Senin, 01 Maret 2010

Kerja Keras, Salah Satu Kuncinya

From zero to hero. Kalimat pendek tersebut barangkali bisa merangkum cerita panjang pergulatan Sudiyono (54) dalam mengubah nasib dirinya dan teman sesama petani lewat budidaya salak pondoh di Dusun Candi, Desa Bangunkerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Itimewa Yogyakarta.

Bapak dua anak, sekaligus kakek seorang cucu ini adalah sosok pekerja keras, entengan atau cekatan dan tulus dalam membantu orang lain, serta tidak pernah bohong. Dengan karakter yang demikian, sudah barang tentu masyarakat selalu menaruh kepercayaan dan mengikuti jalan pikirannya. Terbukti mereka yang dulunya menjadi buruhnya, kini telah menjadi petani yang sama, turut menjadi makmur. Karena beliau tidak pernah pelit memberikan ilmunya, bahkan turut memodali bekas buruhnya dengan bibit-bibit yang sama unggulnya.

Tak sedikit petani lain di daerah Turi yang menjulukinya sebagai pakar salak pondoh. Karena beliau lah yang telah berhasil menjinakan sulitnya budidaya salak pondoh, yakni dengan metode vegetatif (cangkok), dengan memanfaatkan botol plastik bekas kemasan infus. Ini merupakan terobosan jitu untuk memastikan sifat unggul salak pondoh varietas super tetap terwariskan pada bibit-bibit berikutnya. Sebelumnya metode pembiakan dengan ‘tanam biji’ juga pernah dilakukan, akan tetapi sifat-sifat istimewa tanaman tersebut tidak selalu terbawa pada generasi berikutnya. “Nah, metode cangkok dengan plastik bekas infus inilah yang bisa diandalkan untuk mendapatkan bibit turunan yang memiliki karakter seratus persen sama dengan induknya”, terang Sudiyono dengan antusias.

Menurut Beliau dan pengakuan petani lain, Kecamatan Turi awalnya merupakan kawasan pertanian padi, tembakau, jagung, dan beberapa jenis palawija lain yang kurang produktif, serta belum bisa mengubah nasib mereka yang saat itu tergolong miskin dan terbelakang. Lahan pertanian mereka yang terdiri dari tanah regosal dengan ketinggian tanah sekitar 300 meter dari permukaan laut, kurang menghasilkan keuntungan yang memadahi untuk pertanian padi, belum lagi potensi pengairan yang saat itu belum bisa menjamin kebutuhan pertanian sepanjang tahun.

Pada era sekitar 1975, Sudiyono mencoba meraba-raba, apa gerangan yang membuat petani di sekitarnya tak kunjung mampu lepas dari kubangan kemiskinan yang telah turun-temurun. Sedangkan kalau ditinjau dari lahan yang mereka miliki, hampir semua dari mereka memiliki tanah pertanian yang cukup luas. Kemudian beliau mengkaji, dengan bekal pengetahuan soal manajemen, yang didapatkan dari bangku perguruan tinggi, dihitunglah untung-rugi pertanian yang saat itu sedang dijalankan para petani. Maka ketemulah sebuah kesimpulan bahwa apa yang telah dikerjakan petani belum bisa menghasilkan panen yang bisa memberikan ‘bathi’ (keungtungan) yang mencukupi kebutuhan hidup mereka. Bahkan, bisa dikatakan cenderung ‘pak-puk’ atau impas saja. “Segitu biaya yang dikeluarkan, segitu pula hasil panen yang didapatkan” kesimpulan Sudiyono setelah melakukan ‘itung-itungan’ sederhana, mengukur tingkat ekonomis budidaya tanaman produktif saat itu. Sehingga, mereka justru merugi pada aspek waktu, tenaga, dan pikiran yang telah mereka curahkan untuk proses produksi tersebut.

Kesimpulan dari ‘penakaran’ tersebut telah mendorong Sudiyono keras memutar otak guna mencari solusi yang bisa mendedah persoalan tersebut. Setelah berbulan-bulan berfikir, akhirnya beliau bisa membaca potensi yang ada. Beliau melihat tanaman salak yang tumbuh subur di tegalan warisan orangtuanya. Kebetulan banyak jenis salak yang tumbuh alamiah di Dusun Candi tersebut. Akan tetapi hanya sedikit jenis yang memiliki keunggulan. Nah, seperti berkah yang sengaja disediakan oleh alam, di kebun warisan tersebut terdapat rumpun pohon salak yang sangat istimewa, yakni salak pondoh jenis super.

