Tampilkan postingan dengan label kerusakan lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kerusakan lingkungan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Juni 2010

Potensi Sultan’s Birds untuk Dusun Ketingan

Keunikan atau sering dibahasakan dengan kata yang lebih indah, eksotisme, merupakan potensi alamiah Dusun Ketingan, yang telah diamini banyak pihak. Adalah sebuah dusun wisata alternatif yang menawarkan obyek konservasi fauna jenis burung kuntul atau blekok, serta paket wisata lain yang ada kaitannya denga pesona kehidupan pedesaan yang masih asri dan alami.

Menjejakkan langkah ke wilayah tersebut kita akan langsung disambut dengan jalan desa beraspal, meskipun sudah mulai berlubang di sana-sini, dan gapura kembar (pertama) warna krem bertepi coklat yang menjulang kokoh. Gapura kiri, dihinggapi sebuah patung burung kuntul besar warna putih, sedangkan gapura kanan ditenggeri tiga patung burung serupa, seekor kuntul besar dan dua blekok kecil yang semuanya berwarna putih. Keempat putung tersebut seperti dirancang khusus berpose kas layaknya burung sawah liar kebanyakan, yang menggambarkan keceriaan, kedamaian, dan kebebasan kehidupan liar, yang dijamin kelestariannya oleh masyarakat setempat.

Tepat di depan sebelah kanan gapura megah tersebut, terpampang dua plang kokoh. Plang yang lebih tinggi, berpenyangga pipa besar tunggal, dan berwarna dasar hitam flat bertuliskan huruf besar warna putih, “Selamat Datang di Desa Wisata Fauna Ketingan, Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati.” Sedangkan, yang lebih pendek, berkaki dua, bercat dasar warna putih dengan tulisan warna hitam tegas berbunyi, “Dilarang Berburu, Sesuai: UU No. 5 Tahun 1990 dan Instruksi Gubernur Nomor: 10/INSTR/1998, BKSDA Yogyakarta, DIPA Tahun 2009.” Plang-plang tersebut tentu saja sudah bisa mewakili betapa seriusnya komitmen masyarakat setempat untuk membawa desanya tumbuh menjadi desa wisata alternatif yang menjanjikan keunikan khas pedesaan yang ramah terhadap ekosistem.

Gapura kedua yang jauh lebih megah adalah penanda selanjutnya yang menjadi gerbang utama masuk ke Dusun Ketingan. Gapura dengan dominasi warna krem dan list coklat tua, yang bagian atasnya saling terhubung menyatu dengan naungan atap genting yang kokoh, selain menyuguhkan tulisan “Selamat Datang” juga menampilkan slogan lain berbunyi, “Estining Gapuro Trus Manunggal, Dusun X Ketingan”, yang ditengahnya terdapat pahatan tanda tangan Sri Sultan HB X, raja ke-10 Kasultanan Yogyakarta. Sebuah papan bergambar peta daerah wisata Dusun Ketingan, yang menampilkan layout obyek-obyek wisata berupa rumah joglo khas arsitektur Jawa, gardu pandang, persawahan, peternakan, kolam pakan burung kuntul, dst. berdiri tegar di sisi kanan depan gapura. Di seberang kiri, berdiri juga plang peringatan larangan berburu yang serupa dengan yang ada di depan gerbang pertama.

Melewati kedua gerbang penanda tersebut kita langsung disambut dengan pohon-pohon tinggi merindang, hijau menyegarkan mata. Diantaranya, rumpun-rumpun pohon bambu, kelapa hijau, johar, adem-adem ati, mlinjo, nangka, flamboyan, juga pohon mangga. Nah, menjadi daya tarik utama adalah, di pucuk-pucuk sebagian besar pohon-pohon tersebut bertengger, dan sesekali meloncat-loncat, kemudian terbang berpindah ke pohon lain, burung-burung besar warna putih bersih yang tampak sehat. Di ruas-ruas percabangan ranting pohon, banyak dihiyasi onggokan-onggokan ranting kecil dan daun kering yang menjadi sarang peraduan keluarga ribuah burung musiman kuntul. Suara teriakan piyikan (anak-anak burung) yang meminta suapan makanan dari induknya berpadu dengan derat-derit suara daun dan ranting pohon, yang ditiup desir angin turut melengkapi keunikan dan keindahan Dusun Ketingan.

