sehingga semua untung, semua mendapatkan bagiannya secara adil. Dengan demikian, produsen (terutama petani kecil/buruh) bisa mengenyam keuntungan yang sesungguhnya. Tidak hanya sekedar memberikan subsidi ‘derma’ kepada para pemodal besar yang menguasai distribusi dan pemasaran produk pertanian, seperti yang selalu terjadi hingga sekarang ini. Sehingga gagasan tinggi untuk menjadikan model pertanian organik sebagai salah satu cara tambahan untuk mengatasi kemiskinan petani kecil, bisa diwujudkan.

Sedangkan perihal sertifikasi, sudah semestinya pemerintah juga memberikan subsidi dan dukungan sepenuhnya, sehingga ada kemudahan bagi petani kecil untuk mendapatkan sertifikasi untuk produk-produknya. Harapanya, selain prosenya mudah biaya administrasinya juga relatif terjangkau bagi produsen (petani) kecil, sehingga ada kemudahan sekaligus motivasi kuat dikalangan petani kecil untuk mengembangkan usahanya.

***

Mengulang kembali apa yang telah sedikit disinggung di awal tulisan ini, bahwa model pertanian organik sangatlah menarik dan bisa menjadi terobosan alternatif untuk mengurangi beberapa masalah yang dihadapi masyarakat luas dewasa ini. Keunggulan-keunggulan dan potensi besar yang dimiliki pertanian organik bisa dielaborasi lebih lanjut seperti berikut ini.

Meningkatkan pendapatan petani kecil. Pertanian organik sangat potensial untuk mengatasi rendahnya pendapatan petani kecil, mengingat produk pertanian organik lebih diminati kelas menengah, yang nota bene memiliki daya beli untuk produk-produk dengan banderol premiun (seperti produk organik) dan punya kesadaran yang relatif tinggi dalam hal kesehatan dan isu lingkungan. Meskipun, peran tengkulak atau distributor seringkali menggagalkan potensi pendapatan petani kecil tersebut. Di sini, peran negara seharusnya bekerja untuk menjamin tegaknya transaksi ‘fair’ yang bisa memberikan harapan petani kecil untuk mengamankan nilai lebih hasil produksinya.

Menyerap lebih banyak tenaga kerja. Layaknya pola pertanian tradisional, perlakuan khusus terhadap komoditi tanaman organik merupakan pekerjaan yang padat karya, sehingga sistem pertanian tersebut bisa menyerap lebih banyak ternaga kerja dibandingkan dengan pola konvensional. Karakteristik tersebut, tentu saja sangat sesuai dengan situasi dan kondisi Indonesia yang memiliki angka penganggurang sangat tinggi.

Disamping itu, urgen-nya peningkatan kapasitas petani dan kelembagaannya, juga akan membuka peluang kerja bagi pengangguran terdidik dibidang lingkungan dan pertanian serta bidang relevan lain untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuannya mendampingi dan mendidik petani kecil yang berkecimpung di sektor pertanian organik tersebut.

Mengurangi pencemaran lingkungan. Selama ini sistem pertanian yang konvensional, yang modern dan bukan yang ekologis, sejak era 60-an ketika revolusi hijau mulai diperkenalkan telah terbukti mampu mendongkrak hasil panen petani. Namun demikian, sistem yang ditopang dengan kebijakan pemerintah Orde Baru yang populer dengan istilah ‘Panca Usaha Tani’ tersebut, terbukti telah memberikan dampak buruk terhadap lingkungan dan keberlanjutan usaha pertanian itu sendiri.