Beliau mencoba mengembangkan tanaman tersebut. Tentu saja dibutuhkan proses panjang, dan tak lepas dari bermacam kendala yang harus beliau taklukkan. Diantaranya, statusnya yang masih tergolong muda saat itu, membuatnya kesulitan dalam meyakinkan para petani di sekitarnya yang notabene para golongan tua dan sudah puluhan tahun menggeluti pertanian selain salak. Untuk alasan itu, beliau masuk dulu ke golongan pemuda. Meskipun melalui proses yang tidak gampang, akhirnya berhasil juga para pemuda diorganir untuk mengikuti langkahnya.

Ada kendala lain yang tak kalah pelik, yakni kemampuan ekonomi petani yang rendah untuk pengadaan bibit. Mereka masih miskin, tidak punya uang, tetapi sangat membutuhkan jalan keluar untuk mengubah model pertaniannya. Saat itu, harga bibit salak pondoh memang masih sangat mahal, mengingat sulit dan terbatasnya bibit yang bisa dihasilkan. “Jaman itu, sekitar tahun 1980, satu bibit salak pondoh harganya setara dengan harga 1 gram emas”, tutur Sudiyono. Sehingga, beliau menggunakan pendekatan yang ‘fleksibel’ untuk mendamaikan kepentingannya—mengembangkan komunitas dan kawasan perkebunan salak—dengan kondisi ekonomi masyarakat yang belum memungkinkan untuk membeli bibit dalam partai besar dan kontan. “Luwes saja, ada yang menukar dengan ayam, dengan tenaga mereka, juga ada yang kredit dulu. Kami juga membatasi dengan hanya memberikan lima batang bibit untuk masing-masing petani. Agar merata sebarannya,” Sudiyono mengisahkan dengan tertawa ringan. Baginya, yang tersulit adalah mengubah pola pikir rekan-rekan sesama petani untuk percaya diri beralih ke komuditas yang lebih sesuai dengan karakter tanah, cuaca, dan lebih menguntungkan secara ekonomi dan keberlanjutan ekosistem setempat. Mengingat pertanian salak pondoh lebih hemat dari sisi penggunaan air, obat-obatan dan pupuk kimiawi, karena lebih sedikit jenis hama yang bisa mengancam keberadaannya. Sehingga dari sisi kelestarian lingkungan, budidaya vegetasi perdu tersebut jauh lebih ‘green’ dibandingkan pertanian ‘padi sawah basah’ yang sebelumnya digeluti masyarakat di Dusun Candi dan sekitarnya.

Seiring dengan berkembangnya komunitas dan semakin luasnya sebaran rumpun-rumpun tanaman berduri tersebut, Sudiyono juga berusaha memformalkan kebersamaan komunitasnya, hingga lahirlah sebuah Kelompok Tani (KT) Manunggal, yang peresmiaannya diselaraskan dengan hadirnya Sri Paduka Paku Alam ke-8 mewakili Gubernur DIY, tahun 1984. “Waktu itu, meskipun masih muda saya dalam posisi sebagai KK (kepala keluarga) karena ayah saya telah meninggal. Sehingga setiap pertemuan RT, saya yang mewakili. Nah, forum RT itu lah yang saya manfaatkan untuk merintis terbentuknya KT Manunggal,” kisah Sudiyono menyangkut organisasi kebanggaannya.

Berdirinya KT Manunggal direspon secara positif oleh Pemerintah Desa dan pihak Kabupaten lewat Dinas Pertaniannya, sehingga datanglah secara berkala Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) ke Dusun Candi dan dusun lain Desa Bangunkerto, guna turut memberikan bantuan teknis dalam pengembangan budidaya tanaman perdu tersebut. Menindaklanjuti hubungan harmonis yang berhasil terbangun, pada akhirnya Dinas Pertanian juga memberikan bantuan uang untuk pengadaan bibit kepada kelompok tani tersebut.

