Senin, 04 Januari 2010

Kisah Lokal Degradasi Lingkungan

Terekam dengan baik di benak pemulis, masa kecil tinggal di desa. Adalah Desa Gunungsari, Kecamanatan Nglames, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Sekitar tahun 1977 hingga 1985, dimana-mana mudah ditemukan pohon-pohon besar menjulang tinggi nan rimbun mengayomi. Ada pohon trembesi, dadap, jati, juwar, asem, randu, tekik, kelapa, rumpun bambu, dan masih banyak lagi jenis vegetasi lokal yang cenderung meninggi membelah angkasa. Juga kubangan air jernih yang hanpir ada sepanjang tahun, tanda keseimbangan alam yang masih terjaga. Di mana ada air disitu selalu ditemukan ikan dan binatang air lain. Begitu banyak ikan, sehingga sangat mudah ditangkap, dibawa pulang untuk lauk-pauk.


Setiap musim panen padi tiba, anak-anak selalu menyambutnya dengan gembira, karena setelah padi selesai dipanen, dibabat batangnya, anak-anak bisa bermain sambil mencari ikan dan burung di persawahan. Di setiap kubangan yang terpencar di persawahan tersebut ikan mudah ditemukan, dan menjadi bahan rebutan bagi anak-anak. Selain ikan, terutama ketika panen menjelang berakhir, anak-anak bisa berburu burung sawah yang terkonsentrasi pada sisa terakhir tanaman padi yang belum dipanen. Biasanya ada burung itik-itikan, tikusan, suri bombok, gemak, bubud, dan cenggeran. Ada beberapa jenis dari mereka yang tidak bisa terbang jauh. Mereka hanya bisa lari dan terbang ‘empreh’ atau rendah dengan jarak tempuh beberapa puluh meter saja, selebihnya lari cepat ke sela-sela rumput dan sisa bekas padi yang telah dipanen. Sehingga mudah dikejar dan ditangkap anak-anak. Nah, karena padi sudah tinggal sedikit burung-burung tersebut menjadi sasaran perburuan anak-anak.


Situasi tak kalah eksotis juga terekam ketika penulis berkunjung di rumah nenek. Beliau masih memelihara kerbau beberapa pasang, yang dibuatkan kandang terbuka dari bambu di bagian belakang rumah. Burung pemburu serangga seperti burung sikatan, jalak udet dan uren masih sering terlihat berkeliaran, sesekali menyambar sambil berkicau, dan bertengger di punggung kerbau untuk berburu kutu, lalat dan pethak (sejenis lalat besar penghisab darah ternak) yang menjadi parasit pada tubuh ternak. Bahkan ketika hari sehabis hujan, di tanah kosong sekitar kandang ternak, banyak sekali cacing keluar dari tanah, dan burung-burung jalak, dengkek urang dan jenis lain pada turun ke tanah untuk berburu cacing yang keluar dari tanah, karena tergenangi air hujan.


Saat ini situasi alamiah yang eksotis itu sangat mustahil ditemukan kembali. Jangankan aktivitas burung yang tergambar di atas, yang kelihatan begitu akrab dengan kehidupan orang desa, kelebatan bayangan dan kicauannya sepertinya sudah sangat langka terdengar. Semua seperti sudah pergi entah kemana, barang kali telah punah.


Dulu ketika penulis mengikuti orang-tua mengantarkan makan siang untuk orang yang dipekerjakan membajak sawah, penulis gembira sekali melihat burung-burung sawah yang tergolong besar-besar, seperti bangau thong-thong, blekok hitam dan putih, cangak ulo, kuntul pendek, juga jalak-jalakan, yang ramai-ramai mengerubuti penggalan tanah yang telah menyibak terbajak di belakang tukang bajak. Burung-burung tersebut saling berebut cacing dan belut atau ikan kecil yang turut tersibak bersama tanah yang telah diluku—diolah dengan bajak. Sungguh sebuah pemandangan yang elok, tapi lumrah terlihat pada setiap musim pengolahan lahan persawahan basah saat itu.


Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar dan lanjutan, setelah belajar malam, sekitar jam 20:30, penulis sering mengikuti ayah atau kakaknya pergi ke sawah untuk menyuluh, mencari binatang sawah dengan penerangan lampu petromak. Manakala tanaman padi mulai selesai dipanen, air yang ada di persawahan mulai surut, tinggal beberapa senti saja dari dasar sawah, sehingga kegitan menyenangkan tersebut jadi mudah dilakukan.