Sistem Panca Usaha Tani, menekankan pada cara pengolahan tanah yang intensif, penyemaian bibit yang unggul, aplikasi pupuk sintetis (bukan organik), sistem irigasi yang maksimal, serta pengendalian hama tanaman secara serentak atau menyeluruh dengan pestisida sintetis (kimiawi), sehingga terjadi exploitasi tanah dan air yang berlebihan, juga pencemaran tanah dan air yang tidak hanya berbahaya bagi kehidupan biota sekitarnya (ekosistim setempat), tapi juga mengancam kesehatan jangka panjang manusia. Karena pestisida dan pupuk kimiawi terbukti meninggalkan residu di dalam produk pertanian yang dihasilkan. Dan, bisa tertimbun dalam tubuh siapapun yang mengkonsumsi produk tersebut.

Turut berperan dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Seperti kita tahu bahwa kesehatan manusia berkaitan erat dengan apa yang mereka makan dan bagaimana kualitas lingkungan mereka. Dengan adanya bahan pangan organik, asumsinya apa yang dikonsumsi masyarakat akan menjadi lebih sehat. Paling tidak, sumber pangan mereka tidak lagi mengandung residu bahan-bahan kimia, baik dari pupuk, herbisida, fungisida, dan pestisida kimiawi, yang menurut para ahli kesehatan sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.

Lebih jauh lagi, aplikasi pestisida pada lahan pertanian juga terbukti telah turut mencemari perairan, tanah, dan udara yang dekat dengan lahan pertanian. Tanah, air, dan udara yang tercemar tentu saja akan mengancam tidak hanya manusia tapi juga lingkungan serta biota yang melengkapinya. Sedangkan manusia juga bagian dari ujung tertinggi rantai makanan, bisa dipastikan manusia akan menjadi pengepul terakhir polutan yang ada di lingkungannya. Bisa kita bayangkan akumulasinya.

Turut mengurangi produksi emisi gas rumah kaca (GRK). Dikaitan dengan isu dunia, global warming, sistem pertanian organik bisa menjadi salah satu upaya untuk mengurangi produksi GRK. Seperti yang terungkap dalam hasil beberapa riset bahwa aplikasi pupuk kimiawi juga punya kontribusi tidak sedikit bagi meningkatnya emisi GRK, yakni nitrogen dioksida, yang berasal dari hasil peruraian pupuk tanaman non-organik (Kompas, 1/10/2007).

***

Pemetaan sederhana tentang potensi dan kendala sistem pertanian organik di atas, diharapkan bisa memberikan tambahan wacana bagi kita semua utuk menimbang-nimbang, desakan seperti apa yang layak kita bidikkan kepada pemerintah dan stakeholders lain, serta peran apa yang bisa kita ambil untuk mensikapi gagasan perihal pertanian organik tersebut.

Dengan kapasitanya, pemerintah perlu bergerak dan berupaya lebih lekas untuk menjamin berjalannya model pertanian organik dengan melibatkan seluruh stakeholders, termasuk petani sendiri, LSM, koperasi, jaringan pertanian organik, konsumen, sektor swasta, lembaga pemerintah dan organisasi lintas pemerintahan. Singkatnya, model pertanian orgnik seharusnya menjadi bagian integral kebijakan pemerintah dalam mewujudkan pembangunan daerah perdesaan dan pertanian nasional.

Selain itu pemerintah juga harus memberikan dukungan tambahan kepada para petani berupa pelatihan-pelatihan tentang pertanian organik dan tata kelolanya, serta studi banding ke tempat lain yang sudah berhasil, mengingat model pertanian organik sudah puluhan tahun tidak dipraktekan lagi oleh petani, selain sudah semakin berkembangnya temuan baru soal tehnologi pertanian organik yang sudah banyak diterapkan di belahan dunia lain. ***

Senin, 01 Maret 2010

Kerja Keras, Salah Satu Kuncinya

From zero to hero. Kalimat pendek tersebut barangkali bisa merangkum cerita panjang pergulatan Sudiyono (54) dalam mengubah nasib dirinya dan teman sesama petani lewat budidaya salak pondoh di Dusun Candi, Desa Bangunkerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Itimewa Yogyakarta.