Perhatian yang semakin baik dari pemerintah turut memacu kegigihan Sudiyono untuk menggerakkan kelompoknya, mewujudkan mimpinya lepas dari belenggu kemiskinan menahun. Masa pengembangan yang telah berlangsung sekitar sepuluh tahun (1980-1990) terlewati sudah. Kerja keras mereka semakin nyata hasilnya. Perlahan tapi pasti keuntungan perkebunan mereka mulai mendongkrak kekuatan ekonominya. Perluasan lahan pun terus diupayakan. Tenaga kerja dalam jumlah besar mulai dibutuhkan. Desa lain mulai ikut berperan dalam menyediakan kebutuhan tersebut. Tak kurang seribu buruh dari desa sekitar didatangkan, terutama dari Desa Kali Angkrik. Percepatan perluasan perkebunan terus terjadi. Hampir seluruh dusun dan kampung dikonversi menjadi perkebunan salak pondoh. Tercatat dari 703 hectar wilayah pertanian Desa Bangunkerto, hanya 20% saja yang tidak ditanami tanaman berduri tersebut.

Desa-desa dan kecamatan lain, mulai dari Turi, Tempel, Pakem, daerah Sleman Utara hingga Magelang, pada gilirannya juga turut mengekor, terjun ke pertanian agrobisnis salak pondoh. Bahkan, kini ada beberapa daerah lain di Jawa, termasuk daerah-daerah tertentu di luar Jawa mulai merintis budidaya komuditas serupa beberapa tahun terakhir ini. Seperti, Banjarnegara, Bogor, Tasikmalaya, Aceh, dst. Konon, Thailand dan Malaysia juga mulai melirik untuk mengembangkan agrobisnis dengan varietas salak yang sama.

Kemajuan dan perubahan luar biasa tersebut telah membawa Sudiyono populer. Banyak kelompok tani dari tempat lain datang dan menimba pengalaman darinya. Tak ketinggalan, para tokoh penting negeri ini, dan beberapa orang asing terhormat, juga pernah bertandang ke rumahnya. Diantaranya, Menteri Negera Kependudukan Haryono Suyono, Menteri Penerangan masa Orde Baru Harmoko, Menteri Sosial Belanda (1993), Menteri dalam Negeri Rudini, Irjen Pembangunan, dan masih banyak lagi, termasuk para wisatawan manca negara yang ingin sekedar berlibur di Dusun Candi.

Belakangan harga salak pondoh di pasaran mulai menurun. Panen dua kali setahun dan skala produksi yang melimpah, serta kejenuhan pasar lokal dan nasional, disinyalir menjadi penyebab merosotnya nilai ekonomi buah asli Indonesia tersebut. Kecenderungan kurang menggembirakan tersebut telah mendorong Sudiyono untuk memikirkan alternatif jawaban untuk menyapa persoalan baru tersebut. Dengan moto, “Apa yang saya kerjakan saat ini, adalah untuk rezeki saya lima atau sepuluh tahun ke depan”, beliau mulai merintis upaya diversifikasi sumber penghidupannya. Menanam tanaman keras jenis sengon di sela-sela lahan salak yang masih kosong (atau sistem tumpangsari), seperti di tanggul-tanggul tepi kebun, perengan (lereng) pinggiran sungai, dan lahan lain yang belum tersita oleh rumpun-rumpun tanaman salak. “Sambil untuk konservasi lingkungan, Mas”, dalih mulia yang terucap spontan penuh keyakinan.

Cara pandang Sudiyono cukup rasional sekaligus jitu. Beliau sudah mempersiapkan ‘bumper’ bilamana suatu saat nanti komoditi salak benar-benar sudah tidak menghasilkan ‘legit’ kemakmuran lagi, beliau sudah punya tumpuan penyangga ekonomi, yang bisa diandalkan dan memungkinkan lancarnya proses transisi menuju komoditi alternatif lain.

Sebenarnya tidak itu saja, kelompok taninya juga mulai mengupayakan diversifikasi barang dagangan, dengan mengolah salak menjadi produk olahan baru seperti sirup, selai, jenang (dodol), kripik, dan manisan salak, yang ternyata juga laku keras dan bisa memberikan alternatif penghasilan.

Upaya untuk menjajaki export ke luar negeri juga tak lepas dari upaya mereka, akan tetapi standar baku mutu yang ketat yang ditetapkan oleh importir dan negara tujuan telah mengendurkan upaya mereka. Belum lagi batas volume minimal yang disyaratkan, membuat mereka pesimis untuk bisa memenuhi. Akhirnya, peluang tersebut telah diambil oleh pengusaha lain yang memiliki kapasitas dan jaringan yang lebih luas.