Biasanya kami memburu belut, ikan, burung sawah, dan katak hijau di lahan persawahan dan selokan-selokan kecil yang ada di persawahan. Hasilnya juga selalu banyak, tidak pernah pulang dengan tangan hampa, kecuali di hari setelah hujan. Karena air sawah jadi keruh sehingga belut dan ikan tidak mudah terlihat seperti biasanya. Akan tetapi, kalau kami nekat pergi, biasaya bisa menemukan katak dan kadang-kadang beberapa jenis burung sawah. Untuk ikan, biasanya kami menyusuri jalan-jalan besar di dekat persawahan, karena sering ditemukan ikan terdampar di jalan-jalan dekat persawahan. Ikan-ikan tertentu, kalau malam hari sering melompat ke daratan utuk pindah ke bagian sawah atau empang lain. Nah pada situasi yang demikian, ikan yang sering ditemukan adalah jenis lele lokal dan ikan gabus. Mereka biasa melompat ke daratan untuk mencari lokasi perairan lain di seberang jalan. Sungguh pengalaman yang unik tak terlupakan.


Kini realitasnya telah berubah total. Sulit sekali ditemukan pepohonan rimbun menjulang tinggi mengayomi lahan subur dan genangan air di bawahnya. Vegetasi pelindung alami itu juga telah habis tergerus perkembangan perumahan. Listrik masuk desa, pohon-pohon besar di sepanjang jalan harus ditebang guna mudahnya instalasi jaringan listrik masuk.


Desa tersebut kini telah padat perumahan. Rumpun-rumpun bambu yang dulu mengelilingi desa untuk melindungi pemukiman dari terpaan angin lesus (angin ribut) kini juga telah habis tinggal beberpa rumpun saja, sangat sedikit. Kesegaran udara berubah menjadi angin kering yang panas dampak minimnya vegetasi. Kebun-kebun yang dulu selalu dikelilingi dan dipagari dengan tanaman lebat kini telah beralih menjadi sawah yang diluaskan sehingga bertanggul kecil yang tidak lagi bisa ditanami tanaman besar yang rimbun. Blumbang-blumbang (kolam air) juga tidak banyak lagi, ada yang tersisa tapi kering tanpa air. Kalau musim hujan tiba, ada airnya tapi tidak lagi ‘hidup’, terlihat hambar tanpa riak khas yang menandakan adanya ekosistem air yang sehat di dalamnya. Tidak ada lagi ikan atau belut yang bisa ditangkap. Katak hijau yang gemuk, burung cengeran, tikusan, suri bombok, gemak, dst. juga sudah tak terlihat lagi. Perubahan siknifikan telah terjadi dan menurunkan kwalitas lingkungan.


Kenyataan buruk tersebut mulai kentara ketika para petani mulai menggunakan pestisida, obat-obatan dan pupuk kimia untuk pertanian. Orang mencari ikan tidak lagi menggunakan jala dan pancing. Mereka mulai menggunakan apotas, teodan (sejenis pestisida) dan strum listrik, berburu ikan dan belut di sungai-sungai dan blumbang. Kekurangtahuan dan ketakpedulian mereka membuatnya tergoda untuk mengejar kemudahan dan cara instan. Sehingga ekosistem air menjadi teracuni dan rusak. Keberlanjuntan sumber penghidupan mereka-pun turut terkikis oleh aplikasi bahan kimia yang menghancurkan tersebut. Kini semua telah terlanjur, degradasi lingkungan telah demikian nyata, siapa yang harus bertanggunjawab dan apa yang harus dilakukan?

17 komentar:

  1. baca tulisannya jadi pengen pulang ke masa kecil...
    kita sendiri saat ini jarang banget bisa menemukan apa yang seperti ditulis diatas, bagaimana dengan anak kita? tinggal gambar di buku dan cerita sajakah?

    BalasHapus
  2. memprihatinkan ya.Nice sharing sis.

    BalasHapus
  3. assalamualikum..
    sy jdi teringat masa di desa dulu, ketika menunggui panen tiba, mengusir burung pipit dengan orang-orangan sawah, menangkap lele di parit-parit kecil dengan tangan kosong..ahh.
    tinggal kenangan mas
    zaman berubah cepat..
    salam

    BalasHapus
  4. andaikan.....(tapi nggak mungkin ya....) bisa kembali ke masa kecil dulu

    BalasHapus
  5. yup, kehidupan banyak berubah. suasana pedesaan yang asri semakin langka.
    bagaimana nasib generasi di bawah kita ya?

    BalasHapus
  6. jadi inget masa kecil, di desa pas waktu hujan g paki celana ngejar belalang.huwaaaaaaaaaaaa

    salam kenal yah

    BalasHapus
  7. HE HE HE TAHUN SEGITU SAYA MASIH DALAM BENTUK ROH DI SURGA, BELUM DIKIRIMKAN TUHAN KE BUMI.