Bapak dua anak, sekaligus kakek seorang cucu ini adalah sosok pekerja keras, entengan atau cekatan dan tulus dalam membantu orang lain, serta tidak pernah bohong. Dengan karakter yang demikian, sudah barang tentu masyarakat selalu menaruh kepercayaan dan mengikuti jalan pikirannya. Terbukti mereka yang dulunya menjadi buruhnya, kini telah menjadi petani yang sama, turut menjadi makmur. Karena beliau tidak pernah pelit memberikan ilmunya, bahkan turut memodali bekas buruhnya dengan bibit-bibit yang sama unggulnya.

Tak sedikit petani lain di daerah Turi yang menjulukinya sebagai pakar salak pondoh. Karena beliau lah yang telah berhasil menjinakan sulitnya budidaya salak pondoh, yakni dengan metode vegetatif (cangkok), dengan memanfaatkan botol plastik bekas kemasan infus. Ini merupakan terobosan jitu untuk memastikan sifat unggul salak pondoh varietas super tetap terwariskan pada bibit-bibit berikutnya. Sebelumnya metode pembiakan dengan ‘tanam biji’ juga pernah dilakukan, akan tetapi sifat-sifat istimewa tanaman tersebut tidak selalu terbawa pada generasi berikutnya. “Nah, metode cangkok dengan plastik bekas infus inilah yang bisa diandalkan untuk mendapatkan bibit turunan yang memiliki karakter seratus persen sama dengan induknya”, terang Sudiyono dengan antusias.

Menurut Beliau dan pengakuan petani lain, Kecamatan Turi awalnya merupakan kawasan pertanian padi, tembakau, jagung, dan beberapa jenis palawija lain yang kurang produktif, serta belum bisa mengubah nasib mereka yang saat itu tergolong miskin dan terbelakang. Lahan pertanian mereka yang terdiri dari tanah regosal dengan ketinggian tanah sekitar 300 meter dari permukaan laut, kurang menghasilkan keuntungan yang memadahi untuk pertanian padi, belum lagi potensi pengairan yang saat itu belum bisa menjamin kebutuhan pertanian sepanjang tahun.

Pada era sekitar 1975, Sudiyono mencoba meraba-raba, apa gerangan yang membuat petani di sekitarnya tak kunjung mampu lepas dari kubangan kemiskinan yang telah turun-temurun. Sedangkan kalau ditinjau dari lahan yang mereka miliki, hampir semua dari mereka memiliki tanah pertanian yang cukup luas. Kemudian beliau mengkaji, dengan bekal pengetahuan soal manajemen, yang didapatkan dari bangku perguruan tinggi, dihitunglah untung-rugi pertanian yang saat itu sedang dijalankan para petani. Maka ketemulah sebuah kesimpulan bahwa apa yang telah dikerjakan petani belum bisa menghasilkan panen yang bisa memberikan ‘bathi’ (keungtungan) yang mencukupi kebutuhan hidup mereka. Bahkan, bisa dikatakan cenderung ‘pak-puk’ atau impas saja. “Segitu biaya yang dikeluarkan, segitu pula hasil panen yang didapatkan” kesimpulan Sudiyono setelah melakukan ‘itung-itungan’ sederhana, mengukur tingkat ekonomis budidaya tanaman produktif saat itu. Sehingga, mereka justru merugi pada aspek waktu, tenaga, dan pikiran yang telah mereka curahkan untuk proses produksi tersebut.

Kesimpulan dari ‘penakaran’ tersebut telah mendorong Sudiyono keras memutar otak guna mencari solusi yang bisa mendedah persoalan tersebut. Setelah berbulan-bulan berfikir, akhirnya beliau bisa membaca potensi yang ada. Beliau melihat tanaman salak yang tumbuh subur di tegalan warisan orangtuanya. Kebetulan banyak jenis salak yang tumbuh alamiah di Dusun Candi tersebut. Akan tetapi hanya sedikit jenis yang memiliki keunggulan. Nah, seperti berkah yang sengaja disediakan oleh alam, di kebun warisan tersebut terdapat rumpun pohon salak yang sangat istimewa, yakni salak pondoh jenis super.