Kini Sudiyono terus bergerak maju, berkendara KT Manunggal, bekerja keras men-diversifikasi produk pertaniaanya seraya mengembangkan cara bertani yang lebih ‘green’. Tak terduga, beliau juga sudah kenal dengan isu-isu lingkuangan terkini. “Sekarang saatnya bertindak Mas, sudah cukup ngomongnya. Saya sudah menanam sengon dan tanaman cepat tumbuh lain. Melu-melu penghijauan untuk mengatasi pemanasan global”, pungkasnya dengan tertawa lebar.***
Note: Tulisan ini, hasil wawancara dengan Sudiyono, tokoh petani pelopor, pemberdayaan masyarakat miskin.

Minggu, 17 Januari 2010

Kalau Begitu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Kini musim hujan telah tiba. Tentu saja, banyak pihak yang merasa lega, karena kebutuhannya akan air semakin terpenuhi. Terutama para petani dan peternak yang memanfaatkan air sebagai penopang utama usahanya. Namun demikian, ada sebagian kelompok masyarakat yang justeru semakin was-was. Terutama mereka yang ‘langganan’ disamperi banjir ketika musim basah tersebut datang.

Mereka yang sering didera banjir tentunya sudah belajar dari pengalaman sebelumnya dan berusaha mempersiapkan diri untuk menghadapi persoalan musiman tersebut. Terutama pemerintah setempat, melalui institusi terkait, semestinya sudah siap siaga dan melakukan langkah yang diperlukan, jauh-jauh hari sebelum musim ‘becek’ datang kembali.

Kenyataanya, tidak seperti yang kita asumsikan. Perilaku masyarakat kita tidak banyak berubah. Celakanya, pemerintah juga tidak (belum) melakukan tindakan mitigasi dan pencegahan yang berarti. Tetap saja banjir datang dan datang lagi seiring semakin tingginya curah hujan. Bahkan kecenderungannya semakin besar dan buruk dampaknya. Apa yang salah dengan masyarakat kita, sehingga mereka tidak cepat belajar dan mampu mengatasi persoalan yang sudah jelas kapan datang dan apa sebabnya?

Seperti para pembaca juga sering lihat, diman-mana sering terlihat sampah berserakan dan menumpuh, bahkan terkadang menyumbat drainase umum. Baik sampah organik maupun unorganik. Terutama di tempat-tempat yang agak jauh dari pemukiman, seperti di tepi-tepi jalan dan selokan di persawahan. Namun demikian situasi yang hampir serupa juga mudah ditemukan di tempat-tempat yang notabene dekat pemukiman akan tetapi tidak atau kurang terlihat oleh pandangan mata umum, seperti halaman belakang rumah, sungai dan selokan di pemukiman. Kok begitu? Sepertinya masyarakat kita memang belum sepernuhnya civilized, dan mungkin memang belum punya kesadaran yang memadahi sehingga bisa berubah perilakunya, terutama dalam memperlakukan sampah-sampahnya dengan benar.

Berikut penulis akan berbagi beberapa pengalaman yang ‘janggal’ dan tak terlupakan. Kisah-kisah tersebut mungkin akan membuat pembaca geleng-geleng kepala setelah membacanya.

Suatu kali penulis berhenti, ketika lampu merah menyala di perempatan Selokan Mataran, Yogyakarta. Di depan sebelah kanan penulis berhenti juga sebuah sedan mewan warna hitam mengkilat, seperti keluaran terbaru, yang dikendarai sekelompok remaja belasan tahun. Mendadak kaca jendela kiri depan sendan tersebut perlahan turun dan terbuka setengah bagian, seketika dentuman musik hip-hop menyeruak keluar menerpa semua telinga pengguna jalan yang sedang berhenti menunggu munculnya nyala lampu hijau di perempatan dekat kampun UGM tersebut. Kemudia sebuah adegan menjengkelkan terjadi. Dari dalam kabin depan sedan tersebut, menjulur pendek sebuah tangan yang mengepal kemudian ‘byak’ terbuka cepat jari-jemarinya, dan terlemparlah segengam sampah dari dalam mobil tersebut. Sungguh menjengkelkan! Saya hanya bisa menggelengkan kepala, sementara sebagian pengguna jalan yang lain terlihat hanya menampakkan expresi wajah masam, seperti sedang kecewa.