    SAYANG SEKALI LINGKUNGAN SEKITAR KITA SEMAKIN TERDEGRADASI KAREN KURANGNYA KESADARAN DAN PENGETAHUAN KITA SOAL ISU LINGKUNGAN. SEHINGGA APA YANG KITA LAKUKAN CENDERUNG MEMPERBURUK SITUASI TERSEBUT. SEPERTI MEMBUANG SAMPAH SEMBARANGAN, MEMBAKAR SAMPAH, BOROS AIR DAN BAHAN BAKAR, MENGKONSUMSI BARANG-BARANG IMPORT SEHIGGA BOROS BIAYA TRANSPORTASI, TIDAK MEMBELI PRODUK LOKAL, TIDAK SEHAT DALAM BERPERILAKU SEHARI-HARI DST...

    MEMANG BUTUH KOMITMEN YANG NYATA DAN TEGAS UNTUK MEMPERBAIKI LINGKUNGAN, PALING TIDAK MENGURANGI ATAU MEMPERLAMBAT PROSES KEMEROSOTAN TERSEBUT.

    TRIMS ATAS SHARING ARTIKEL MENARIKNYA.

    BalasHapus
  8. hallo .

    wah mantap artikelnya

    visit back and koment ya :D

    -free software-

    BalasHapus
  9. Mereka yang telah menebang dan membumihanguskan pohon2 itu lupa kalau harus menanam kembali pohon yang baru sebagai gantinya, maka terjadilah defisit pohon seperti sekarang ini...

    BalasHapus
  10. ~narti, ISHALIFE-LINE, AISHALIFE-LINE, Arif Bukan Kyai, an4k`SinGKonG; Trims juga!
    ~Elsa: Perihal lingkungan, nasib mereka tergantung pada apa yang kita lakukan mulai sekarang Mbak Elsa, he he he ...
    ~Neng Rara: Iya, jaman berubah begitu cepat, sayang terlalu banyak yang dikorbankan...kalau melihat Hongkong secara dekat, 50% wilayahnya, digunakan untuk konservasi lingkungan, sehingga pohon-pohon tinggi bisa berdampingan dengan hutan bethon yang menjulang, hutan kota dipertahankan dan dimaksimalkan, sehingga suppy O2 tetap seimbang...katane seh!
    ~hari Lazuardi: Betul Mas, kita pada lupa soal kearifan lokal yang telah dicontohkan oleh para pendahulu, bahwa kalau kita mengambil pohon dari alam kita harus menukarnya dengan yang baru, dengan menanamkan bibitnya, yang kelak bisa diwariskan pada generasi berikutnya, karena yang kita ambil juga bagian dari hak generasi berikutnya...kita hanya pinjam saja.

    BalasHapus
  11. Kalo inget alam, semua orang rindu masa silam. Kapan bisa kembali seperti dulu lagi.

    BalasHapus
  12. Langkah n sulit dilestarikan, hutan lindungpun di sulap jadi gedung, sungai di timbun jadi perumahan

    BalasHapus
  13. Keprihatinanmu, keprihatinan kita semua. Untuk melindungi satwa liar, mengapa pemerintah juga tidak menindak tegas para pemburu. Berbagai burung kini telah punah. Dan anak cucu kita nanti tentu tidak akan tau seperti apa burung jalak, sikatan, kacer, pelatuk bawang, decu, manyar, dan sebagainya. Padahal, satwa liar tersebut diciptakan Tuhan untuk keseimbangan lingkungan. Manusia memang predator kejam.

    BalasHapus
  14. Sorry, boss. artikelmu ngenani Pertanian Organik dak jupuk dak prin kanggo bahan siaran pedesaan. Aku saiki ngayahi siaran pedesaan, wis ora klayapan kulak warta maneh. Saiki neng Karang Padesan sing ayem tentrem.

    BalasHapus
  15. Monggo Bung Haryo Legowo, silahkan, dan terimaksih atas apresiasinya!

    BalasHapus
  16. Ya allah, sampe nangis bacanya,
    dimana masa kecilku dulu yang sangat indah begitu cepat berubah.
    Rindu Almarhum kakek yang mengajakku bermain digubuknya yang asri.
    Bagaimana caranya agar bisa mendapatkan itu kembali?

    BalasHapus
  17. Kangen rumah kakek dan budeku yang indah,
    setiap pagi mendengar suara burung peliharaan yang membuatku tenang,
    air dari kolam membuatku merasa nyaman,
    pelihara ayam kampung untuk sekedar hiburan dipagi dan sore hari
    dan sesekali pergi ke sawah bermain layang layang.
    Udaranya sejuk,damai,indah tidak bisa diungkapkan dengan kata kata.

    Masa masa terindah dalam hidupku

    BalasHapus