Beliau mencoba mengembangkan tanaman tersebut. Tentu saja dibutuhkan proses panjang, dan tak lepas dari bermacam kendala yang harus beliau taklukkan. Diantaranya, statusnya yang masih tergolong muda saat itu, membuatnya kesulitan dalam meyakinkan para petani di sekitarnya yang notabene para golongan tua dan sudah puluhan tahun menggeluti pertanian selain salak. Untuk alasan itu, beliau masuk dulu ke golongan pemuda. Meskipun melalui proses yang tidak gampang, akhirnya berhasil juga para pemuda diorganir untuk mengikuti langkahnya.

Ada kendala lain yang tak kalah pelik, yakni kemampuan ekonomi petani yang rendah untuk pengadaan bibit. Mereka masih miskin, tidak punya uang, tetapi sangat membutuhkan jalan keluar untuk mengubah model pertaniannya. Saat itu, harga bibit salak pondoh memang masih sangat mahal, mengingat sulit dan terbatasnya bibit yang bisa dihasilkan. “Jaman itu, sekitar tahun 1980, satu bibit salak pondoh harganya setara dengan harga 1 gram emas”, tutur Sudiyono. Sehingga, beliau menggunakan pendekatan yang ‘fleksibel’ untuk mendamaikan kepentingannya—mengembangkan komunitas dan kawasan perkebunan salak—dengan kondisi ekonomi masyarakat yang belum memungkinkan untuk membeli bibit dalam partai besar dan kontan. “Luwes saja, ada yang menukar dengan ayam, dengan tenaga mereka, juga ada yang kredit dulu. Kami juga membatasi dengan hanya memberikan lima batang bibit untuk masing-masing petani. Agar merata sebarannya,” Sudiyono mengisahkan dengan tertawa ringan. Baginya, yang tersulit adalah mengubah pola pikir rekan-rekan sesama petani untuk percaya diri beralih ke komuditas yang lebih sesuai dengan karakter tanah, cuaca, dan lebih menguntungkan secara ekonomi dan keberlanjutan ekosistem setempat. Mengingat pertanian salak pondoh lebih hemat dari sisi penggunaan air, obat-obatan dan pupuk kimiawi, karena lebih sedikit jenis hama yang bisa mengancam keberadaannya. Sehingga dari sisi kelestarian lingkungan, budidaya vegetasi perdu tersebut jauh lebih ‘green’ dibandingkan pertanian ‘padi sawah basah’ yang sebelumnya digeluti masyarakat di Dusun Candi dan sekitarnya.

Seiring dengan berkembangnya komunitas dan semakin luasnya sebaran rumpun-rumpun tanaman berduri tersebut, Sudiyono juga berusaha memformalkan kebersamaan komunitasnya, hingga lahirlah sebuah Kelompok Tani (KT) Manunggal, yang peresmiaannya diselaraskan dengan hadirnya Sri Paduka Paku Alam ke-8 mewakili Gubernur DIY, tahun 1984. “Waktu itu, meskipun masih muda saya dalam posisi sebagai KK (kepala keluarga) karena ayah saya telah meninggal. Sehingga setiap pertemuan RT, saya yang mewakili. Nah, forum RT itu lah yang saya manfaatkan untuk merintis terbentuknya KT Manunggal,” kisah Sudiyono menyangkut organisasi kebanggaannya.

Berdirinya KT Manunggal direspon secara positif oleh Pemerintah Desa dan pihak Kabupaten lewat Dinas Pertaniannya, sehingga datanglah secara berkala Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) ke Dusun Candi dan dusun lain Desa Bangunkerto, guna turut memberikan bantuan teknis dalam pengembangan budidaya tanaman perdu tersebut. Menindaklanjuti hubungan harmonis yang berhasil terbangun, pada akhirnya Dinas Pertanian juga memberikan bantuan uang untuk pengadaan bibit kepada kelompok tani tersebut.