***

Menurut penuturan beberapa warga setempat, koloni burung kuntul dan blekok mulai datang dan singgah di Dusun Ketingan sejak tahun 1997. Awalnya hanya beberapa ekor saja. Singgah di rumpun-rumpun bambu di pinggiran dusun. Namun, seiring berjalannya waktu koloni mereka semakin banyak, ratusan ekor, dan kemudian menjadi ribuan. Entah ada kaitannya atau kebetulan belaka, menurut Pak Haryono, yang hingga saat ini menjadi Ketua Pengelola Desa Wisata Ketingan, fauna migran tersebut mulai datang ke dusunnya setelah kunjungan Sri Sultan HB X berserta istrinya, dalam rangka meresmikan jalan dan gapura dusun, hasil swadaya masyarakat. Konon, tidak lama setelah kunjungan Raja Kasultanan Yogyakarta tersebut koloni burung kuntul dan blekok mulai rutin datang dan berkembangbiak. Awalnya hanya puluhan ekor saja, tetapi lama kelamaan semakin banyak. Itulah kenapa, muncul anggapan di benak sebagian warga bahwa kedatangan koloni unggas tersebut tak lepas dari ‘tuah’ yang dibawa serta oleh kunjungan Raja Jawa. Hingga muncul sebutan ‘burung sultan’ atau ‘Sultan’s birds’.

Pada awalnya warga Ketingan sempat kawatir bahwa kehadiran ribuan satwa dilindungi terebut akan membawa dampak buruk bagi kehidupan mereka. Mengingat, ribuan satwa tersebut berdatangan dalam jumlah yang luar biasa besar, bertengger, dan bersarang tidak hanya di rumpun-rumpun bambu di tepiah sawah, akan tetapi juga mendiami vegetasi produktif lain yang selam ini turut membantu meningkatkan pendapatan masyarakat diluar pertanian sawah. Yakni, pohon kelapa hijau dan tanaman melinjo. Belum lagi dengan kotoran dan bulu-bulu mereka, yang mengotori dan menimbulkan bercak-bercak putih di dedaunan pohon dan tanah dibawahnya. Selain berbau anyir, masyarakat sempat mengkawatirkan munculnya wabah penyakit yang bisa ditularkan oleh fauna jenis unggas tersebut. Namun, keresahan warga akhirnya mereda, setelah hasil penelitian yang diorganizir oleh Tim dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada mampu membuktikan bahwa kotoran burung kuntul di Ketingan tidak berbahaya. Kekawatiran masyarakat terhadap kemungkinan penularan virus flu burung dibantah oleh tim ahli tersebut, “Menurut beliau-beliau, burung kuntul yang singgah di sini, adalah jenis pemakan binatang kecil dan serangga. Sedangkan unggas yang potensial menularkan virus adalah mereka yang pemakan biji-bijian,” terang Haryono, Ketua Pengelola Desa Wisata Ketingan.

Mengukuhkan kabar gembira yang dipaparkan tim ahli dari UGM, hasil penelitian pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) juga mengungkapkan fakta yang tidak jauh beda, bahwa koloni unggas musiman tersebut dipandang aman, sejauh ini tidak membawa wabah penyakit tertentu. “Aman kok, selama ini belum pernah ada warga yang sakit karena burung-burung kuntul itu,” ungkap Triyanto (28), seorang anggota karang taruna setempat. Fakta lainya adalah, kotorannya, yang berwana putih dan berbau agak amis, sangat baik untuk tanah, karena mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman.

Fakta-fakta positif yang dilandasi kajian ilmiah tersebut, semakin mendorong dan menguatkan komitmen warga Dusun Ketingan untuk mengembangkan potensi alamnya. Harapanya, mereka akan mendapatkan keuntungan ekonomis dan ekologis yang pada akhirnya bisa mendongkrak kesejahteraan mereka. Selain itu, mereka tidak ragu-ragu lagi untuk semakin hidup dekat, berdampingan, dan turut menjaga keberadaannya. Mereka tidak enggan lagi untuk memberi makan kuntul, juga menyelamatkan piyikan yang belum bisa terbang yang kebetulan terjatuh ke tanah. Mereka berusaha mengembalikannya ke sarang asalnya. Para pemburu burung pun dijamin tidak akan bisa melampiaskan hobby buruknya di kawasan konservasi Ketingan. Warga telah memajang papan-papan peringatan larangan berburu di beberapa tempat strategis, dan tak segan-segan untuk mengusir mereka yang nekat melampiaskan syahwat destruktifnya mengusik kedamaian ekosistem di wilayahnya. Kesungguhan, interaksi yang harmonis, dan kepedulian mereka terhadap kelestarian lingkungan alam, terutama fauna kuntul dan blekok, menjadikan dusunnya menjadi salah satu daerah konservasi di Yogyakarta. Capaian itu tentunya sangat membanggakan banyak pihak. Belum lagi penghargaan yang telah diberikan kepada salah satu panutan mereka, Haryono, yang pada Agustus 2008, diundang ke Istana Negara untuk dianugerahi sebuah kehormatan, sebagai Kader Konservasi Alam, oleh Presiden Susilo Bambang Yodhoyono.