Pernah juga suatu sore ketika sedang jogging di sebuah jalan di tengah persawahan, secara kebetulan penulis memergoki seorang ibu-ibu mendadak menghentikan motornya, turun, dan melemparkan sesuatu yang besar ke selokan, yang kering kerotang. Begitu saja, kemudian pergi ngacir dan hilang ditelan tikungan sebuah perumahan baru dekat persawahan tersebut. Karena penasaran, penulis mencoba melongok ke selokan dangkal tampa air tersebut. Dan betapa terkejutnya ketika penulis melihat sebuah buntalan plastik besar transparan berisi bekas pembalut wanita. Banyak sekali, mungkin bisa lusinan. Betapa sangat memprihatinkan! Siapapun yang melihat adegan tersebut pasti tak kuasa menahan amarah, dan langsung mengeluarkan kata-kata hujatan. Kok bisa hal seperti itu dilakukan oleh seorang ibu, yang tinggal di perumahan, naik sepeda motor, dan kelihatan seperti orang sekolahan.

Bulan Agustus 2009, ketika penulis baru saja pindah kontrakan ke tempat yang baru, di sebuah pedukuhan di Kecamatan Ngaglik, Sleman. Penulis menyempatkan diri melihat-lihat lingkungan baru tersebut. Mengamati kondisi rumah-rumah penduduk yang kelihatan makmur dan terbilang lebih mapan dibanding kampung-kampung sekitarnya. Ternyata mereka tergolong bagus dalam menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumahnya. Jalan-jalan dan pekarangan rumah terlihat bersih dari sampah. Mereka terlihat begitu kompak ketika melakukan kerjabakti secara berkala. Sehingga lingkungan mereka kelihatan lebih menarik dan asri. Akan tetapi, masih ada hal-hal yang kurang tepat mereka lakukan. Mereka masih melakukan pembakaran sampah, yakni sampah kering seperti plastik, kertas, ranting dan dedaunan yang ada di sekitar rumah mereka. Mereka masih membiarkan warga lainya yang sudah terbiasa membuang sampah di sungai, shingga sunggai yang kebetulan ada di bagian belakang kampung mereka terlihat kotor penuh dengan sampah, baik sampah organik maupun unorganik. Ada pakaian bekas, pecahan kaca, potongan kayu, kaleng-kaleng bekas kemasan makanan maupun plastik-palstik beraneka macam.

Kemudian, mengapa phenomena tersebut bisa terjadi? Apa yang bisa kita lakukan untuk menjawab persoalan tersebut? Mari kita pikirkan bersama solusinya para pembaca budiman...!

Senin, 11 Januari 2010

Pak Paiman, Petani Utun yang ‘Green’


“Apa yang ada di depan saya, itu guru besar saya”, demikian Pak Paiman (70) mengawali kisah pergulatannya sebagai petani ‘utun’ (tulen) yang berpandangan maju. Dia telah merintis berdiri dan bekerjanya Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) di lereng Barat Gunung Lawu. Tepatnya di Desa Pereng, Kecamatan Mojogedang, Karang Anyar, Jateng, Pak Paiman mengoragisir kelompoknya, Rukun Makaryo, memimpin P3A sebagai lembaga yang turut menopang keberlangsungan usaha tani mereka.

Jebolan Sekolah Rakyat (SR) kelas-6 ini telah menggeluti dunia pertanian sejak 1950. Belajar secara otodidak soal tanah, pertanian dan tanaman, dengan cara ‘niteni’ apa yang dilihat dan dikerjakan sehari-hari, Pak Paiman telah menjadi teladan dan mampu meggerakkan komunitasnya untuk mandiri, mengatasi berbagai persoalan yang diahapi, meskipun pada awalnya sempat dicemooh banyak orang karena terobosannya dianggap ngoyo woro.

Tahun 1997, P3A Dharma Tirta “Sumber Mulyo” dibentuk, guna mengatur distribusi air sungai yang mengalir melintasi sebagian kawasan Karang Anyar untuk menjamin lancarnya pengairan lahan pertanian beberapa desa di Mojogedang. Organisinya terbilang sukses, dan pernah meraih juara I lomba P3A tingkat propinsi Jateng tahun 2008.