Perhatian yang semakin baik dari pemerintah turut memacu kegigihan Sudiyono untuk menggerakkan kelompoknya, mewujudkan mimpinya lepas dari belenggu kemiskinan menahun. Masa pengembangan yang telah berlangsung sekitar sepuluh tahun (1980-1990) terlewati sudah. Kerja keras mereka semakin nyata hasilnya. Perlahan tapi pasti keuntungan perkebunan mereka mulai mendongkrak kekuatan ekonominya. Perluasan lahan pun terus diupayakan. Tenaga kerja dalam jumlah besar mulai dibutuhkan. Desa lain mulai ikut berperan dalam menyediakan kebutuhan tersebut. Tak kurang seribu buruh dari desa sekitar didatangkan, terutama dari Desa Kali Angkrik. Percepatan perluasan perkebunan terus terjadi. Hampir seluruh dusun dan kampung dikonversi menjadi perkebunan salak pondoh. Tercatat dari 703 hectar wilayah pertanian Desa Bangunkerto, hanya 20% saja yang tidak ditanami tanaman berduri tersebut.

Desa-desa dan kecamatan lain, mulai dari Turi, Tempel, Pakem, daerah Sleman Utara hingga Magelang, pada gilirannya juga turut mengekor, terjun ke pertanian agrobisnis salak pondoh. Bahkan, kini ada beberapa daerah lain di Jawa, termasuk daerah-daerah tertentu di luar Jawa mulai merintis budidaya komuditas serupa beberapa tahun terakhir ini. Seperti, Banjarnegara, Bogor, Tasikmalaya, Aceh, dst. Konon, Thailand dan Malaysia juga mulai melirik untuk mengembangkan agrobisnis dengan varietas salak yang sama.

Kemajuan dan perubahan luar biasa tersebut telah membawa Sudiyono populer. Banyak kelompok tani dari tempat lain datang dan menimba pengalaman darinya. Tak ketinggalan, para tokoh penting negeri ini, dan beberapa orang asing terhormat, juga pernah bertandang ke rumahnya. Diantaranya, Menteri Negera Kependudukan Haryono Suyono, Menteri Penerangan masa Orde Baru Harmoko, Menteri Sosial Belanda (1993), Menteri dalam Negeri Rudini, Irjen Pembangunan, dan masih banyak lagi, termasuk para wisatawan manca negara yang ingin sekedar berlibur di Dusun Candi.

Belakangan harga salak pondoh di pasaran mulai menurun. Panen dua kali setahun dan skala produksi yang melimpah, serta kejenuhan pasar lokal dan nasional, disinyalir menjadi penyebab merosotnya nilai ekonomi buah asli Indonesia tersebut. Kecenderungan kurang menggembirakan tersebut telah mendorong Sudiyono untuk memikirkan alternatif jawaban untuk menyapa persoalan baru tersebut. Dengan moto, “Apa yang saya kerjakan saat ini, adalah untuk rezeki saya lima atau sepuluh tahun ke depan”, beliau mulai merintis upaya diversifikasi sumber penghidupannya. Menanam tanaman keras jenis sengon di sela-sela lahan salak yang masih kosong (atau sistem tumpangsari), seperti di tanggul-tanggul tepi kebun, perengan (lereng) pinggiran sungai, dan lahan lain yang belum tersita oleh rumpun-rumpun tanaman salak. “Sambil untuk konservasi lingkungan, Mas”, dalih mulia yang terucap spontan penuh keyakinan.

Cara pandang Sudiyono cukup rasional sekaligus jitu. Beliau sudah mempersiapkan ‘bumper’ bilamana suatu saat nanti komoditi salak benar-benar sudah tidak menghasilkan ‘legit’ kemakmuran lagi, beliau sudah punya tumpuan penyangga ekonomi, yang bisa diandalkan dan memungkinkan lancarnya proses transisi menuju komoditi alternatif lain.