***

Dusun yang berjarak sekitar tiga kilometer dari Jalan Magelang tersebut telah resmi menyandang status sebagai Desa Wisata sejak 2002. Didukung oleh Pemerintah Kabupaten Sleman, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), dan Pusat Studi Pariwisata (Puspar) UGM, Ketingan terus berupaya mengembangkan diri dan menguatkan status barunya. Tentu saja, status itu membawa konsekwensi sekaligus dampak positif terhadap kemajuan ekonomi dusun, kendati warganya dituntut untuk melakukan lebih banyak lagi upaya guna mengembangkan potensi, dan kemudian menjualnya menjadi paket eko-wisata yang dalam beberapa tahun terakhir semakin mendapatkan perhatian publik, ditengah hiruk-pikuk issue global menyangkut perbaikan dan kelestarian lingkungan.

Ada beberapa paket eko-wisata yang dikembangkan dan ditawarkan Dusun Ketingan. Menu utamanya adalah kesempatan bersantai menghirup udara pedesaan yang segar sambil melakukan pengamatan tingkah-laku kawanan burung kuntul yang pada kesempatan tertentu jumlahnya bisa ribuan. Terutama ketika musim hujan tiba, kawanan burung mulai berdatangan dalam jumlah besar, mulai membangun sarang, dan membesarkan anak-anaknya. Paket utama ini dikombinasikan dengan kesempatan bagi para wisatawan yang ingin merasakan sensasi terlibat langsung pada kegiatan pertanian yang biasanya juga aktif dan padat di musim penghujan. Pengunjung bisa ikutan membajak sawah bersama petani, bermain lumpur di lahan pertanian sambil mengamati burun-burung kuntul yang ikut turun ke lahan pertanian untuk berburu makanan.

Daya tarik lain yang juga bisa dinikmati wisatawan adalah pertunjukan seni tradisional. Pengunjung bisa mengikuti kegiatan seni seperti jathilan, pek bung, gejog lesung, dan wayang kulit. Khusus untuk pertunjukan wayang kulit, biasanya dilakukan setahun sekali, bersamaan dengan perayaan ritual ‘merti bumi’, yang untuk Dusun Ketingan biasanya jatuh pada bulan Juni.

Untuk kepentingan mengankat potensi yang bisa disuguhkan kepada masyarakat luar, terutama para wisatawan, Dusun Ketingan secara rutin menyelenggarakan ritual Merti Bumi, dengan prosessi kegiatan yang lebih spektakuler disbanding jaman sebelumnya. Masyarakat digerakkan, mereka mengenakan pakaian khusus dan melakukan kirap mengelilingi dusun. Sedikit berkiblat kepada prosesi Grebekan Maulid ala Kraton Jogja, Merti Bumi di Ketingan juga mengarak berbagai hasil bumi yang diusung dalam bentuk tumpeng besar atau disebut ‘gunungan’. Nah, di malam harinya ditutup dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Tujuannya, “Itu sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas berkah dari Alloh, Mas,” kata Supar, kepala dusun Ketingan.

Paket pelengkap lain, yang juga sendang diinisiasi warga adalah, kesempatan bagi wisatawan belajar membuat, meracik, dan mencicipi makanan dan minumas khas daerah setempat. Termasuk, belajar meramu jamu tradisional dan membuat keripik atau emping mlinjo, yang kebetulan banyak dihasilkan dari lading mereka.

Guna mendukung semua upaya diatas, Pengelola Desa Wisata Ketingan juga menyiapkan beberapa orang pemandu local yang dibekali bahasa Enggris, juga membangun menara pandang bagi mereka yang ingin melakukan pengamatan dari ketinggian. Selain itu, warga juga diajak untuk merelakan dan menyiapkan sebagian bilik rumah mereka untuk difungsikan sebagai tempat penginapan (homestays) bagi wisatawan yang ingin bermalam, yang ingin menikmati suasana malam hari ala pedesaan, yang penuh keramahan, kehangatan pergaulan ala pedusunan, sambil menikmati suara jangkrik dan nyanyian katak di kesunyian malam, serta kelap-kelip kunang-kunang yang berterbangan di kegelapan rumpun-rumpun bambu, yang tentu saja tidak akan ditemukan di perkotaan.