Inisiatif utuk memajukan komunitasnya terus dilakukan. Pada tahun 2005, sebuah koperasi kelompok tani “KKT-Tani Makaryo” mereka dirikan. Harapanya, organisasi ekonomi sosial tersebut bisa mengatasi keterbatasan petani akan permodalan dan menjamin pemasaran produk pertaniannya.

Pak Paiman juga terbukti cerdik dalam memanfaatkan potensi komunitasnya, beliau berhasil memanfaatkan modal social ‘gotong-royong’ untuk menggerakkan para petani guna mengatasi persoalan yang sedang dihadapi.Suwe mijet wohing mranti. Itu mudah sekali, asalkan mau bergotong-royong, semua bisa diselesaikan bersama,” pukasnya ketika ditanya bagaimana cara mengatasi persoalan yang dihadapi. Misalnya, membangun saluran irigasi yang seharusnya menjadi kewajiban pemerintah.

Ketika ditanya perihal sumber keuangan organisasi, Uang Kas-nya ya tenaga kerja sekitar 500 orang itu,” tegas Pak Paiman. Sedangkan untuk mencukupi kebutuhan opersional kantor KT, yang telah menyita setengah dari luas rumah-nya sendiri, beliau cukupi sendiri. Termasuk biaya penerbitan dua judul buku karya monumentalnya, dan brosur-brosur tentang aktivitas organisasinya, juga dari merogoh koceknya sendiri. Produk ilmiah tersebut, akhirnya juga habis dibagikan gratis kepada berbagai pihak yang kebetulan telah bertemu dengan beliau. Menurutnya secara total bukunya sudah terdistribusi paling tidak 5.500 eksemplar.

Kerusakan lingkungan akibat aplikasi pupuk kimia dan obat pertanian juga tak luput dari perhatiannya. Mulai tahun 2006 beliau mengajak teman-temannya beralih ke sistem pertanian organik. Menolak penggunaan pestisida dan herbisida kimia. Menciptakan pestisida dan fungisida nabati (organik), juga menggunakan pupuk kandang dan kompos untuk menggantikan pupuk kimia. Beras organik pun berhasil mereka produksi, dikemas dengan label khusus, dan dipasarkan dengan harga yang terjangkau.

Pak Paiman juga telah menularkan inovasinya kepada kelompok tani lain. Pelatihan-pelatihan bidang pertanian telah ditawarkan dan digelar. Sertifikat tanda lulus juga diberikan kepada setiap peserta. Itulah kenapa, beliau semakin populer, semakin sering diundang banyak kalangan untuk menjadi pembicara, di universitas dan pergutuan tinggi, serta pertemuan-pertemuan yang mengulas masalah pertanian, di berbagai wilayah Indonesia. “Hanya ke Papua, saya belum pernah diundang,” kisahnya dengan senyum penuh kerendahan hati.

Semangat kemandirian yang dikibarkan Pak Paiman dan kelompoknya telah berhasil menjawab kegagalan pemerintah dalam meningkatkan kehidupan petani kecil.

Kamis, 07 Januari 2010

Mitigasi Sekaligus Konservasi Vegetasi

Kini musim angin ribut datang kembali. Angin kencang yang dalam istilah lokal disebut lessus atau putting beliung, mulai sering melanda beberapa wilayah di Indonesia. Beberapa contoh terkini adalah yang terjadi pada hari Selasa 5 Januari 2010, di Ds. Jomblang, Kec. Takeran, Madiun; Ds. Kerang, Magetan; Ds. Manisrejo, Taman, Kota Madiun, Jawa Timur; dan beberpa desa di Kecamatan Sambong, Blora, Jawa Tengah. Angin musiman tersebut telah menyebabkan puluhan rumah rusak dan banyak pohon besar yang tumbang. Beberap orang juga telah mengalami luka ringan akibat terjangan angin yang membabi buta tersebut (Kompas, 6/1/2010).