Sebenarnya tidak itu saja, kelompok taninya juga mulai mengupayakan diversifikasi barang dagangan, dengan mengolah salak menjadi produk olahan baru seperti sirup, selai, jenang (dodol), kripik, dan manisan salak, yang ternyata juga laku keras dan bisa memberikan alternatif penghasilan.

Upaya untuk menjajaki export ke luar negeri juga tak lepas dari upaya mereka, akan tetapi standar baku mutu yang ketat yang ditetapkan oleh importir dan negara tujuan telah mengendurkan upaya mereka. Belum lagi batas volume minimal yang disyaratkan, membuat mereka pesimis untuk bisa memenuhi. Akhirnya, peluang tersebut telah diambil oleh pengusaha lain yang memiliki kapasitas dan jaringan yang lebih luas.

Kini Sudiyono terus bergerak maju, berkendara KT Manunggal, bekerja keras men-diversifikasi produk pertaniaanya seraya mengembangkan cara bertani yang lebih ‘green’. Tak terduga, beliau juga sudah kenal dengan isu-isu lingkuangan terkini. “Sekarang saatnya bertindak Mas, sudah cukup ngomongnya. Saya sudah menanam sengon dan tanaman cepat tumbuh lain. Melu-melu penghijauan untuk mengatasi pemanasan global”, pungkasnya dengan tertawa lebar.***
Note: Tulisan ini, hasil wawancara dengan Sudiyono, tokoh petani pelopor, pemberdayaan masyarakat miskin.

Minggu, 17 Januari 2010

Kalau Begitu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Kini musim hujan telah tiba. Tentu saja, banyak pihak yang merasa lega, karena kebutuhannya akan air semakin terpenuhi. Terutama para petani dan peternak yang memanfaatkan air sebagai penopang utama usahanya. Namun demikian, ada sebagian kelompok masyarakat yang justeru semakin was-was. Terutama mereka yang ‘langganan’ disamperi banjir ketika musim basah tersebut datang.

Mereka yang sering didera banjir tentunya sudah belajar dari pengalaman sebelumnya dan berusaha mempersiapkan diri untuk menghadapi persoalan musiman tersebut. Terutama pemerintah setempat, melalui institusi terkait, semestinya sudah siap siaga dan melakukan langkah yang diperlukan, jauh-jauh hari sebelum musim ‘becek’ datang kembali.

Kenyataanya, tidak seperti yang kita asumsikan. Perilaku masyarakat kita tidak banyak berubah. Celakanya, pemerintah juga tidak (belum) melakukan tindakan mitigasi dan pencegahan yang berarti. Tetap saja banjir datang dan datang lagi seiring semakin tingginya curah hujan. Bahkan kecenderungannya semakin besar dan buruk dampaknya. Apa yang salah dengan masyarakat kita, sehingga mereka tidak cepat belajar dan mampu mengatasi persoalan yang sudah jelas kapan datang dan apa sebabnya?

Seperti para pembaca juga sering lihat, diman-mana sering terlihat sampah berserakan dan menumpuh, bahkan terkadang menyumbat drainase umum. Baik sampah organik maupun unorganik. Terutama di tempat-tempat yang agak jauh dari pemukiman, seperti di tepi-tepi jalan dan selokan di persawahan. Namun demikian situasi yang hampir serupa juga mudah ditemukan di tempat-tempat yang notabene dekat pemukiman akan tetapi tidak atau kurang terlihat oleh pandangan mata umum, seperti halaman belakang rumah, sungai dan selokan di pemukiman. Kok begitu? Sepertinya masyarakat kita memang belum sepernuhnya civilized, dan mungkin memang belum punya kesadaran yang memadahi sehingga bisa berubah perilakunya, terutama dalam memperlakukan sampah-sampahnya dengan benar.