Sejauh ini, tersedia sekitar 40 rumah dengan kapasitas sekitar 225 orang, dengan tarip Rp 75.000,00 per orang per hari. Makanan dan minuman yang khas Dusun Ketingan juga menjadi fasilitas yang akan diberikan kepada setiap tamu yang meginap. Menurut ketua pengelolanya, Haryono, “Kalau pengunjung memerlukan kendaraan antar jemput, kami juga bisa menyediakan.” Dengan demikian, lanjut beliau, diharapkan para pengunjung bisa mendapatkan kepuasan baik dari aspek obyek wisata yang ditawarkan maupun pelayanan akomodasi yang diberikan oleh pihak pengelola.

Tercatat, tak kurang dari 1.000 wisatawan bertandang ke Dusun Ketingan setiap tahunnya. Meskipun rata-rata dari mereka adalah para pelajar, mulai dari Taman Kanak-kanak dan Play Grup, hingga mahasiswa yang ingin berwisata sambil belajar tentang fauna langka, turis dan ahli manca negara pun juga banyak yang berkunjung melihat lebih dekat tentang keistimewaan Dusun Ketingan. “Banyak kok, ada dari Jerman, Australia, Jepang, dan negera lain,” tukas Haryono lebih lanjut.

Wisatawan yang berkunjung ke Dusun Ketingan biasanya memberikan berita dulu jauh sebelum hari kedatangannya. Mereka cenderung rombongan dengan dua atau tiga bus wisata. Ini menegaskan bahwa kedatangan mereka tak lepas dari peranan biro jasa perjalanan wisata, kerjasama dengan instansi terkait, dan promosi yang semakin gencar mereka lakukan. Wajar adanya bila diantara wisatawan domestic, tercatat berasal dari kota yang jauh seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Kebumen, Purbalingga, dll.

***

Status sebagai sebuah desa wisata yang disandang Dusun Ketingan telah membawa berkah yang turut memberikan insentif ekonomi bagi seluruh warga. Hampir semua ruas jalan dusun sudah dikeraskan baik dengan cor-blok beton maupun aspal (hot-mixed). Rumah warga juga banyak yang bagus, bersih, berlantai mengkilat, dan kelihatan mapan secara ekonomi. Warga pun juga terdorong untuk melakukan inovasi yang memungkinkan dusunya bergerak lebih cepat dibandingkan fase sebelum penetapan sebagai tujuan eko-wisata. Apalagi, arus utama tren perubahan bidang pariwisata cenderung bergeser ke sisi yang lebih ‘green’, lebih mengedepankan aspek kelestarian lingkungan. Tentu saja, ini bukan kabar ‘burung’ yang tak perlu dihiraukan, tapi kecenderungan gerak arus global yang semakin berpihak pada alam, dan memberikan peluang besar bagi kemajuan eko-wisata di Dusun Ketingan.

Selasa, 25 Mei 2010

Pertanian Organik, Potensi dan Kendalanya

Pola pertanian organik semakin mendominasi wacana bidang pertanian dewasa ini. Praktek pertanian yang pada dasarnya tidak jauh beda dengan model pertanian tradisional warisan nenek moyang kita, namun sudah puluhan tahun banyak ditinggalkan petani karena kehadiran revolusi hijau, kini semakin populer, diakui potensinya, dan dianjurkan oleh banyak kalangan. Pengakuan dan anjuran tersebut didasari dengan beberapa pertimbangan, mulai dari aspek nilai tambah secara ekonomi, aspek kualitas bahan konsumsi untuk kesehatan jangka panjang tubuh manusia, aspek penyelamatan dan kelestarian lingkungan (environmentally friendly and farming sustainability), hingga aspek ideologis yang oleh banyak kalangan ingin diperjuangkan.

Keunggulan nilai tambah ekonomi tersebut, atau harga premiun yang menjanjikan petani, tentu saja bisa dikembangkan menjadi alternatif jalan untuk mendongkrak penghidupan petani kecil. Harapanya, peluang tersebut bisa menjadi cara tambahan untuk membantu mengetaskan petani kecil dari belenggu kemiskinan. Namun demikian, untuk mengajak atau mendorong mereka beralih ke pertanian cara organik, tidaklah semudah yang kita bayangkan. Ada beberapa kendala atau tantangan serius yang bisa kita ketengahkan dalam tulisan ini.