Beberapa surat kabar harian nasional terbitan Kamis 7/1/2010 juga menampilkan headlines perihal amukan puting beliung yang menyapu sebagian pulau Jawa dan Bali. Ini semakin menegaskan pentingnya tindakan antisipasi untuk kepentingan mitigasi guna meringankan dampak kerusakan, mengurangi kerugian material, dan mencegah jatuhnya korban jiwa. Salah satunya dengan mengadakan pemangkasan beberapa pohon besar yang ada di dekat pemukiman penduduk. Terutama yang ada di pinggir jalan-jalan besar daerah pemukiman yang padat penduduk seperti di pusat busines perkotaan.

Pemangkasan, bukan penebangan total. Sehingga tidak menghilangkan atau merusak vegetasi yang telah berumur puluhan tahun dan memang sangat diperlukan keberadaannya untuk menopang produksi oksigen dan menyerap polutan udara yang semakin mengusik kenyamanan kehidupan perkotaan dan menggigit kondisi kesehatan masyarakat kebanyakan. Dengan hanya dipangkas, harapannya, vegetasi utamanya tetap hidup sehingga dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama pohon-pohon tersebut akan bersemi dan berkembang kembali memberikan penlindungan kepada masyarakat secara ekologi dan kenyamanan dalam kehidupan sehari-hari.

Tujuan utama pemangkasan adalah untuk mengurangi resiko tumbang dan menimpa bangunan serta menimbulkan kerugian materi dan jiwa penduduk di sekitarnya. Untuk itu perlu pula menghimbau masyarakat untuk selalu waspada, dan memangkas sendiri cabang-cabang pohon besar yang ada di lahannya. Harapannya mereka tetap merawatnya agar populasi vegetasi di lingkungannya tidak berkurang secara signifikan, tatapi justeru ditambah dan dikembangkan demi meningkatkan kwalitas udara dan konservasi lingkungan.

Badan Lingkungan Hidup (BLH) masing-masing daerah harus melakukan pemantauan dan bila perlu pamangkasan terhadap pohon-pohon besar yang ada di ruang publik, di tepi jalan, dekat pasar, pertokoan, pusat-pusat konsentrasi masyarakat, dsb. sehingga bisa mengurangi resiko-resiko yang tidak kita harapkan. Pengetahuan mereka akan konservasi lingkungan dan vegatasi menjadi prasarat untuk menjamin terpeliharanya pohon-pohon tersebut sebagai bagian dari paru-paru kota yang akan menjamin tersediannya supply oksigen untuk daerah masing-masing.

Perlu juga ditumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya penanaman pohon baru di pekarangan masing-masing guna meningkatkan populasi vegetasi yang ada di masing-masing wilayah. Sehingga terjadi konservasi mandiri secara masal yang dilakukan dan dikelola oleh masyarakat sendiri. Masyarakat perlu ditingkatkan pengetahuan dan kesadarannya tentang bagaimana mengurangi resiko bila lessus tersebut terjadi, sekaligus didorong dan difasilitasi (dengan menyediakan bibit gratis misalnya) untuk ambil bagian dalam gerakan masal meningkatkan kwalitas udara dan lingkungan hidup dengan penghijauan yang dimulai sejak dini dan dari masing-masing keluarga. Karena keberadaan vegetasi di permukiman pada ketinggian dan jarak tertentu justeru bisa melindungi mereka dari terpaan angin ribut. Sehingga program bersama untuk melakukan konservasi lingkungan hidup bisa dilakukan secara masal, serentak, dan efektif. Perlu diyakinkan pada mereka bahwa gerakan tersebut untuk dirinya sendiri dan lingkungan, yang pada akhirnya untuk seluruh masyarakat dan kelestarian planet bumi.

PLH juga harus siap sedia dan memberikan bantuannya bila masyarakat ingin dibantu dalam memangkas vegetasi yang ada di lahan pekarangannya, sehingga terjadi kerjasama yang sinergis. Mengingat tidak semua masyarakat bisa menangani persoalan seperti itu, selain tidak memiliki alat berat yang bisa memudahkan proses pemangkasan, mereka juga sering kesulitan dalam mengatur pemankasan, karena keterbatasan pegetahuan mereka. Terutama untuk bagian yang kebetulan dekat dengan jaringan listrik dan instalasi kable telepon. Juga untuk keluarga-keluarga yang sudah manula dan janda yang secara fisik mengalami keterbatasan untuk melakukan sendiri pemangkasan. Mengingat urgensi tindakan yang diperlukan.