Berikut penulis akan berbagi beberapa pengalaman yang ‘janggal’ dan tak terlupakan. Kisah-kisah tersebut mungkin akan membuat pembaca geleng-geleng kepala setelah membacanya.

Suatu kali penulis berhenti, ketika lampu merah menyala di perempatan Selokan Mataran, Yogyakarta. Di depan sebelah kanan penulis berhenti juga sebuah sedan mewan warna hitam mengkilat, seperti keluaran terbaru, yang dikendarai sekelompok remaja belasan tahun. Mendadak kaca jendela kiri depan sendan tersebut perlahan turun dan terbuka setengah bagian, seketika dentuman musik hip-hop menyeruak keluar menerpa semua telinga pengguna jalan yang sedang berhenti menunggu munculnya nyala lampu hijau di perempatan dekat kampun UGM tersebut. Kemudia sebuah adegan menjengkelkan terjadi. Dari dalam kabin depan sedan tersebut, menjulur pendek sebuah tangan yang mengepal kemudian ‘byak’ terbuka cepat jari-jemarinya, dan terlemparlah segengam sampah dari dalam mobil tersebut. Sungguh menjengkelkan! Saya hanya bisa menggelengkan kepala, sementara sebagian pengguna jalan yang lain terlihat hanya menampakkan expresi wajah masam, seperti sedang kecewa.

Pernah juga suatu sore ketika sedang jogging di sebuah jalan di tengah persawahan, secara kebetulan penulis memergoki seorang ibu-ibu mendadak menghentikan motornya, turun, dan melemparkan sesuatu yang besar ke selokan, yang kering kerotang. Begitu saja, kemudian pergi ngacir dan hilang ditelan tikungan sebuah perumahan baru dekat persawahan tersebut. Karena penasaran, penulis mencoba melongok ke selokan dangkal tampa air tersebut. Dan betapa terkejutnya ketika penulis melihat sebuah buntalan plastik besar transparan berisi bekas pembalut wanita. Banyak sekali, mungkin bisa lusinan. Betapa sangat memprihatinkan! Siapapun yang melihat adegan tersebut pasti tak kuasa menahan amarah, dan langsung mengeluarkan kata-kata hujatan. Kok bisa hal seperti itu dilakukan oleh seorang ibu, yang tinggal di perumahan, naik sepeda motor, dan kelihatan seperti orang sekolahan.

Bulan Agustus 2009, ketika penulis baru saja pindah kontrakan ke tempat yang baru, di sebuah pedukuhan di Kecamatan Ngaglik, Sleman. Penulis menyempatkan diri melihat-lihat lingkungan baru tersebut. Mengamati kondisi rumah-rumah penduduk yang kelihatan makmur dan terbilang lebih mapan dibanding kampung-kampung sekitarnya. Ternyata mereka tergolong bagus dalam menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumahnya. Jalan-jalan dan pekarangan rumah terlihat bersih dari sampah. Mereka terlihat begitu kompak ketika melakukan kerjabakti secara berkala. Sehingga lingkungan mereka kelihatan lebih menarik dan asri. Akan tetapi, masih ada hal-hal yang kurang tepat mereka lakukan. Mereka masih melakukan pembakaran sampah, yakni sampah kering seperti plastik, kertas, ranting dan dedaunan yang ada di sekitar rumah mereka. Mereka masih membiarkan warga lainya yang sudah terbiasa membuang sampah di sungai, shingga sunggai yang kebetulan ada di bagian belakang kampung mereka terlihat kotor penuh dengan sampah, baik sampah organik maupun unorganik. Ada pakaian bekas, pecahan kaca, potongan kayu, kaleng-kaleng bekas kemasan makanan maupun plastik-palstik beraneka macam.

Kemudian, mengapa phenomena tersebut bisa terjadi? Apa yang bisa kita lakukan untuk menjawab persoalan tersebut? Mari kita pikirkan bersama solusinya para pembaca budiman...!