Pertama, adanya mitos bahwa pertanian organik sulit dilakukan, rumit juga syarat tehnologi baru, dan memerlukan banyak resources dalam pelaksanaannya. Seperti penuturan Sutarman, Kaur Perencanaan Desa Giritirto, Kec. Purwosari, Kab. Gunungkidul, yang pernah mencoba mengaplikasikan sistem pertanian organik lahan basah di persawahannya.

Kedua, diperlukannya masa transisi yang relatif lama (sekitar 2-3 tahun) yang harus dilewati para petani ketika mulai beralih ke aplikasi pola pertanian organik. Pada fase transisi ini petani biasanya akan mengalami kerugian (D. Geovannucci, 2007). Hasil pertaniannya cenderung menurun drastis dibandingkan dengan pola pertanian konvensional. Seperti juga pengakuan Pak Muryanto, kepala Dukuh Glagah, Desa Nglegi, Kec. Patuk Kab. Gunungkidul, yang sejauh ini telah menekuni pertanian organik, bahwa pada awalnya dia menderita kerugian, karena hasil panen sawahnya langsung ‘njeglek’ (merosot tajam-red) bila dibandingkan panen sebelumnya ketika masih menggunakan sistem konvensional. Beliau menjelaskan bahwa pada masa transisi tersebut, kesuburan tanah masih belum pulih, sebagai dampak dari penggunaan pupuk kimiawi yang telah berlangsung puluhan tahun.

Ketiga, adanya kendala pemasaran produk organik, karena produk organik masih berharga mahal (premium), sehingga memiliki segmen pasar khusus, dan jaringannya masih dikuasai oleh pelaku bisnis bermodal besar, sehingga para petani kecil merasa kesulitan untuk mendapatkan akses pasar yang luas. Ini tidak jauh berbeda dengan apa yang diungkapkan Pak Putut, seorang petani pemula yang sendang merintis pertanian organik untuk sayur-sayuran dan buah-buahan berusia pendek seperti lombok, tomat, timun, melon, dan semangka, yang mengelola lahan persawahan di leren Timur Gunung Lawu, Jawa Timur.

Belum lagi, produk-produk pertanian organik seringkali penampilan fisiknya juga tidak sebagus produk-produk non-organik. Tidak digunakannya pupuk dan pestisida kimiawi seringkali membuat tampilan tanaman organik terkesan kurang sehat atau tidak se-subur yang non-organik, dan juga rentan terhadap serangan hama, sehingga terkadang ‘wajahnya’ bopeng dan ada cacatnya. Nah, penampilan yang kalah ‘kinclong’ seperti itu juga sering menjadi kendala pemasaran produk pertanian organik.

Keempat, belum adanya dukungan yang lebih nyata dan meluas dari pemerintah. Terutama dalam bentuk kampanye yang massive dan terus-menerus perihal pertanian organik, mulai dari pentingnya beralih ke makanan organik bagi masyarakat hingga bagaimana cara mengelola pertanian dan industri produk pertanian organik. Selain itu, pemerintah juga perlu memberikan akses informasi tentang potensi dan peta pasar, fasilitasi untuk promosi dan pameran, serta fasilitasi lahirnya kelembagaan pelaku pertanian organik, dan pelatihan-pelatian yang intensif bagi masyarakat bawah (petani kecil).

Perihal kelembagaan, petani kita sebenarnya telah paham dan memiliki cukup banyak variasi organisasi yang berbasis pertanian yang tersebar di seluruh Indonesia. Namun demikian, kapasitas mereka tetap perlu didongkrak dan dibangun kembali, dilengkapi dengan pengetahuan atau tehnologi baru, melalui bermacan training yang biayanya sepenuhnya ditanggung oleh anggaran pemerintah. Pelatihan-pelatihan yang intensif dilengkapai dengan kegiatan-kegiatan studi-banding yang relavan akan memudahkan gerak kemajuan pertanian ekologis tersebut.

Kelima, belum adanya regulasi (terutama di Indonesia) dan badan sertifikasi yang terjamin kredibilitasnya, sehingga bisa melahirkan trust antara produsen dan konsumen, yang pada gilirannya akan menopang berkembangnya bisnis pertanian dan produk organik.

Barangkali, regulasi yang harus dikeluarkan pemerintah juga harus mencakup adanya jaminan proses transaksi perdagangan yang ‘fair-trade’, yang saling memberikan keuntungan layak bagi petani kecil sebagai produsen, buruh, pelaku bisnis pendukung dan konsumen. Sehingga semua untung, semua mendapatkan bagiannya secara adil. Dengan demikian, produsen (terutama petani kecil/buruh) bisa mengenyam keuntungan yang sesungguhnya. Tidak hanya sekedar memberikan subsidi ‘derma’ kepada para pemodal besar yang menguasai distribusi dan pemasaran produk pertanian, seperti yang selalu terjadi hingga sekarang ini. Sehingga gagasan tinggi untuk menjadikan model pertanian organik sebagai salah satu cara tambahan untuk mengatasi kemiskinan petani kecil, bisa diwujudkan.

Sedangkan perihal sertifikasi, sudah semestinya pemerintah juga memberikan subsidi dan dukungan sepenuhnya, sehingga ada kemudahan bagi petani kecil untuk mendapatkan sertifikasi untuk produk-produknya. Harapanya, selain prosenya mudah biaya administrasinya juga relatif terjangkau bagi produsen (petani) kecil, sehingga ada kemudahan sekaligus motivasi kuat dikalangan petani kecil untuk mengembangkan usahanya.

***

Mengulang kembali apa yang telah sedikit disinggung di awal tulisan ini, bahwa model pertanian organik sangatlah menarik dan bisa menjadi terobosan alternatif untuk mengurangi beberapa masalah yang dihadapi masyarakat luas dewasa ini. Keunggulan-keunggulan dan potensi besar yang dimiliki pertanian organik bisa dielaborasi lebih lanjut seperti berikut ini.

Meningkatkan pendapatan petani kecil. Pertanian organik sangat potensial untuk mengatasi rendahnya pendapatan petani kecil, mengingat produk pertanian organik lebih diminati kelas menengah, yang nota bene memiliki daya beli untuk produk-produk dengan banderol premiun (seperti produk organik) dan punya kesadaran yang relatif tinggi dalam hal kesehatan dan isu lingkungan. Meskipun, peran tengkulak atau distributor seringkali menggagalkan potensi pendapatan petani kecil tersebut. Di sini, peran negara seharusnya bekerja untuk menjamin tegaknya transaksi ‘fair’ yang bisa memberikan harapan petani kecil untuk mengamankan nilai lebih hasil produksinya.

Menyerap lebih banyak tenaga kerja. Layaknya pola pertanian tradisional, perlakuan khusus terhadap komoditi tanaman organik merupakan pekerjaan yang padat karya, sehingga sistem pertanian tersebut bisa menyerap lebih banyak ternaga kerja dibandingkan dengan pola konvensional. Karakteristik tersebut, tentu saja sangat sesuai dengan situasi dan kondisi Indonesia yang memiliki angka penganggurang sangat tinggi.

Disamping itu, urgen-nya peningkatan kapasitas petani dan kelembagaannya, juga akan membuka peluang kerja bagi pengangguran terdidik dibidang lingkungan dan pertanian serta bidang relevan lain untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuannya mendampingi dan mendidik petani kecil yang berkecimpung di sektor pertanian organik tersebut.

Mengurangi pencemaran lingkungan. Selama ini sistem pertanian yang konvensional, yang modern dan bukan yang ekologis, sejak era 60-an ketika revolusi hijau mulai diperkenalkan telah terbukti mampu mendongkrak hasil panen petani. Namun demikian, sistem yang ditopang dengan kebijakan pemerintah Orde Baru yang populer dengan istilah ‘Panca Usaha Tani’ tersebut, terbukti telah memberikan dampak buruk terhadap lingkungan dan keberlanjutan usaha pertanian itu sendiri.

Sistem Panca Usaha Tani, menekankan pada cara pengolahan tanah yang intensif, penyemaian bibit yang unggul, aplikasi pupuk sintetis (bukan organik), sistem irigasi yang maksimal, serta pengendalian hama tanaman secara serentak atau menyeluruh dengan pestisida sintetis (kimiawi), sehingga terjadi exploitasi tanah dan air yang berlebihan, juga pencemaran tanah dan air yang tidak hanya berbahaya bagi kehidupan biota sekitarnya (ekosistim setempat), tapi juga mengancam kesehatan jangka panjang manusia. Karena pestisida dan pupuk kimiawi terbukti meninggalkan residu di dalam produk pertanian yang dihasilkan. Dan, bisa tertimbun dalam tubuh siapapun yang mengkonsumsi produk tersebut.

Turut berperan dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Seperti kita tahu bahwa kesehatan manusia berkaitan erat dengan apa yang mereka makan dan bagaimana kualitas lingkungan mereka. Dengan adanya bahan pangan organik, asumsinya apa yang dikonsumsi masyarakat akan menjadi lebih sehat. Paling tidak, sumber pangan mereka tidak lagi mengandung residu bahan-bahan kimia, baik dari pupuk, herbisida, fungisida, dan pestisida kimiawi, yang menurut para ahli kesehatan sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.

Lebih jauh lagi, aplikasi pestisida pada lahan pertanian juga terbukti telah turut mencemari perairan, tanah, dan udara yang dekat dengan lahan pertanian. Tanah, air, dan udara yang tercemar tentu saja akan mengancam tidak hanya manusia tapi juga lingkungan serta biota yang melengkapinya. Sedangkan manusia juga bagian dari ujung tertinggi rantai makanan, bisa dipastikan manusia akan menjadi pengepul terakhir polutan yang ada di lingkungannya. Bisa kita bayangkan akumulasinya.

Turut mengurangi produksi emisi gas rumah kaca (GRK). Dikaitan dengan isu dunia, global warming, sistem pertanian organik bisa menjadi salah satu upaya untuk mengurangi produksi GRK. Seperti yang terungkap dalam hasil beberapa riset bahwa aplikasi pupuk kimiawi juga punya kontribusi tidak sedikit bagi meningkatnya emisi GRK, yakni nitrogen dioksida, yang berasal dari hasil peruraian pupuk tanaman non-organik (Kompas, 1/10/2007).

***

Pemetaan sederhana tentang potensi dan kendala sistem pertanian organik di atas, diharapkan bisa memberikan tambahan wacana bagi kita semua utuk menimbang-nimbang, desakan seperti apa yang layak kita bidikkan kepada pemerintah dan stakeholders lain, serta peran apa yang bisa kita ambil untuk mensikapi gagasan perihal pertanian organik tersebut.

Dengan kapasitanya, pemerintah perlu bergerak dan berupaya lebih lekas untuk menjamin berjalannya model pertanian organik dengan melibatkan seluruh stakeholders, termasuk petani sendiri, LSM, koperasi, jaringan pertanian organik, konsumen, sektor swasta, lembaga pemerintah dan organisasi lintas pemerintahan. Singkatnya, model pertanian orgnik seharusnya menjadi bagian integral kebijakan pemerintah dalam mewujudkan pembangunan daerah perdesaan dan pertanian nasional.

Selain itu pemerintah juga harus memberikan dukungan tambahan kepada para petani berupa pelatihan-pelatihan tentang pertanian organik dan tata kelolanya, serta studi banding ke tempat lain yang sudah berhasil, mengingat model pertanian organik sudah puluhan tahun tidak dipraktekan lagi oleh petani, selain sudah semakin berkembangnya temuan baru soal tehnologi pertanian organik yang sudah banyak diterapkan di belahan dunia lain. ***

Minggu, 17 Januari 2010

Kalau Begitu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Kini musim hujan telah tiba. Tentu saja, banyak pihak yang merasa lega, karena kebutuhannya akan air semakin terpenuhi. Terutama para petani dan peternak yang memanfaatkan air sebagai penopang utama usahanya. Namun demikian, ada sebagian kelompok masyarakat yang justeru semakin was-was. Terutama mereka yang ‘langganan’ disamperi banjir ketika musim basah tersebut datang.

Mereka yang sering didera banjir tentunya sudah belajar dari pengalaman sebelumnya dan berusaha mempersiapkan diri untuk menghadapi persoalan musiman tersebut. Terutama pemerintah setempat, melalui institusi terkait, semestinya sudah siap siaga dan melakukan langkah yang diperlukan, jauh-jauh hari sebelum musim ‘becek’ datang kembali.

Kenyataanya, tidak seperti yang kita asumsikan. Perilaku masyarakat kita tidak banyak berubah. Celakanya, pemerintah juga tidak (belum) melakukan tindakan mitigasi dan pencegahan yang berarti. Tetap saja banjir datang dan datang lagi seiring semakin tingginya curah hujan. Bahkan kecenderungannya semakin besar dan buruk dampaknya. Apa yang salah dengan masyarakat kita, sehingga mereka tidak cepat belajar dan mampu mengatasi persoalan yang sudah jelas kapan datang dan apa sebabnya?

Seperti para pembaca juga sering lihat, diman-mana sering terlihat sampah berserakan dan menumpuh, bahkan terkadang menyumbat drainase umum. Baik sampah organik maupun unorganik. Terutama di tempat-tempat yang agak jauh dari pemukiman, seperti di tepi-tepi jalan dan selokan di persawahan. Namun demikian situasi yang hampir serupa juga mudah ditemukan di tempat-tempat yang notabene dekat pemukiman akan tetapi tidak atau kurang terlihat oleh pandangan mata umum, seperti halaman belakang rumah, sungai dan selokan di pemukiman. Kok begitu? Sepertinya masyarakat kita memang belum sepernuhnya civilized, dan mungkin memang belum punya kesadaran yang memadahi sehingga bisa berubah perilakunya, terutama dalam memperlakukan sampah-sampahnya dengan benar.

Berikut penulis akan berbagi beberapa pengalaman yang ‘janggal’ dan tak terlupakan. Kisah-kisah tersebut mungkin akan membuat pembaca geleng-geleng kepala setelah membacanya.

Suatu kali penulis berhenti, ketika lampu merah menyala di perempatan Selokan Mataran, Yogyakarta. Di depan sebelah kanan penulis berhenti juga sebuah sedan mewan warna hitam mengkilat, seperti keluaran terbaru, yang dikendarai sekelompok remaja belasan tahun. Mendadak kaca jendela kiri depan sendan tersebut perlahan turun dan terbuka setengah bagian, seketika dentuman musik hip-hop menyeruak keluar menerpa semua telinga pengguna jalan yang sedang berhenti menunggu munculnya nyala lampu hijau di perempatan dekat kampun UGM tersebut. Kemudia sebuah adegan menjengkelkan terjadi. Dari dalam kabin depan sedan tersebut, menjulur pendek sebuah tangan yang mengepal kemudian ‘byak’ terbuka cepat jari-jemarinya, dan terlemparlah segengam sampah dari dalam mobil tersebut. Sungguh menjengkelkan! Saya hanya bisa menggelengkan kepala, sementara sebagian pengguna jalan yang lain terlihat hanya menampakkan expresi wajah masam, seperti sedang kecewa.

Pernah juga suatu sore ketika sedang jogging di sebuah jalan di tengah persawahan, secara kebetulan penulis memergoki seorang ibu-ibu mendadak menghentikan motornya, turun, dan melemparkan sesuatu yang besar ke selokan, yang kering kerotang. Begitu saja, kemudian pergi ngacir dan hilang ditelan tikungan sebuah perumahan baru dekat persawahan tersebut. Karena penasaran, penulis mencoba melongok ke selokan dangkal tampa air tersebut. Dan betapa terkejutnya ketika penulis melihat sebuah buntalan plastik besar transparan berisi bekas pembalut wanita. Banyak sekali, mungkin bisa lusinan. Betapa sangat memprihatinkan! Siapapun yang melihat adegan tersebut pasti tak kuasa menahan amarah, dan langsung mengeluarkan kata-kata hujatan. Kok bisa hal seperti itu dilakukan oleh seorang ibu, yang tinggal di perumahan, naik sepeda motor, dan kelihatan seperti orang sekolahan.

Bulan Agustus 2009, ketika penulis baru saja pindah kontrakan ke tempat yang baru, di sebuah pedukuhan di Kecamatan Ngaglik, Sleman. Penulis menyempatkan diri melihat-lihat lingkungan baru tersebut. Mengamati kondisi rumah-rumah penduduk yang kelihatan makmur dan terbilang lebih mapan dibanding kampung-kampung sekitarnya. Ternyata mereka tergolong bagus dalam menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumahnya. Jalan-jalan dan pekarangan rumah terlihat bersih dari sampah. Mereka terlihat begitu kompak ketika melakukan kerjabakti secara berkala. Sehingga lingkungan mereka kelihatan lebih menarik dan asri. Akan tetapi, masih ada hal-hal yang kurang tepat mereka lakukan. Mereka masih melakukan pembakaran sampah, yakni sampah kering seperti plastik, kertas, ranting dan dedaunan yang ada di sekitar rumah mereka. Mereka masih membiarkan warga lainya yang sudah terbiasa membuang sampah di sungai, shingga sunggai yang kebetulan ada di bagian belakang kampung mereka terlihat kotor penuh dengan sampah, baik sampah organik maupun unorganik. Ada pakaian bekas, pecahan kaca, potongan kayu, kaleng-kaleng bekas kemasan makanan maupun plastik-palstik beraneka macam.

Kemudian, mengapa phenomena tersebut bisa terjadi? Apa yang bisa kita lakukan untuk menjawab persoalan tersebut? Mari kita pikirkan bersama solusinya para pembaca budiman...!